KabarDermayu.com – Bank Indonesia (BI) kembali menegaskan bahwa Indeks Harga Konsumen (IHK) pada Mei 2026 terjaga dalam rentang sasaran inflasi yang ditetapkan, yaitu antara 1,5 persen hingga 3,5 persen.
Pencapaian ini merupakan hasil dari konsistensi kebijakan moneter yang dijalankan oleh Bank Indonesia, serta sinergi yang erat dengan pemerintah dalam upaya pengendalian inflasi.
Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso, menjelaskan bahwa BI secara aktif berkolaborasi dengan pemerintah pusat dan daerah melalui Tim Pengendalian Inflasi Pusat dan Daerah (TPIP dan TPID).
Selain itu, BI bersama pemerintah juga terus memperkuat implementasi Program Ketahanan Pangan Nasional sebagai salah satu strategi utama dalam menjaga stabilitas harga.
Ramdan menyampaikan keyakinan BI bahwa inflasi akan tetap terkendali dalam kisaran sasaran 2,5 persen plus minus 1 persen, atau dalam rentang 1,5 persen hingga 3,5 persen, baik pada tahun 2026 maupun 2027.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) yang dirilis pada Selasa, 2 Juni 2026, menunjukkan bahwa IHK pada Mei 2026 mengalami inflasi sebesar 0,28 persen secara bulanan (month to month/mtm).
Secara tahunan (year on year/yoy), IHK pada periode yang sama tercatat mengalami inflasi sebesar 3,08 persen.
Inflasi inti pada Mei 2026 tercatat sebesar 0,22 persen (mtm), sedikit lebih rendah dibandingkan realisasi bulan sebelumnya yang mencapai 0,23 persen (mtm).
Perkembangan inflasi inti ini terutama dipengaruhi oleh kenaikan harga minyak goreng, di tengah ekspektasi inflasi yang tetap terjaga.
Secara tahunan, inflasi inti pada Mei 2026 tercatat sebesar 2,59 persen (yoy), menunjukkan sedikit peningkatan dibandingkan inflasi bulan sebelumnya yang sebesar 2,44 persen (yoy).
Sementara itu, kelompok volatile food pada Mei 2026 mengalami inflasi sebesar 0,22 persen (mtm). Angka ini lebih tinggi dibandingkan bulan sebelumnya yang tercatat deflasi sebesar 0,88 persen (mtm).
Inflasi pada kelompok volatile food ini disumbang terutama oleh komoditas seperti cabai merah, bawang merah, tomat, dan beras.
Kenaikan harga komoditas tersebut terjadi seiring dengan penurunan pasokan yang disebabkan oleh gangguan produksi akibat cuaca ekstrem dan berakhirnya musim panen raya.
Kondisi ini diperparah dengan kenaikan permintaan menjelang Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Idul Adha.
Secara tahunan, kelompok volatile food mengalami inflasi sebesar 6,24 persen (yoy), yang jauh lebih tinggi dibandingkan inflasi bulan sebelumnya sebesar 3,37 persen (yoy).
BI menyampaikan bahwa inflasi volatile food ke depan diprakirakan tetap terkendali.
Hal ini didukung oleh sinergi erat antara BI dengan TPIP dan TPID, serta penguatan implementasi Gerakan Pengendalian Inflasi dan Pangan Sejahtera (GPIPS).
Di sisi lain, kelompok administered prices pada Mei 2026 mengalami inflasi sebesar 0,52 persen (mtm).
Angka ini lebih rendah dibandingkan realisasi bulan sebelumnya yang mencapai 0,69 persen (mtm).
Inflasi pada kelompok administered prices ini terutama disumbang oleh komoditas bahan bakar rumah tangga, bensin, dan tarif angkutan udara.
Kenaikan ini terjadi seiring dengan penyesuaian harga liquefied petroleum gas (LPG) nonsubsidi, bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi, dan avtur akibat kenaikan harga energi global.
Baca juga: Kisah Pilu Anak Penjual Rempeyek yang Ditinggal Ayah, Dedi Mulyadi Turun Tangan
Secara tahunan, kelompok administered prices tercatat mengalami inflasi sebesar 2,07 persen (yoy), yang lebih tinggi dibandingkan inflasi bulan sebelumnya sebesar 1,53 persen (yoy).





