Realisasi Program Strategis Rendah, Upaya Percepatan Ditingkatkan

by -5 Views
Realisasi Program Strategis Rendah, Upaya Percepatan Ditingkatkan

KabarDermayu.com – Realisasi program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR) di Indonesia masih menjadi tantangan besar bagi sektor perkebunan kelapa sawit nasional.

Meskipun kelapa sawit memegang peranan penting dalam menopang perekonomian negara, produktivitas perkebunan rakyat dinilai belum mencapai potensi optimalnya.

Hal ini sebagian besar disebabkan oleh lambatnya proses peremajaan pada kebun-kebun sawit yang usianya sudah tua dan tidak lagi produktif.

Kondisi tersebut mendorong berbagai pihak terkait untuk kembali meningkatkan upaya percepatan implementasi program PSR secara lebih terstruktur dan sistematis.

PT Agrinas Palma Nusantara, sebagai salah satu Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang bergerak di sektor perkebunan kelapa sawit, mengungkapkan bahwa tantangan utama yang dihadapi saat ini adalah rendahnya produktivitas kebun rakyat.

Perkebunan rakyat sendiri memiliki luas yang signifikan, bahkan mencapai hampir separuh dari total luas perkebunan sawit di seluruh Indonesia.

Oleh karena itu, upaya pendampingan intensif kepada para petani terus dilakukan. Pendampingan ini secara khusus ditujukan untuk mendukung pelaksanaan program PSR, yang saat ini dinilai masih jauh dari target yang telah ditetapkan.

Direktur Kemitraan dan Plasma PT Agrinas Palma Nusantara (APN), Seger Budiardjo, menyoroti betapa strategisnya komoditas kelapa sawit dalam mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.

Ia menjelaskan bahwa kelapa sawit bukan hanya komoditas unggulan, tetapi juga berperan penting dalam mendorong hilirisasi industri di sektor ini.

Salah satu akar permasalahan mendasar dari rendahnya produktivitas adalah dominasi tanaman sawit tua di perkebunan rakyat.

Tanaman yang usianya sudah lebih dari 25 tahun ini secara langsung berdampak pada penurunan hasil produksi yang signifikan.

Seger Budiardjo mengungkapkan bahwa kondisi ini tersebar luas dan melibatkan jutaan petani yang tersebar di berbagai wilayah di Indonesia.

Data menunjukkan bahwa luas tanaman sawit yang berusia di atas 25 tahun mencapai sekitar 40 persen dari total luas perkebunan rakyat, atau setara dengan 2,8 juta hektar.

Luas lahan tersebut melibatkan sekitar 1,1 juta kepala keluarga petani.

Dari sisi produksi, terdapat kesenjangan yang cukup mencolok antara perkebunan rakyat dengan perkebunan skala besar yang dikelola oleh perusahaan swasta maupun PT Perkebunan Nusantara (PTPN).

Saat ini, produktivitas kelapa sawit rakyat hanya berkisar pada angka 2,6 ton per hektar per tahun.

Angka ini jauh lebih rendah jika dibandingkan dengan produktivitas yang dihasilkan oleh perkebunan swasta dan PTPN.

Seger Budiardjo menambahkan bahwa rendahnya produktivitas ini juga disebabkan oleh tingkat realisasi program PSR yang masih sangat rendah.

Dalam kurun waktu tiga tahun terakhir, realisasi PSR hanya mencapai rata-rata sekitar 20 ribu hektar per tahun.

Oleh karena itu, diperlukan strategi percepatan yang matang untuk pelaksanaan program PSR.

Dukungan penuh dari pemerintah serta peran aktif dari perusahaan seperti Agrinas Palma menjadi kunci utama untuk mencapai keberhasilan dalam percepatan program PSR ini.

Menurutnya, percepatan program PSR tidak dapat hanya mengandalkan satu pihak saja.

Program ini membutuhkan koordinasi yang kuat antar berbagai lembaga terkait, serta penyederhanaan mekanisme yang selama ini seringkali menjadi hambatan di lapangan.

Seger Budiardjo menekankan bahwa strategi lainnya adalah mendorong penyederhanaan regulasi.

Hal ini dapat dicapai melalui koordinasi aktif dengan kementerian dan lembaga pemerintah yang relevan.

Ia juga menekankan pentingnya pendampingan yang komprehensif kepada para petani.

Pendampingan ini harus mencakup seluruh tahapan, mulai dari proses administrasi, akses terhadap pembiayaan, hingga pelaksanaan teknis di lapangan.

Dengan pendampingan yang menyeluruh, diharapkan program peremajaan kebun sawit dapat berjalan dengan lebih efektif dan efisien.

Forum Diskusi Terbatas (FDT) yang melibatkan berbagai lintas lembaga ini menjadi salah satu wadah penting untuk meningkatkan koordinasi.

Diskusi dalam forum ini bertujuan untuk membahas berbagai hambatan yang selama ini dihadapi dalam implementasi program PSR di tingkat petani.

Ketua Rumah Sawit Indonesia (RSI), Kacuk Sumarto, menilai bahwa kehadiran berbagai pihak dalam satu forum diskusi seperti ini merupakan langkah yang sangat relevan.

Langkah ini sangat penting untuk memperkuat koordinasi dan sinergi antar semua pemangku kepentingan.

Kacuk Sumarto menyatakan bahwa RSI sangat mengapresiasi inisiatif ini.

Baca juga di sini: Gelombang Panas Picu Badai Petir, 14 Tewas di Bangladesh

Ia melihat forum ini sebagai momentum yang tepat untuk mempercepat pelaksanaan program PSR.