Pertamina Tak Mampu Tahan Harga: Pertamax Naik Drastis

oleh -6 Dilihat
Pertamina Tak Mampu Tahan Harga: Pertamax Naik Drastis

KabarDermayu.com – Pertamina, melalui Vice President Commercial & Shipping Business Development Pertamina Patra Niaga, Sigit Setiawan, akhirnya angkat bicara mengenai alasan di balik kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi, khususnya Pertamax. Keputusan ini diambil demi menjaga ketersediaan stok BBM di pasar.

Sigit menjelaskan bahwa situasi global, khususnya pecahnya konflik antara Amerika Serikat dan Iran, telah menyebabkan harga BBM impor yang dibeli oleh Pertamina menjadi lebih tinggi dibandingkan harga jual BBM di dalam negeri.

“Beberapa waktu kemarin itu masih bisa kami tahan, tetapi kenapa kok hari ini nggak bisa nahan? Karena kami harus memastikan ketersediaan di pasar itu ada barangnya,” ujar Sigit saat menghadiri Sarasehan Energi bertajuk “Transisi Energi dalam Memitigasi Konflik Global” di Universitas IPB, Bogor, Jawa Barat, pada Rabu.

Sebelumnya, Pertamina memahami beratnya posisi pemerintah dalam menjaga daya beli masyarakat. Jika harga BBM disesuaikan secara otomatis mengikuti fluktuasi harga minyak dunia, maka biaya produksi akan meningkat drastis.

Kondisi tersebut dikhawatirkan dapat menghambat pergerakan pertumbuhan ekonomi nasional. Kenaikan biaya produksi akan berimbas pada harga jual produk yang pada akhirnya akan memberatkan konsumen.

“Kalau biaya produksinya naik, akan berpengaruh ke harga jual produk yang dihasilkan. Berarti harga di pasar akan naik. Masyarakat konsumen bisa membeli, nggak? Tentu berat,” kata Sigit.

Oleh karena itu, Pertamina memutuskan untuk menahan harga BBM nonsubsidi sejak Maret 2026 hingga awal Juni 2026. Namun, kebijakan menahan harga ini ternyata berdampak signifikan pada kemampuan finansial Pertamina untuk melakukan pembelian BBM.

“Pertamina mengimpor BBM dengan harga tinggi, terus kami jual di domestik harganya rendah. Uang yang kami dapat (dari penjualan domestik) untuk membeli BBM di market (impor) tidak lagi mendapatkan volume yang sama,” jelas Sigit.

Selisih antara pendapatan dari penjualan domestik yang rendah dan biaya impor yang tinggi menyebabkan perusahaan minyak pelat merah tersebut tidak lagi mampu membeli volume BBM yang sama seperti sebelumnya. Akibatnya, volume BBM yang diimpor Pertamina terus mengalami penurunan, yang secara langsung berdampak pada ketersediaan stok BBM.

“Kami tidak ingin kondisinya terus-terusan seperti ini, sehingga ketersediaan produk energi di masyarakat akan menurun. Ketika ada puncak permintaan, kondisi ini (penurunan stok energi) akan menjadi masalah,” tegas Sigit.

Setelah melalui konsultasi dan diskusi mendalam dengan pemerintah, akhirnya diputuskan untuk melakukan penyesuaian harga pada BBM nonsubsidi jenis Pertamax dan Pertamax Green.

“Kami ingin memberikan pesan bahwa ini (harga BBM) memang perlu naik karena kondisinya memang harus kami pastikan terkait dengan ketersediaan suplai di market,” ujar Sigit.

Pengumuman resmi mengenai kenaikan harga Pertamax dan Pertamax Green disampaikan oleh Pertamina Patra Niaga, yang berlaku mulai 10 Juni 2026. Berdasarkan siaran pers perusahaan yang diterima di Jakarta pada Selasa (9/6), harga Pertamax (RON 92) mengalami kenaikan dari Rp12.300 menjadi Rp16.250 per liter.

Sementara itu, Pertamax Green 95 (RON 95) mengalami kenaikan dari Rp12.900 menjadi Rp17.000 per liter. Pertamina juga menegaskan bahwa harga produk BBM lainnya tidak mengalami kenaikan.

Harga Pertamax Turbo (RON 98) tetap Rp20.750 per liter, Dexlite (CN 51) tetap Rp23.000 per liter, dan Pertamina Dex (CN 53) tetap Rp24.800 per liter. Untuk BBM bersubsidi, harga Pertalite masih dipasarkan seharga Rp10.000 per liter, dan Biosolar tetap Rp6.800 per liter.