Bersumpah Atas Nama Allah, Menteri PU Dody Hanggodo Bantah Terlibat Doxing Dosen UGM

oleh -8 Dilihat
Bersumpah Atas Nama Allah, Menteri PU Dody Hanggodo Bantah Terlibat Doxing Dosen UGM

KabarDermayu.com – Menteri Pekerjaan Umum (PU), Dody Hanggodo, memberikan klarifikasi tegas terkait tuduhan yang mengaitkan dirinya dengan aksi perundungan digital atau doxing yang menimpa seorang akademisi.

Dody Hanggodo secara resmi membantah keterlibatannya dalam penyebaran data pribadi milik dosen Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada (UGM), Nabiyla Risfa Izzati, di dunia maya tanpa izin.

Perlu diketahui, Nabiyla Risfa Izzati sebelumnya dikabarkan menjadi sasaran perundungan digital setelah melontarkan kritik tajam terhadap polemik surat perjalanan dinas keluarga Menteri PU ke Amerika Serikat.

Selain masalah perjalanan dinas tersebut, Nabiyla juga menyoroti isu dugaan mutasi aparatur sipil negara (ASN) yang terjadi di lingkungan Kementerian Pekerjaan Umum, yang kemudian memicu reaksi di media sosial.

Menanggapi tuduhan tersebut, Dody Hanggodo memberikan pernyataan saat ditemui oleh awak media di Kompleks Istana Kepresidenan pada Senin, 20 Juli 2026.

Dody menegaskan bahwa dirinya bahkan tidak memiliki kebiasaan aktif di media sosial, sehingga tuduhan mengenai keterlibatannya dalam aksi doxing sangat tidak berdasar.

“Saya ini lho, pegang media sosial, tidak. Bagaimana saya, tahu doxing ini dari mbak yang menjelaskan. Tidak mengerti saya hal-hal seperti itu. Saya tidak pernah berkomentar apa pun, kan tidak. Saya bukan pegiat media sosial,” tegas Dody.

Lebih lanjut, ia mengakui bahwa istilah doxing merupakan kosakata yang sangat asing baginya dan baru pertama kali ia dengar dalam konteks polemik ini.

Dody kembali menekankan bahwa dirinya sama sekali tidak mengetahui, apalagi terlibat dalam upaya penyebaran data pribadi seseorang yang belakangan ini ramai diperbincangkan publik.

Untuk meyakinkan publik atas pernyataannya, Menteri PU tersebut bahkan sampai bersumpah dengan menyebut nama Tuhan.

Doxing ini kosakata baru bagi saya. Tidak, Pak, saya tidak. Demi Allah, demi Rasulullah, saya itu. Saya bilang saya masih Muslim, kan. Terus saya bilang demi Rasulullah, saya bawa, kan. Tidak mungkinlah. Ya, tidaklah,” ucapnya dengan nada serius.

Di sisi lain, Dody menyatakan bahwa dirinya adalah sosok yang sangat terbuka terhadap kritik yang disampaikan oleh masyarakat melalui berbagai kanal media sosial.

Ia memandang bahwa setiap masukan, baik itu kritik terhadap kebijakan kementerian maupun gaya kepemimpinannya, merupakan hal yang positif bagi evaluasi kinerjanya ke depan.

“Tidak, tidak ada masalah. Kritik itu kan bagus. Kritik itu bagus. Membuat saya lebih bisa membagi diri sendiri lagi ke depannya. Tidak, tidak ada. Tidak ada masalah,” tambahnya.

Saat disinggung mengenai penilaian publik yang menyebut gaya komunikasinya terkesan terlalu santai atau sering disebut slengean, Dody memberikan penjelasan mengenai latar belakang dirinya.

Ia mengungkapkan bahwa pembawaannya tersebut tidak terlepas dari kebiasaannya sebelum menjabat sebagai menteri, yakni berasal dari Jawa Timur dan memiliki pengalaman panjang di sektor swasta.

Menurutnya, lingkungan kerja swasta menuntut komunikasi yang lebih cair dalam situasi-situasi yang tidak memerlukan formalitas kaku atau penanganan khusus.

“Ya bagaimana, saya ini asalnya dari Jawa Timur, orang swasta. Bagaimanalah tidak slengean. Sudahlah. Ketika ada sesuatu yang serius banget, baru saya akan serius. Karena ini kan bukan sesuatu yang serius,” pungkas Dody Hanggodo.