Wamendagri: Pemimpin Perlu Ideologi Kuat dan Keberanian Mengambil Risiko

oleh -5 Dilihat
Wamendagri: Pemimpin Perlu Ideologi Kuat dan Keberanian Mengambil Risiko

KabarDermayu.com – Wakil Menteri Dalam Negeri (Wamendagri) Bima Arya Sugiarto menekankan krusialnya seorang pemimpin memiliki ideologi dan nilai yang kuat. Ia berpendapat bahwa prinsip inklusivitas dan keberpihakan kepada masyarakat adalah pondasi utama. Hal ini penting agar pemimpin tidak mudah terombang-ambing oleh tekanan dari kelompok manapun, terutama saat dihadapkan pada keputusan berisiko.

Bima Arya menyampaikan hal tersebut saat mengisi kegiatan Bedah Buku “Babad Alas” di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Diponegoro (Undip) Semarang, Jawa Tengah, pada Selasa, 12 Mei 2026. Ia menuturkan bahwa pemimpin seringkali harus memilih antara posisi yang nyaman atau mengambil risiko.

“Jadi pemimpin itu seringkali dihadapkan pada pilihan yang sulit, kita bisa memilih nyaman atau berisiko, tapi saya ambil risiko itu ketika saya meyakini nilai-nilai keberpihakan tersebut,” ujar Bima Arya.

Berdasarkan pengalamannya selama satu dekade memimpin Kota Bogor, Bima Arya menilai keteguhan pada ideologi menjadi kunci dalam menyelesaikan berbagai persoalan pelik. Persoalan tersebut bisa datang dari ranah birokrasi maupun masyarakat luas.

Ia memberikan contoh keberaniannya dalam membatasi izin penjualan alkohol di tempat hiburan malam. Keputusan tersebut diambil demi melindungi generasi muda, meskipun ia harus menghadapi tekanan dari berbagai pihak. Selain itu, prinsip inklusivitas juga terbukti berhasil menjadi landasan dalam menyelesaikan konflik pendirian rumah ibadah yang telah berlangsung selama bertahun-tahun.

Bima Arya melanjutkan, ideologi saja tidak cukup tanpa adanya strategi yang jitu dalam membangun harapan masyarakat. Selain itu, penting pula untuk membentuk tim birokrasi yang solid dan kompak.

Dalam hal pengelolaan sumber daya manusia, ia menekankan pentingnya karakter, loyalitas, dan militansi sebagai pertimbangan utama dalam memilih pejabat. Kompetensi teknis baru menjadi prioritas selanjutnya.

“Jadi ketika memilih kepala dinas bagi saya karakter kompetensi karakter itu nomor satu. Adab itu nomor satu. Nomor selanjutnya baru kompetensi dan lain-lain,” jelasnya.

Untuk menjaga konsistensi nilai-nilai tersebut, Bima Arya menerapkan sistem penguatan moral. Hal ini ia lakukan melalui keterlibatan langsung dengan masyarakat, dialog bersama para aktivis, serta menjadikan keluarga sebagai benteng pertahanan terakhir dalam menjaga integritas.

Ia mencontohkan bagaimana nilai-nilai kritis yang ditanamkan di lingkungan keluarga menjadi pengingat penting untuk menolak segala bentuk penyimpangan, termasuk gratifikasi. Hal ini menjadi pengingat agar tetap teguh pada pendirian.

Bima Arya juga berpesan kepada para mahasiswa untuk mempersiapkan diri sejak dini agar kelak dapat menjadi pemimpin masa depan. Ia mengingatkan bahwa masa kepemimpinan berjalan sangat cepat.

Oleh karena itu, setiap kesempatan yang ada harus dimanfaatkan secara maksimal dengan penuh dedikasi dan semangat pengabdian yang tinggi. Momen kepemimpinan adalah kesempatan berharga yang tidak boleh disia-siakan.

“Dan bagi kalian yang nanti akan menjadi pemimpin atau bercita-cita jadi pemimpin, jangan lewatkan momen itu. Karena 10 tahun itu cepat sekali. Siapkanlah momen ketika kalian menjadi pemimpin. Ketika sedang menjadi pemimpin, do it with passion,” tandasnya.

Baca juga: Tekanan Rupiah ke Rp 17.500 Disebabkan Faktor Global dan Domestik

Acara bedah buku yang diselenggarakan di Universitas Diponegoro ini turut dihadiri oleh Dekan FISIP Undip, Teguh Yuwono. Selain itu, hadir pula Asisten II Pemerintah Kota Semarang, Hernowo Budi Luhur, jajaran dosen, serta ratusan mahasiswa FISIP Undip yang antusias mengikuti kegiatan tersebut. (Lan)