KabarDermayu.com – Dalam rangka memperingati Hari Buruh Internasional yang jatuh pada 1 Mei dan Hari Guru di Iran yang diperingati pada 2 Mei, Pemimpin Besar Revolusi Islam, Ayatullah Sayid Mojtaba Khamenei, menyampaikan pesan yang sarat makna dan inspirasi.
Pesan ini, yang disiarkan oleh IRNA pada 1 Mei 2026, menekankan peran krusial para guru dalam ranah budaya dan para buruh dalam ranah ekonomi. Keduanya digambarkan sebagai pilar utama yang menopang kemajuan sebuah bangsa.
Mojtaba Khamenei menyatakan bahwa tanggal 1 dan 2 Mei merupakan momen penting untuk menghormati martabat serta posisi para buruh dan guru. Lebih dari sekadar penghormatan seremonial, kemajuan suatu negara sangat bergantung pada dua aspek fundamental: ilmu yang diperoleh dari para guru dan amal yang dihasilkan oleh para buruh.
Peran guru, menurut Khamenei, sangat vital sejak tahap awal pembentukan generasi penerus. Pundak para pendidik memikul tanggung jawab besar dalam transfer pengetahuan, peningkatan keterampilan, serta pembentukan wawasan dan identitas anak didik.
Baca juga di sini: Trio Macan Bangkit Kembali, Generasi Z Memimpin dengan Lagu Bernuansa Indonesia Timur
Ia menambahkan bahwa para siswa, mahasiswa, dan santri yang dididik oleh para guru akan segera mengaplikasikan ilmu dan keterampilan yang mereka peroleh. Perilaku, ucapan, dan karakter mereka di berbagai lini kehidupan, mulai dari lingkungan keluarga hingga tempat kerja dan ruang publik, akan mencerminkan nilai-nilai yang ditanamkan oleh para pendidik mereka.
Di sisi lain, ruang kerja dipandang sebagai panggung luas yang membentang dari rumah tangga, perkantoran, unit usaha, hingga sektor produksi seperti ladang, bengkel, pabrik, tambang, dan berbagai layanan jasa. Kemajuan negara akan semakin terjamin apabila panggung ini diisi dengan kerja keras dan komitmen yang tinggi, yang merupakan kunci dari setiap pencapaian besar.
Khamenei juga menyoroti bahwa seorang buruh, berkat komitmen dan kerja kerasnya, terkadang mencapai posisi yang membuatnya layak untuk dihargai, layaknya tangan guru yang penuh kasih. Penghargaan ini bisa diibaratkan sebagai ungkapan terima kasih atas keterampilan dan dedikasi mereka, yang juga dapat dipelajari dari peran orang tua sebagai pendidik pertama dan dari pengalaman bersama para guru.
Dalam konteks perjuangan Republik Islam Iran yang telah berlangsung lebih dari 47 tahun, Khamenei mengingatkan bahwa negara ini telah membuktikan kemampuannya dalam menghadapi musuh-musuh kemajuan, terutama dalam dimensi militer. Kini, saatnya untuk mengalahkan musuh melalui “jihad ekonomi dan budaya.”
Ia menegaskan kembali bahwa guru adalah elemen paling efektif dalam perang budaya, sementara buruh adalah elemen paling efektif dalam perang ekonomi. Keduanya adalah tulang punggung bagi kemajuan budaya dan ekonomi. Oleh karena itu, penting bagi mereka untuk menyadari posisi strategis mereka yang melampaui sekadar imbalan upah.
Penghargaan terhadap guru dan buruh tidak seharusnya hanya bersifat seremonial atau tahunan. Penghargaan tersebut harus lebih mendalam dan nyata. Khamenei berharap masyarakat Iran dapat menunjukkan dukungan yang kuat kepada para guru dan buruh, sebagaimana dukungan yang telah diberikan kepada personel militer.
Salah satu bentuk dukungan nyata yang dapat dilakukan adalah dengan meningkatkan interaksi keluarga siswa dan mahasiswa dalam pengelolaan sekolah dan universitas. Selain itu, memprioritaskan konsumsi produk dalam negeri menjadi sangat penting.
Ia menyerukan dukungan kepada para buruh produktif, terutama bagi para pemilik usaha. Ditekankan agar mereka sebisa mungkin menghindari pemutusan hubungan kerja (PHK) dan memandang setiap buruh sebagai aset berharga bagi unit produksi dan jasa. Pemerintah juga diharapkan memberikan dukungan yang memadai untuk upaya positif ini.
Khamenei optimis bahwa Iran, setelah melalui perjuangan panjang dan menunjukkan kekuatan militer, akan mencapai puncak kemajuan dan keunggulan melalui penguatan identitas Islam-Iran pada generasi muda, yang dibimbing oleh para guru. Hal ini akan semakin dipercepat dengan memprioritaskan konsumsi produk dalam negeri, yang merupakan hasil kerja keras para buruh Iran.





