Belanja Pemerintah Tinggi Jaga Momentum Ekonomi Kuartal I

oleh -4 Dilihat
Belanja Pemerintah Tinggi Jaga Momentum Ekonomi Kuartal I

KabarDermayu.com – Lonjakan belanja pemerintah pada kuartal I 2026 menjadi faktor krusial dalam menjaga momentum perekonomian agar tidak mengalami perlambatan di awal tahun.

Menurut Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Yusuf Rendy Manilet, langkah ini diambil pemerintah sebagai respons terhadap tekanan ekonomi global yang mulai terasa ke dalam negeri.

Tekanan tersebut terlihat dari belum kuatnya sektor ekspor, tertahankannya investasi swasta, serta pelemahan nilai tukar rupiah.

“Dalam situasi seperti itu, fiskal akhirnya dipakai untuk menjaga momentum ekonomi supaya tidak melambat terlalu dalam di awal tahun,” ujar Yusuf, seperti dikutip pada Jumat, 15 Mei 2026.

Baca juga: Trump Diam Soal Taiwan Saat di Beijing, Bessent: Tunggu Dulu

Laporan Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I 2026 mencapai 5,61 persen. Angka ini ditopang oleh lonjakan belanja pemerintah sebesar 21,81 persen, yang merupakan rekor tertinggi dalam sepuluh tahun terakhir untuk periode kuartal I.

Yusuf menjelaskan bahwa lonjakan belanja ini didorong oleh berbagai faktor, termasuk momen Lebaran, pencairan tunjangan hari raya (THR), program bantuan sosial, serta masifnya pelaksanaan program pemerintah seperti makan bergizi gratis.

Hal ini menunjukkan peran signifikan pemerintah dalam menopang pertumbuhan ekonomi melalui peningkatan total belanja. Dampaknya terasa pada konsumsi rumah tangga, sektor perdagangan, transportasi, serta industri makanan dan minuman.

“Langkah ini cukup wajar dalam kondisi sekarang. Ketika sektor swasta belum terlalu kuat bergerak, pemerintah memang biasanya menjadi penyangga sementara,” kata Yusuf.

Ia menambahkan, jika belanja negara tidak dipercepat di awal tahun, pertumbuhan ekonomi kemungkinan tidak akan mencapai angka setinggi itu.

Namun, Yusuf mengingatkan pentingnya pemerintah untuk menjaga agar ruang fiskal tidak terlalu longgar, mengingat defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) di awal tahun sudah cukup memberatkan.

Selain itu, mengingat efek stimulus THR dan momentum Lebaran yang bersifat sementara, tantangan sesungguhnya diperkirakan akan muncul pasca kuartal I 2026.

Oleh karena itu, pemerintah perlu memastikan bahwa mesin pertumbuhan ekonomi berikutnya berasal dari sektor swasta, baik melalui investasi, ekspor, maupun konsumsi masyarakat agar pemulihan ekonomi dapat benar-benar terjadi.

“Jadi, saya melihat kuartal I ini lebih seperti dorongan awal supaya ekonomi tetap bergerak di tengah tekanan global yang cukup berat,” pungkas Yusuf.

Lebih lanjut, Yusuf menekankan bahwa untuk menjaga pertumbuhan ekonomi tetap sehat hingga akhir tahun, kepercayaan investor, stabilitas rupiah, dan kepastian kebijakan menjadi kunci agar sektor swasta dapat kembali ekspansif.