Prediksi Goldman Sachs: Pasokan Minyak Global Hanya Cukup untuk 101 Hari

oleh -6 Dilihat
Prediksi Goldman Sachs: Pasokan Minyak Global Hanya Cukup untuk 101 Hari

KabarDermayu.com – Bank investasi global, Goldman Sachs, baru-baru ini mengeluarkan prediksi mengejutkan mengenai persediaan cadangan minyak global. Bank tersebut memperkirakan bahwa stok minyak dunia hanya tersisa untuk sekitar 101 hari. Prediksi ini muncul di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik, khususnya antara Amerika Serikat dan Iran, yang telah memicu kekhawatiran akan gangguan pasokan.

Dalam laporan terbarunya, Goldman Sachs menghitung total stok minyak dunia, yang mencakup minyak mentah dan produk olahannya. Angka 101 hari ini diproyeksikan akan semakin menipis menjadi hanya 98 hari permintaan pada akhir Mei 2026.

Meskipun cadangan minyak global saat ini belum mencapai level kritis, laju penurunan stok yang cepat dan distribusi yang tidak merata menjadi perhatian utama. Hal ini dikhawatirkan dapat meningkatkan risiko kelangkaan di berbagai wilayah.

Baca juga: Dampak Psikologis Clara Shinta Pergoki Suami VCS dengan Selingkuhan

Lebih lanjut, laporan tersebut menyoroti bahwa cadangan produk olahan yang mudah diakses terus menyusut. Ini sangat terasa pada bahan baku petrokimia seperti nafta dan LPG, serta bahan bakar jet.

Goldman Sachs juga menekankan potensi kekurangan produk energi di beberapa negara. Pembatasan ekspor yang diberlakukan oleh negara-negara produsen menjadi salah satu faktor penghambat distribusi pasokan. Negara-negara yang berpotensi terdampak meliputi Afrika Selatan, India, Thailand, dan Taiwan.

Kekhawatiran serupa juga diungkapkan oleh CEO Chevron, Mike Wirth. Ia menyampaikan keprihatinan yang mendalam terhadap potensi kelangkaan bahan bakar yang semakin nyata, terutama jika gangguan di Selat Hormuz terus berlanjut. Wirth memperingatkan bahwa krisis energi bisa terjadi dalam waktu dekat dan akan berdampak luas ke seluruh sektor ekonomi.

“Saya pikir ketika orang melihat realitas pasokan yang sangat ketat, ini bukan hanya soal harga. Pertanyaannya adalah, apakah kita bisa mendapatkan bahan bakarnya? Dalam beberapa minggu ke depan, dampaknya akan mulai terasa di seluruh sistem,” ujar Wirth, menekankan urgensi situasi.

Menanggapi prediksi ini, harga minyak dunia menunjukkan sedikit koreksi setelah sempat melonjak tajam pada sesi perdagangan sebelumnya. Kontrak Brent crude untuk pengiriman Juli tercatat turun 1,26 persen menjadi US$113 per barel.

Sementara itu, West Texas Intermediate (WTI) juga mengalami pelemahan sebesar 2,12 persen, berada di level US$104,16 per barel. Sebelumnya, kedua acuan harga minyak tersebut sempat melonjak masing-masing sebesar 6 persen dan 4 persen.

Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran masih menjadi bayangan yang membayangi harga minyak dunia. Situasi semakin memanas dengan adanya laporan terbaru mengenai gencatan senjata yang berada di ambang kegagalan, terutama setelah serangan drone dan rudal Iran di Uni Emirat Arab.

Kondisi ini menegaskan bahwa pasar energi global masih berada dalam tekanan tinggi. Konflik geopolitik dan penurunan cadangan berpotensi memicu volatilitas harga serta risiko krisis pasokan dalam waktu dekat.