Potensi Pasar Perhiasan RI Kuat Meski Harga Emas Naik

oleh -15 Dilihat
Potensi Pasar Perhiasan RI Kuat Meski Harga Emas Naik

KabarDermayu.com – Meskipun harga emas batangan mengalami lonjakan signifikan, Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita menyatakan bahwa potensi pasar industri perhiasan di Indonesia tetap kuat.

Menurut Menperin, kenaikan harga logam mulia memang mendorong minat masyarakat untuk berinvestasi pada emas batangan. Namun, ia menekankan bahwa perhiasan emas akan selalu memiliki nilai tambah karena tidak hanya berfungsi sebagai aset investasi, tetapi juga sebagai produk fesyen dan koleksi.

“Tren lonjakan harga logam mulia memang menggiurkan sebagai aset investasi. Namun jika dilihat lebih luas, sampai kapan pun masyarakat akan tetap membeli perhiasan emas, perak, batu mulia, dan batu permata, karena memiliki dua fungsi yaitu sebagai investasi dan aksesori yang bisa dipakai dan dikoleksi,” ujar Agus dalam keterangannya pada Jumat, 29 Mei 2026.

Data dari World Gold Council menunjukkan peningkatan permintaan emas batangan global sebesar 16 persen pada tahun 2025, mencapai 1.402 ton dibandingkan tahun sebelumnya yang sebesar 1.208 ton. Sementara itu, konsumsi perhiasan emas di Indonesia tercatat mengalami penurunan sebesar 27 persen pada tahun 2025, dari 22,8 ton pada tahun 2024 menjadi 16,6 ton.

Meskipun terjadi penurunan konsumsi perhiasan, Menperin menegaskan bahwa sektor ini masih memberikan kontribusi positif bagi perekonomian nasional dan neraca perdagangan Indonesia.

Nilai ekspor kumulatif barang perhiasan dan barang berharga menunjukkan pertumbuhan signifikan sebesar 64,72 persen pada tahun 2025. Nilai ekspor ini meningkat dari 5,5 miliar dolar AS pada tahun 2024 menjadi 9,1 miliar dolar AS pada tahun 2025.

Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka (IKMA) Kemenperin, Reni Yanita, menambahkan bahwa mayoritas pelaku industri kecil dan menengah (IKM) perhiasan masih memilih untuk fokus pada produksi perhiasan daripada beralih ke bisnis logam mulia.

“Industri perhiasan dinilai masih memiliki pasar yang kuat, baik untuk kebutuhan domestik maupun ekspor,” kata Reni.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) dan Sistem Informasi Industri Nasional (SIINas) yang dihimpun oleh Direktorat Industri Aneka Ditjen IKMA, terdapat 539 unit usaha industri perhiasan di Indonesia. Unit usaha ini terdiri dari 49 industri besar, 79 industri menengah, dan 411 industri kecil.

Industri perhiasan ini juga menyerap sebanyak 21.116 tenaga kerja di berbagai daerah di Indonesia.

Menurut Reni, daya saing industri perhiasan Indonesia terletak pada kreativitas desain dan identitas budaya lokal yang menjadi daya tarik di pasar global.

“Pelaku usaha juga dinilai memiliki fleksibilitas berinovasi menggunakan berbagai jenis material seperti emas, perak, hingga mineral lainnya sesuai kondisi pasar,” ujarnya. (Ant).

Baca juga: TNI AD Akan Tindak Tegas Anggota yang Melanggar

Harga emas produk PT Aneka Tambang Tbk (Antam) pada 20 Mei 2026 dibanderol seharga Rp 2.774.000 per gram, naik Rp 20.000 per gram dibandingkan hari sebelumnya. Sementara itu, harga emas global juga mengalami lonjakan.