Presiden Iran: Mojtaba Khamenei Harus Setujui Semua Keputusan

oleh -6 Dilihat
Presiden Iran: Mojtaba Khamenei Harus Setujui Semua Keputusan

KabarDermayu.com – Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, menegaskan bahwa seluruh keputusan penting di negara itu harus mendapatkan persetujuan dari Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Seyyed Mojtaba Khamenei. Pernyataan ini disampaikan saat ia bertemu dengan jajaran pimpinan Islamic Republik of Iran Broadcasting (IRIB) pada Minggu, 24 Mei 2026.

Penegasan ini muncul di tengah mendekatnya finalisasi nota kesepahaman dalam perundingan perdamaian antara Amerika Serikat dan Iran. Pezeshkian menekankan pentingnya kesatuan suara Iran di kancah internasional.

“Tidak ada keputusan di Republik Islam Iran yang akan diambil di luar kerangka Dewan Keamanan Nasional Tertinggi (SNSC) dan tanpa koordinasi serta izin dari Pemimpin,” ujar Pezeshkian. Ia menambahkan bahwa ketika sebuah keputusan diplomasi diambil, semua lembaga dan platform harus mendukungnya agar pesan Iran kepada dunia tetap satu dan selaras.

Presiden Iran juga menyoroti bahwa salah satu tujuan utama musuh dalam perang agresi baru-baru ini adalah membungkam suara kebenaran dan narasi pencerahan yang disebarkan oleh IRIB. Ia menyampaikan apresiasi mendalam kepada seluruh staf media nasional Iran, khususnya mereka yang bekerja di lapangan untuk melaporkan perkembangan situasi.

“Jika kita semua bergerak bersama dalam kerangka arahan Pemimpin dan menjaga solidaritas nasional, musuh tidak akan pernah berhasil mencapai tujuannya terhadap negara ini,” tegasnya.

Lebih lanjut, Pezeshkian mengecam keras kelompok-kelompok yang dianggap bermusuhan dan anti-Iran. Kelompok-kelompok ini secara terbuka berharap Amerika Serikat dan rezim Zionis dapat menghancurkan serta memecah belah Iran.

“Mereka harus mempertanggungjawabkan sikapnya di hadapan nurani bangsa,” tegasnya.

Baca juga: Prabowo Diminta Lakukan Hal Ini Atasi Anjloknya Rupiah dan IHSG

Konflik antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel dimulai pada 28 Februari dengan serangan udara yang menewaskan sejumlah pejabat dan komandan senior Iran. Sebagai respons, angkatan bersenjata Iran melancarkan 100 gelombang serangan terhadap target-target strategis milik AS dan Israel di berbagai wilayah.

Pada 8 April, tepat 40 hari sejak perang dimulai, gencatan senjata sementara yang dimediasi oleh Islamabad mulai berlaku. Namun, putaran pertama negosiasi antara Teheran dan Washington belum membuahkan hasil kesepakatan.

Amerika Serikat kemudian memperpanjang gencatan senjata secara sepihak setelah masa berlakunya habis. Meskipun demikian, AS tetap memberlakukan apa yang disebut sebagai “blokade laut” yang tidak manusiawi terhadap Iran.

Hingga kini, Teheran belum menunjukkan komitmen untuk melanjutkan putaran kedua perundingan. Pihak berwenang Iran mengidentifikasi tuntutan yang berlebihan dari Washington dan aksi pembajakan kapal-kapal Iran sebagai dua hambatan utama dalam upaya mengakhiri perang.

Pezeshkian menegaskan kembali bahwa keputusan strategis negara harus selalu berada di bawah persetujuan Pemimpin Tertinggi. Hal ini penting untuk memastikan konsistensi dan kekuatan posisi Iran di mata internasional.

Penting untuk dicatat bahwa pernyataan Presiden Pezeshkian ini mencerminkan dinamika politik internal Iran dan posisinya dalam negosiasi internasional. Solidaritas internal menjadi kunci dalam menghadapi tekanan eksternal.

Pezeshkian juga menekankan peran vital media dalam menyebarkan narasi yang benar dan mencerahkan. Ia melihat upaya membungkam media sebagai salah satu taktik musuh untuk melemahkan Iran.

Solidaritas nasional, menurut Pezeshkian, adalah benteng pertahanan terkuat Iran. Dengan bersatu di bawah arahan Pemimpin Tertinggi, Iran dapat menangkis segala upaya destabilisasi dari pihak luar.

Pernyataan keras terhadap kelompok-kelompok anti-Iran menunjukkan bahwa Teheran tidak akan tinggal diam terhadap pihak-pihak yang berusaha memecah belah bangsa dari dalam maupun luar.

Peristiwa agresi yang terjadi pada 28 Februari menjadi titik balik penting dalam hubungan Iran dengan AS dan Israel. Respons militer Iran menunjukkan kesiapan mereka untuk membela kedaulatan negara.

Proses negosiasi perdamaian yang dimediasi oleh Islamabad menunjukkan adanya upaya diplomasi, meskipun jalannya masih berliku. Gencatan senjata sementara menjadi jeda penting dalam konflik yang telah berlangsung.

Perpanjangan gencatan senjata sepihak oleh AS, diiringi dengan blokade laut, menimbulkan pertanyaan mengenai itikad baik dalam upaya penyelesaian konflik. Iran menilainya sebagai tindakan yang tidak manusiawi.

Tuntutan berlebihan dan pembajakan kapal menjadi alasan utama Iran menunda kelanjutan perundingan. Hal ini menunjukkan adanya perbedaan mendasar dalam pandangan kedua belah pihak mengenai penyelesaian konflik.