KabarDermayu.com – Kekayaan Mark Zuckerberg, pendiri dan CEO Meta Platforms Inc., mengalami penurunan signifikan sebesar kurang lebih Rp13 triliun. Penurunan ini terjadi setelah divisi bisnis metaverse perusahaan, Reality Labs, melaporkan kerugian operasional yang sangat besar pada kuartal pertama tahun 2026.
Reality Labs, yang menjadi ujung tombak ambisi Meta dalam membangun dunia virtual atau metaverse, membukukan kerugian operasional sebesar US$4,03 miliar, atau setara dengan Rp69,4 triliun (dengan estimasi kurs Rp17.350 per dolar AS). Meskipun angka kerugian ini sedikit lebih baik dari prediksi Wall Street yang mencapai US$4,82 miliar, pendapatan divisi tersebut hanya mencapai US$402 juta, jauh di bawah ekspektasi analis yang memperkirakan US$488,8 juta.
Tekanan finansial yang dialami Meta secara langsung berdampak pada kekayaan pribadi Zuckerberg. Berdasarkan data Forbes Real Time Billioners per Kamis, 30 April 2026, kekayaan bersih bos Facebook ini menyusut 0,33 persen, atau setara dengan US$752,7 juta.
Dengan penurunan tersebut, Mark Zuckerberg kini menempati peringkat kelima dalam daftar orang terkaya di dunia. Total kekayaannya tercatat sekitar US$229,4 miliar. Ia berada di bawah Elon Musk yang menduduki posisi teratas, diikuti oleh Larry Page, Jeff Bezos, dan Sergey Brin.
Reality Labs sendiri merupakan divisi yang didedikasikan untuk pengembangan teknologi realitas virtual (VR), realitas tertambah (AR), serta perangkat wearable. Sejak peluncurannya pada akhir tahun 2020, divisi ini telah menorehkan akumulasi kerugian yang mencapai lebih dari US$80 miliar. Angka ini mencerminkan besarnya investasi yang telah dikucurkan Meta untuk membangun ekosistem metaverse.
Namun, arah bisnis metaverse mulai menghadapi tantangan serius sejak kemunculan teknologi AI generatif yang dipicu oleh ChatGPT pada akhir tahun 2022. Dalam perlombaan pengembangan kecerdasan buatan, Meta dinilai tertinggal dibandingkan para pesaing utamanya seperti OpenAI, Anthropic, dan Google.
Menyadari perubahan lanskap teknologi ini, Meta kini mengalihkan sebagian besar fokus investasinya ke infrastruktur AI, pengembangan model-model AI baru, serta layanan-layanan yang berbasis kecerdasan buatan. Langkah strategis ini diambil untuk memastikan Meta tetap kompetitif di tengah dinamika industri teknologi yang berubah begitu cepat.
Baca juga di sini: DPR Akan Buat UU Cipta Kerja Menanggapi Putusan MK
Dalam upaya menyeimbangkan antara inovasi dan tekanan profitabilitas, Reality Labs juga dilaporkan melakukan pengetatan anggaran. Hal ini menjadi bagian dari strategi bisnis perusahaan untuk mengelola sumber daya secara lebih efisien.





