Senjata Murah dan Rudal Serang: Strategi Pertahanan Asia Tenggara Melawan Tiongkok

oleh -3 Dilihat
Senjata Murah dan Rudal Serang: Strategi Pertahanan Asia Tenggara Melawan Tiongkok

KabarDermayu.com – Negara-negara di Asia Tenggara dinilai perlu melakukan perombakan strategi pertahanan mereka dalam menghadapi peningkatan kekuatan militer Tiongkok. Salah satu pendekatan yang diusulkan adalah dengan mengalihkan fokus anggaran pertahanan ke pengadaan peralatan militer yang memiliki mobilitas tinggi, biaya relatif rendah, namun sulit untuk dilawan.

Peralatan yang direkomendasikan mencakup rudal serang, drone berbiaya rendah, hingga sistem rudal permukaan-ke-udara yang bersifat bergerak. Dengan memperkuat kapabilitas ini, negara-negara di kawasan diharapkan dapat meningkatkan biaya dan risiko yang harus ditanggung oleh Tiongkok apabila memutuskan untuk melancarkan sebuah konflik militer.

Pendekatan ini disebut-sebut sejalan dengan taktik yang telah terbukti efektif dalam perang di Ukraina maupun konflik yang terjadi di Timur Tengah. Lebih lanjut, strategi ini juga dinilai memiliki kemiripan dengan cara Tiongkok dalam menghadapi Amerika Serikat, yaitu dengan mengandalkan sistem persenjataan yang sulit untuk dihancurkan, memakan biaya besar untuk dilawan, serta mampu membatasi akses lawan ke wilayah maritim tertentu.

Baca juga: Igor Tolic Pelatih Persib: Rekrut Mesin Gol Dinamo Zagreb Rp69 Miliar?

Strategi militer Tiongkok sendiri selama ini sangat mengedepankan kemampuan dalam mengumpulkan dan mendistribusikan informasi secara terintegrasi melalui jaringan sistem komunikasi dan operasi gabungan. Namun, sistem yang kompleks seperti ini ternyata memiliki kerentanan terhadap serangan dari peralatan bergerak yang sulit dideteksi.

Oleh karena itu, negara-negara Asia Tenggara dinilai berpotensi untuk menargetkan infrastruktur komunikasi militer Tiongkok, radar, pesawat pengintai, sensor, hingga stasiun komunikasi satelit yang merupakan elemen krusial dalam jaringan pertahanan Beijing. Gangguan terhadap sistem-sistem ini dipercaya dapat secara signifikan mengurangi kemampuan Tiongkok dalam memantau posisi lawan dan mengkoordinasikan operasi militernya.

Selain faktor sulit dilacak, salah satu keunggulan utama dari sistem bergerak adalah daya tahannya yang tinggi di medan perang modern. Sistem rudal permukaan-ke-udara, peluncur rudal, dan drone dapat mengimplementasikan taktik “tembak lalu berpindah”, yang secara otomatis membuatnya lebih sulit menjadi sasaran serangan balasan.

Keunggulan lain yang patut diperhatikan adalah faktor biaya yang jauh lebih efisien. Drone satu arah yang menggunakan baling-baling diketahui memiliki harga yang jauh lebih terjangkau jika dibandingkan dengan rudal pencegat yang dibutuhkan untuk menghancurkannya. Sebagai ilustrasi, drone Shahed-136 buatan Iran diperkirakan memiliki biaya produksi sekitar 20 ribu hingga 50 ribu dolar AS. Bandingkan dengan rudal pencegat yang digunakan oleh sistem pertahanan udara negara-negara Teluk dan Israel yang bisa mencapai 3 juta hingga 12 juta dolar AS per unitnya.

Dalam sebuah skenario konflik, negara-negara Asia Tenggara dapat memanfaatkan drone murah ini untuk memaksa Tiongkok menghabiskan stok rudal pencegat mereka yang mahal dan jumlahnya terbatas. Setelah pertahanan udara Tiongkok melemah, serangan lanjutan menggunakan rudal atau roket dapat dilancarkan dengan tingkat efektivitas yang lebih tinggi.

Taktik serupa juga dilaporkan telah diterapkan oleh Iran dalam konflik yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel. Iran mengombinasikan rudal serang dan drone berbiaya rendah untuk menargetkan pangkalan militer serta infrastruktur komunikasi lawan.

Meskipun demikian, terdapat sejumlah tantangan signifikan yang harus dihadapi oleh negara-negara Asia Tenggara apabila ingin berhasil mengimplementasikan strategi pertahanan ini. Salah satu tantangan utamanya adalah keterbatasan kemampuan dalam pengawasan dan intelijen. Untuk mengatasi hal ini, para ahli berpendapat bahwa negara-negara di kawasan perlu meningkatkan penggunaan drone pengintai.

Tantangan lain datang dari orientasi kebijakan militer di sebagian besar negara Asia Tenggara yang selama ini cenderung lebih berfokus pada ancaman internal. Oleh karena itu, angkatan bersenjata di kawasan ini dinilai perlu mulai mengalihkan perhatian mereka secara lebih serius kepada ancaman eksternal dan memperkuat doktrin operasi gabungan dengan negara-negara lain di kawasan.