Konflik Kepentingan Menjadi Akar Masalah Ketahanan Energi Nasional

oleh -6 Dilihat
Konflik Kepentingan Menjadi Akar Masalah Ketahanan Energi Nasional

KabarDermayu.com – Mantan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Sudirman Said, mengemukakan bahwa ketahanan energi nasional Indonesia menghadapi tiga tantangan mendasar yang saling terkait.

Menurut Sudirman Said, ketiga aspek fundamental tersebut adalah pola pikir jangka pendek, dominasi politik dan kebijakan populis, serta maraknya konflik kepentingan antara pembuat kebijakan dan pelaku usaha.

Beliau menekankan bahwa akumulasi dari ketiga masalah ini telah menciptakan kegagalan sistemik yang terus berulang dari satu periode pemerintahan ke periode berikutnya.

Akibatnya, pengelolaan isu-isu krusial dan berdimensi jangka panjang dalam sektor energi, mulai dari riset dan pengembangan minyak dan gas, eksplorasi, hingga transisi energi dan tata kelola pasokan minyak, selalu mengalami hambatan atau terbengkalai.

Indonesia saat ini menghadapi defisit produksi energi yang signifikan. Konsumsi bahan bakar minyak (BBM) mencapai 1,6 juta barel per hari, sementara produksi domestik hanya berkisar antara 600 hingga 610 ribu barel per hari.

Kondisi ini menyebabkan lebih dari separuh kebutuhan energi nasional harus dipenuhi melalui impor. Impor tersebut menelan biaya devisa negara yang sangat besar, diperkirakan mencapai minimal 100 juta dolar Amerika Serikat setiap harinya.

Tekanan finansial akibat defisit energi ini berdampak langsung pada nilai tukar rupiah. Pada tanggal 29 April 2026, rupiah dilaporkan menyentuh titik terendahnya sepanjang sejarah, diperdagangkan pada angka Rp17.326 per dolar Amerika Serikat.

Baca juga di sini: Asal Usul Hari Buruh: Sejarah May Day dan Penetapannya sebagai Libur Nasional di Indonesia

Sudirman Said berpendapat bahwa situasi ini sebenarnya dapat diantisipasi jika tata kelola energi nasional tidak dikorupsi oleh kepentingan-kepentingan jangka pendek.

Ia memberikan contoh bahwa wacana transisi energi di Indonesia seringkali hanya muncul atau menjadi ramai ketika harga minyak dunia mengalami fluktuasi ekstrem, bukan didorong oleh visi strategis yang matang.

“Coba cermati polanya, riuh-rendah transisi energi hanya muncul tatkala suasana harga minyak sedang ekstrem tinggi. Begitu keadaan normal, kita pun lupa dan lalu business as usual kembali,” ujar Sudirman Said.

Pola tersebut, lanjutnya, menjadi bukti nyata dominasi pola pikir jangka pendek dalam perumusan kebijakan energi.

Ketika produksi energi tidak mampu ditingkatkan dan isu transisi energi hanya menjadi sekadar jargon musiman, maka Indonesia akan terus terjebak dalam lingkaran masalah yang sama.

Sudirman Said menyimpulkan bahwa pertanyaan krusial yang harus dijawab bukan lagi tentang cara bertahan melewati krisis energi saat ini.

Melainkan, pertanyaan mendasarnya adalah mengapa bangsa ini selalu saja tidak siap dan panik ketika krisis energi datang menerpa.