Fakta di Balik Film Pesta Babi dan Food Estate Papua Versi Mama Sinta

oleh -7 Dilihat
Fakta di Balik Film Pesta Babi dan Food Estate Papua Versi Mama Sinta

KabarDermayu.com – Tokoh perempuan adat dan pejuang lingkungan dari Merauke, Papua Selatan, Yasinta Moiwend alias Mama Sinta, mengungkapkan kekecewaannya terhadap pihak-pihak yang dinilainya telah memanfaatkan dirinya. Ia merasa diseret untuk menolak Proyek Strategis Nasional (PSN) lumbung pangan atau food estate di Papua Selatan, bahkan hingga dijebak dalam narasi negatif terhadap pemerintah melalui film Pesta Babi.

Mama Sinta menyatakan telah mengambil keputusan untuk tidak lagi bergabung dengan Lembaga Bantuan Hukum (LBH) yang sebelumnya bersamanya. Ia kini berfokus mencari pekerjaan di perusahaan agar dapat merenovasi rumahnya yang sudah tidak layak huni.

Selain itu, ia juga menyoroti kebutuhan ketiga anaknya yang memerlukan pekerjaan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Mama Sinta berharap ada bantuan di masa mendatang dan menegaskan posisinya kini bersama perusahaan, berbeda dari sebelumnya ketika ia merasa dimanfaatkan oleh oknum LBH.

Mama Sinta menceritakan bahwa awalnya ia dan kelompok masyarakat adat Marind diajak oleh seseorang bernama Aris untuk menyuarakan penolakan terhadap pembukaan lahan oleh pemerintah di Papua. Namun, pernyataannya justru menjadi viral di media sosial dan berujung pada pembuatan film berjudul Pesta Babi tanpa seizin atau sepengetahuannya.

Hal ini membuatnya sangat kecewa terhadap pihak LBH. Wajah Mama Sinta bahkan terpampang di poster film Pesta Babi, yang semakin menambah kekecewaannya.

Ia mengaku sudah tidak berkomunikasi lagi dengan pihak LBH Papua Pusaka sejak peristiwa tersebut. Mama Sinta juga menyampaikan permohonan maaf kepada pemerintah atas seluruh pernyataannya yang menyerang pembangunan PSN di Papua.

Ia menjelaskan bahwa pernyataan-pernyataan tersebut bukanlah keinginannya sendiri, melainkan karena ajakan pihak lain. Mama Sinta mengungkapkan kekecewaannya karena tidak ada realisasi bantuan fasilitas rumah atau pekerjaan untuk anak-anaknya, seperti yang mungkin pernah ia harapkan.

Mama Sinta sempat memperlihatkan kondisi dapurnya yang memprihatinkan, termasuk kompor masak yang sudah tidak layak pakai. Ia terpaksa menggunakan kayu bakar karena sumbu kompornya sudah habis.

Baca juga: Viktor Axelsen: Kesibukan Baru Raja Bulutangkis Dunia Usai Gantung Raket

Mama Sinta mengakui bahwa dirinya sempat diajak berkeliling ke berbagai kota seperti Jayapura, Makassar, hingga Jakarta bersama LBH. Namun, selama enam bulan bolak-balik antara Papua, Jakarta, dan Makassar, ia mengaku hanya mendapatkan rasa lelah.

Ia mengungkapkan bahwa LBH Pusaka hanya memfasilitasi perjalanan dan memberikan uang duduk sebesar Rp2 juta hingga Rp1,5 juta. Dari pengalaman ini, Mama Sinta menyadari bahwa dirinya telah dimanfaatkan dan tidak mendapatkan kehidupan yang layak meskipun telah bersuara lantang.

Kini, Mama Sinta memilih untuk mendukung program Pemerintah Prabowo Subianto melalui pembangunan PSN di Papua. Ia memohon bantuan dari pemerintah agar dapat bekerja sama dengan perusahaan yang ada.

Mama Sinta menyatakan dukungannya karena merasa tidak memiliki apa-apa di kampung halaman. Harapannya tertuju kepada pemerintah, agar dapat menjalin kerja sama dengan perusahaan dan masyarakat, sehingga ia dan warga dapat menikmati hasil pembangunan yang diberikan oleh perusahaan.

Sangkal Pengakuan Mama Sinta

Menanggapi pernyataan Mama Sinta, Peneliti Pusaka Bentala Rakyat, Villarian, yang akrab disapa Juple, mengaku terkejut mendengar bahwa Mama Yasinta disebut mendukung PSN. Menurut Juple, sejauh pengetahuan pihaknya, Mama Sinta tidak pernah menyatakan dukungan terhadap PSN.

Juple menekankan perlunya klarifikasi mengenai informasi tersebut. Ia menegaskan bahwa Mama Sinta, bersama LBH Merauke, Pusaka Bentala Rakyat, dan organisasi lainnya, berkomitmen untuk terus menolak PSN yang ada di Papua Selatan.