Harga Sama, Kuantitas Berkurang: Fenomena Shrinkflation di Supermarket

oleh -6 Dilihat
Harga Sama, Kuantitas Berkurang: Fenomena Shrinkflation di Supermarket

KabarDermayu.com – Fenomena shrinkflation semakin marak terasa di kalangan konsumen, menyentuh berbagai produk kebutuhan sehari-hari mulai dari kopi instan, sampo, hingga deterjen. Kondisi ini ditandai dengan berkurangnya ukuran atau jumlah isi produk, sementara harga jualnya tetap sama atau bahkan mengalami kenaikan. Akibatnya, tanpa disadari, konsumen harus mengeluarkan biaya lebih untuk mendapatkan produk yang sama.

Berdasarkan catatan Departemen Statistik Singapura (Singstat), pada periode Januari hingga Desember 2025, tercatat kurang dari 5 persen barang kebutuhan rumah tangga yang umum dibeli mengalami fenomena shrinkflation. Meskipun persentase ini terkesan kecil, beberapa produk yang paling sering dibeli justru menjadi yang paling terdampak.

Melalui analisis data barcode dari sejumlah supermarket besar, teridentifikasi delapan kategori produk fast-moving consumer goods (FMCG) yang paling rentan terhadap shrinkflation. Kategori tersebut meliputi sereal, kopi instan atau teh, sampo, deterjen pakaian, jus buah dan sayur, es krim, susu bubuk, serta popok.

Singstat secara rutin memantau sekitar 3.000 produk guna menyusun Indeks Harga Konsumen (CPI) bulanan. Pihaknya mengonfirmasi bahwa pola serupa shrinkflation juga terjadi di berbagai negara lain.

Shrinkflation merupakan strategi yang lazim digunakan oleh produsen untuk menekan biaya produksi tanpa harus menaikkan harga jual secara langsung pada label produk. Pendekatan ini membuat banyak konsumen tidak segera menyadari adanya kenaikan harga yang terselubung.

Seorang konsumen mengungkapkan bahwa saat berbelanja, ia cenderung hanya memperhatikan harga yang tertera pada label produk. Ia mencontohkan pengalamannya membeli deterjen merek tertentu yang harganya mencapai 18 dolar Singapura (sekitar Rp230 ribuan) per botol. Karena harga tersebut dianggap terlalu mahal, ia kemudian beralih ke merek lain yang harganya lebih terjangkau, yakni sekitar 5 dolar Singapura (setara Rp67 ribuan).

Namun, untuk kebutuhan pokok seperti minyak zaitun extra virgin dan minyak dedak padi, konsumen tersebut tetap memilih merek yang sama meskipun harganya mengalami kenaikan.

Salah satu bentuk shrinkflation yang paling umum adalah ketika harga produk tetap sama, namun ukuran kemasan diperkecil. Sebagai ilustrasi, sebotol sampo dengan ukuran 1 liter yang dijual seharga 8 dolar Singapura (sekitar Rp105 ribuan).

Baca juga di sini: Israel Hadang Kapal Relawan Sumud Jauh dari Perairan Gaza

Apabila produsen mengurangi isi produk menjadi 0,8 liter namun tetap menjualnya dengan harga 8 dolar Singapura, maka harga per liter sebenarnya meningkat menjadi 10 dolar Singapura (sekitar Rp135 ribu per liter). Ini berarti terjadi kenaikan harga satuan sebesar 25 persen, meskipun label harga tidak mengalami perubahan.

Bentuk lain dari shrinkflation adalah ketika ukuran produk diperkecil sekaligus menaikkan harganya. Contohnya, sampo berukuran 1 liter yang awalnya seharga 8 dolar Singapura, kemudian dikurangi menjadi 0,8 liter dan harganya dinaikkan menjadi 10 dolar Singapura.

Dalam skenario ini, harga per liter menjadi 12,50 dolar Singapura. Jika dibandingkan dengan harga awal 8 dolar Singapura per liter, maka kenaikannya mencapai sekitar 56 persen.

Ekonom dari Singapore University of Social Sciences, Walter Theseira, menjelaskan bahwa shrinkflation cenderung terjadi pada produk yang tidak memiliki standar ukuran yang jelas. Menurutnya, produsen lebih mudah untuk mengurangi ukuran biskuit atau es krim karena tidak ada ukuran baku yang telah disepakati secara umum, misalnya apakah harus 500 gram atau 450 gram.

Namun, hal serupa sulit diterapkan pada produk seperti beras, karena konsumen sudah terbiasa membeli dalam satuan ukuran standar seperti 1 kilogram atau 5 kilogram. “Tujuan utamanya adalah untuk menyamarkan kenaikan harga,” ujar Prof Theseira, seperti dikutip dari The Straits Times, Rabu, 29 April 2026.

Ia menambahkan, produsen juga dapat menyembunyikan kenaikan harga dengan cara menurunkan kualitas produk. Misalnya, mengurangi kandungan kakao pada produk cokelat, mengingat kakao merupakan bahan baku yang memiliki harga tinggi. “Ide dasarnya adalah mengganti komponen yang mahal dengan bahan yang lebih murah,” jelasnya.

Oleh karena itu, konsumen disarankan untuk tidak hanya terpaku pada harga yang tertera pada label produk. Penting juga untuk memperhatikan ukuran kemasan dan menghitung harga per satuan produk guna menghindari jebakan membayar lebih mahal tanpa disadari.