KabarDermayu.com – Hamparan tenda putih di Padang Arafah mulai dipenuhi jemaah haji Indonesia yang diberangkatkan secara bertahap dari hotel-hotel mereka di Mekkah pada Senin, 25 Mei 2026. Peristiwa ini bertepatan dengan 8 Dzulhijjah 1447 Hijriah, menandai persiapan jutaan jemaah untuk menjalani fase paling sakral dalam ibadah haji, yaitu wukuf di Arafah.
Kementerian Haji dan Umrah menjelaskan bahwa proses pergerakan menuju Arafah dilakukan secara bertahap. Tujuannya adalah untuk memastikan seluruh jemaah dapat menempati tenda dengan tertib dan aman selama puncak ibadah haji berlangsung.
Juru Bicara Kementerian Haji dan Umrah, Maria Ulfa Assegaf, menyatakan bahwa memasuki hari ke-34 operasional penyelenggaraan ibadah haji, jemaah haji Indonesia mulai bergerak menuju Arafah. Ia menekankan bahwa ini adalah fase yang sangat penting dan membutuhkan kesiapan fisik, mental, serta kedisiplinan seluruh jemaah.
Keberangkatan jemaah menuju kawasan tenda Arafah dibagi dalam tiga gelombang. Gelombang tersebut dijadwalkan pada pukul 07.00, 11.30, dan 16.30 waktu Arab Saudi. Maria mengimbau jemaah untuk mengikuti jadwal yang telah ditentukan, tidak bergerak sendiri, tidak mendahului rombongan, dan selalu mematuhi arahan petugas kloter, sektor, maupun pembimbing ibadah.
Baca juga: Xabi Alonso Lepas Pemain Rp5,9 T: Chelsea Kejar Transfer Kilat
Di kawasan Arafah, tenda-tenda berpendingin udara telah disiapkan untuk menampung jemaah selama menjalani wukuf. Petugas juga disiagakan untuk membantu berbagai kebutuhan jemaah, mulai dari konsumsi, kesehatan, hingga pendampingan ibadah.
Selain memastikan kelancaran penempatan jemaah di tenda Arafah, Kementerian Haji dan Umrah juga mengingatkan pentingnya menjaga ketentuan ihram selama rangkaian ibadah berlangsung.
Maria mengingatkan jemaah laki-laki agar tidak memakai pakaian berjahit yang membentuk anggota badan. Ia juga menekankan untuk tidak menutup kepala dengan penutup yang melekat seperti peci atau sorban. Selain itu, jemaah laki-laki dilarang menggunakan alas kaki yang menutupi mata kaki dan tumit.
Bagi jemaah perempuan, Maria menambahkan bahwa dalam kondisi ihram, mereka tidak diperkenankan menggunakan cadar maupun sarung tangan. Seluruh jemaah juga diingatkan untuk menjaga diri dari larangan ihram lainnya.
Larangan tersebut meliputi memotong kuku, mencabut rambut, menggunakan wangi-wangian setelah niat ihram, serta menjaga lisan dan perilaku agar ibadah tetap khusyuk.
Maria juga berpesan kepada jemaah untuk menjaga kondisi fisik. Fase Armuzna—Arafah, Muzdalifah, dan Mina—memerlukan stamina tinggi di tengah cuaca panas Arab Saudi.
Ia meminta seluruh jemaah untuk menjaga kondisi tubuh dengan istirahat yang cukup, makan teratur, serta memperbanyak minum air putih. Menghindari aktivitas yang tidak perlu juga penting agar energi tetap terjaga selama puncak ibadah haji.
Kementerian Agama juga menyiapkan pos kesehatan di Arafah dan Mina. Tujuannya adalah untuk mengantisipasi gangguan kesehatan selama puncak haji berlangsung. Maria menyatakan bahwa masing-masing satu Pos Kesehatan Indonesia disiagakan di Arafah dan di Mina.
Hal ini dilakukan untuk memastikan layanan kesehatan dapat diberikan secara cepat dan optimal selama fase Armuzna. Sebanyak 657 petugas Satgas Arafah juga diterjunkan.
Petugas Satgas Arafah bertugas memastikan layanan transportasi, akomodasi, konsumsi, kesehatan, hingga perlindungan jemaah berjalan maksimal. Ini dilakukan selama seluruh jemaah menempati tenda-tenda di Arafah.





