KabarDermayu.com – Warga Singapura menunjukkan peningkatan minat dalam membeli franc Swiss, seiring dengan meningkatnya ketidakpastian global dan memanasnya konflik geopolitik. Mata uang Swiss ini dianggap sebagai aset safe haven atau aset aman di tengah gejolak pasar.
Platform perdagangan di Singapura melaporkan adanya lonjakan transaksi franc Swiss belakangan ini. Peningkatan minat ini dipicu oleh volatilitas di pasar saham, harga logam mulia, hingga perang yang terjadi, mendorong investor untuk mencari instrumen yang lebih stabil.
Data dari CMC Markets menunjukkan nilai transaksi pasangan mata uang franc Swiss di kalangan pengguna di Singapura melonjak dari US$380,26 juta pada Januari 2025 menjadi US$1,05 miliar pada pertengahan 2025.
Lonjakan transaksi ini terjadi bersamaan dengan aksi jual besar di pasar saham Amerika Serikat pada Juli 2025, yang disebabkan oleh laporan pendapatan perusahaan teknologi dan kecerdasan buatan yang mengecewakan.
Secara tahunan, CMC Markets mencatat bahwa perdagangan pasangan franc Swiss mengalami peningkatan sebesar 22,21 persen sepanjang tahun 2025 dibandingkan dengan tahun 2024. Tren ini terus berlanjut hingga tahun 2026.
Volume perdagangan franc Swiss di platform tersebut mencapai US$1,02 miliar pada Januari 2026, menandakan kembalinya investor pada aset safe haven tersebut. Pada tanggal 17 Mei 2026, nilai tukar franc Swiss berada di kisaran 0,61 franc terhadap dolar Singapura, mendekati rekor tertinggi di level 0,60 yang dicatat pada Januari sebelumnya.
Data dari Bloomberg menunjukkan franc Swiss telah menguat sebesar 7,81 persen terhadap dolar Singapura sepanjang tahun 2025. Penguatan ini berlanjut dengan kenaikan 0,37 persen sepanjang tahun 2026 hingga saat ini. Sementara itu, Saxo Singapore melaporkan bahwa transaksi franc Swiss di platform mereka melonjak hingga 280 persen pada tahun 2025 dibandingkan dengan tahun sebelumnya.
Charu Chanana, Chief Investment Strategist Saxo Singapore, menjelaskan bahwa meskipun dolar Singapura dianggap sebagai mata uang defensif di Asia, franc Swiss tetap dipandang sebagai safe haven global.
Baca juga: Muhadjir Effendy Minta Penundaan Pemeriksaan Kasus Korupsi Kuota Haji
“Perbedaannya adalah franc Swiss lebih didorong oleh rasa takut, sementara dolar Singapura lebih didorong oleh kredibilitas kebijakan dan stabilitas,” ujarnya, seperti dikutip dari The Straits Times pada Senin, 18 Mei 2026.
Ia menambahkan bahwa franc Swiss terus menjadi salah satu mata uang safe haven terkuat karena Swiss memiliki tingkat inflasi yang rendah, netralitas politik, institusi yang kuat, dan rekam jejak panjang dalam menjaga nilai kekayaan. Meskipun demikian, Chanana mengingatkan bahwa Bank Nasional Swiss siap melakukan intervensi jika penguatan franc terlalu cepat, karena hal tersebut dapat memberikan tekanan pada sektor ekspor dan inflasi.
“Franc Swiss tetap menjadi safe haven, tetapi sekarang merupakan safe haven yang dikelola,” tegasnya.
Di sisi lain, Otoritas Moneter Singapura atau Monetary Authority of Singapore (MAS) telah memperketat kebijakan moneternya pada April 2026, untuk pertama kalinya sejak tahun 2022. Langkah ini diambil agar dolar Singapura menguat di tengah lonjakan harga minyak dan gas akibat perang yang terjadi.
Eric Xiao, Head of Sales Asia CMC Markets, menyatakan bahwa franc Swiss masih menjadi salah satu mata uang safe haven utama di dunia, berkat likuiditasnya yang tinggi dan volume perdagangannya yang besar.
“Basis modal Swiss yang besar membantu meminimalkan volatilitas nilai tukar dan gesekan pasar selama periode tekanan makroekonomi,” jelasnya.
Menurut Xiao, volume perdagangan franc Swiss juga jauh lebih besar jika dibandingkan dengan dolar Singapura. “Hal ini terlihat dari basis klien global CMC Markets pada Januari 2026, ketika arus perdagangan franc Swiss mencapai US$2,66 miliar, jauh melampaui US$606,92 juta yang tercatat untuk dolar Singapura,” tambahnya.





