Derita Aktivis GSF: 4 Hari Penahanan Brutal, Dipaksa Merangkak dan Tidur di Lantai Basah

oleh -4 Dilihat
Derita Aktivis GSF: 4 Hari Penahanan Brutal, Dipaksa Merangkak dan Tidur di Lantai Basah

KabarDermayu.com – Relawan Indonesia yang tergabung dalam misi kemanusiaan Global Sumud Flotilla (GSF) 2.0, Herman Budianto, membeberkan pengalaman mengerikan mengenai penyiksaan brutal yang diduga dilakukan oleh tentara Israel. Perlakuan ini dialami oleh para aktivis internasional yang ditahan setelah armada bantuan mereka menuju Gaza dicegat di Laut Mediterania.

Herman menjelaskan bahwa kekerasan tersebut dimulai sejak proses pencegatan armada hingga masa penahanan yang berlangsung selama empat hari. Ia menekankan bahwa perlakuan aparat Israel terhadap para relawan sangat jauh dari nilai-nilai kemanusiaan.

“Kami menyampaikan bahwa memang penyiksaan-penyiksaan yang dilakukan oleh IDF itu nyata, sangat keji sangat brutal,” ujar Herman saat ditemui di Bandara Internasional Soekarno-Hatta Terminal 3, Tangerang, Banten, pada Senin, 25 Mei 2026.

Menurut Herman, para relawan menghadapi berbagai bentuk kekerasan fisik selama menjalani penahanan. Bahkan, beberapa peserta misi kemanusiaan dilaporkan mengalami luka berat akibat dugaan penganiayaan yang dilakukan.

“Dari mulai proses penculikan sampai dengan proses yang panjang sekitar empat hari melakukan penyiksaan-penyiksaan tadi,” katanya.

“Banyak sekali yang mengalami cedera-cedera berat, rusuk patah ada sekitar 40 orang patah tangan patah kaki ya patah hidung ada yang ditembak dan seterusnya,” sambung Herman, merinci tingkat keparahan luka yang dialami.

Lebih lanjut, Herman mengungkapkan bahwa selain kekerasan fisik, ada pula dugaan pelecehan seksual yang dialami oleh relawan, baik laki-laki maupun perempuan, selama masa penahanan berlangsung.

“Bahkan banyak juga kasus-kasus pelecehan seksual yang diterima oleh baik laki-laki maupun perempuan ketika proses yang panjang tersebut,” ungkapnya, menunjukkan dimensi lain dari penderitaan yang dialami.

Baca juga: 8 Bisnis Musiman Untung Besar Idul Adha, Bukan Cuma Sapi Kambing

Herman menggambarkan kondisi di dalam penjara yang menurutnya sangat tidak manusiawi. Para tahanan dilaporkan dipaksa berjalan dengan merangkak menggunakan lutut dan harus terus menundukkan kepala, dilarang menatap langsung ke arah aparat Israel.

“Belum lagi hal-hal yang lain terkait dengan kondisi ketika kita ada di penjara dan seterusnya diperlakukan seperti hewan ya yang kami harus berjalan dengan merangkak dengan lutut kami, kami harus berjalan dengan selalu menunduk tidak boleh menatap mereka,” tutur Herman, menggambarkan dehumanisasi yang dirasakannya.

Para relawan juga disebutkan harus tidur di lantai yang basah, tanpa diberikan selimut maupun bantal. Pakaian yang mereka kenakan pun tetap basah selama masa penahanan berlangsung.

“Kami pun tidur di lantai yang tidak ada selimut tidak ada bantal dalam kondisi basah dan baju basah,” katanya, menyoroti kondisi fisik yang memprihatinkan.

Meskipun mengalami perlakuan yang sangat keras, Herman menegaskan bahwa dirinya dan rekan-rekannya tidak merasa paling berjasa dalam misi tersebut. Ia justru membandingkan penderitaan mereka dengan apa yang dialami oleh rakyat Palestina, yang menurutnya jauh lebih berat.

“Ya tapi semua ini insyaallah tidak menjadikan kami menjadi orang yang merasa paling berjasa hanya yang sangat kecil sekali yang kami lakukan untuk Palestina,” ujar Herman, menunjukkan kerendahan hati.

“Karena saudara kita yang di Palestina jauh lebih menderita dibandingkan dengan kami. Kami ini hanya debu-debu yang beterbangan yang tentu tidak tidak patut untuk berbangga tidak patut untuk menjadi orang yang merasa penting tapi mudah-mudahan ini bisa menggelorakan semangat membebaskan Palestina di seluruh dunia,” lanjutnya, berharap pengalaman ini dapat membangkitkan kesadaran global.

tvOnenews/Abdul Gani SIregar