The Fed Pertahankan Suku Bunga di Level 3,5 Persen

oleh -6 Dilihat
The Fed Pertahankan Suku Bunga di Level 3,5 Persen

KabarDermayu.com – Federal Reserve (The Fed), bank sentral Amerika Serikat, kembali menahan suku bunga acuannya dalam pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) terakhir yang dihadiri oleh Ketua Jerome Powell.

Keputusan ini diambil di tengah gejolak harga minyak global dan meningkatnya ketidakpastian ekonomi yang dipicu oleh konflik di Iran. Suku bunga acuan The Fed diputuskan tetap berada di kisaran 3,5 persen hingga 3,75 persen.

Ini merupakan kali ketiga secara berturut-turut The Fed mempertahankan suku bunga pada level yang sama sepanjang tahun ini. Keputusan tersebut tidak diambil secara aklamasi, menunjukkan adanya perbedaan pandangan di antara para pejabat bank sentral.

Gubernur The Fed Stephen Miran, misalnya, mengusulkan penurunan suku bunga sebesar 25 basis poin (bps). Sementara itu, Presiden The Fed Cleveland Beth Hammack, Presiden The Fed Minneapolis Neel Kashkari, dan Presiden The Fed Dallas Lorie Logan memberikan dukungan untuk menahan suku bunga, meskipun tidak menolak secara tegas sinyal pelonggaran kebijakan yang tersirat dalam pernyataan resmi.

Perbedaan pendapat yang melibatkan empat pejabat ini merupakan yang pertama kali terjadi sejak Oktober 1992. Situasi ini dinilai sebagai indikasi adanya peningkatan perpecahan pandangan di dalam tubuh bank sentral Amerika Serikat.

Ketua The Fed, Jerome Powell, menyatakan bahwa tingkat suku bunga saat ini dianggap berada pada level yang tepat untuk menjaga keseimbangan perekonomian. Para pejabat The Fed menyoroti bahwa inflasi masih bertahan di level tinggi, yang sebagian besar dipicu oleh lonjakan harga minyak dunia, sebagai pertimbangan utama suku bunga tidak diubah.

Dengan inflasi yang terus berada di atas target 2 persen selama beberapa tahun terakhir, The Fed menegaskan komitmennya untuk tetap waspada terhadap tekanan harga, terutama yang berasal dari kenaikan harga energi global. Konflik yang terjadi di Timur Tengah juga menambah elemen ketidakpastian terhadap prospek ekonomi secara keseluruhan.

Powell juga menyampaikan bahwa peluang bank sentral AS untuk menurunkan suku bunga tetap terbuka. Ia dan anggota The Fed lainnya akan terus melakukan penilaian yang cermat terhadap data ekonomi yang masuk, prospek ekonomi global, serta keseimbangan risiko yang ada dalam menentukan langkah kebijakan moneter selanjutnya.

“Saya pikir posisi tengah mulai bergerak ke arah yang lebih netral, dan itu juga tercermin dari pasar,” ujar Powell, seperti dikutip dari Yahoo Finance pada Kamis, 30 April 2026.

Dalam kesempatan tersebut, Powell juga mengingatkan adanya risiko yang nyata bahwa inflasi utama (headline inflation), yang didorong oleh kenaikan harga energi, dapat mulai merembet ke inflasi inti. Ia kembali menekankan bahwa The Fed akan bersikap sangat hati-hati sebelum mengambil keputusan untuk melonggarkan kebijakan moneternya, termasuk menurunkan suku bunga.

Baca juga di sini: Polisi Bekuk 4 Pelaku Tambang Emas Ilegal Pongkor, Raup Miliaran Rupiah Tiap Bulan

“Sudah saatnya itu terjadi. Kami benar-benar memperkirakan hal tersebut akan terlihat dalam dua kuartal ke depan. Jadi kami akan mengamati dengan sangat cermat. Kami perlu melihat puncak dan kemudian penurunan harga energi, serta perkembangan pada tarif, sebelum mempertimbangkan penurunan suku bunga,” jelas Powell lebih lanjut.