Industri Kemasan Pangan Capai Triliunan, Bahaya Plastik Daur Ulang Jadi Perhatian

oleh -6 Dilihat
Industri Kemasan Pangan Capai Triliunan, Bahaya Plastik Daur Ulang Jadi Perhatian

KabarDermayu.com – Badan Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa (FAO) telah mengeluarkan peringatan penting terkait penggunaan plastik daur ulang untuk kemasan makanan. Organisasi internasional ini menekankan perlunya pengawasan yang lebih ketat untuk mencegah potensi kontaminasi kimia pada produk pangan.

Dalam laporan terbarunya, FAO mengakui bahwa daur ulang plastik merupakan langkah krusial dalam upaya mengatasi krisis limbah global yang semakin memburuk. Namun, FAO juga menyoroti bahwa sistem daur ulang yang tidak terkontrol dengan baik dapat membuka celah bagi munculnya masalah baru, terutama terkait keamanan pangan.

Vittorio Fattori, seorang pejabat keamanan pangan di FAO, sebagaimana dikutip dari situs resmi mereka pada Kamis, 14 Mei 2026, menyatakan bahwa sampah plastik memang menjadi isu global yang terus meningkat. Menurutnya, daur ulang yang lebih baik dan efektif adalah fondasi penting dalam mencari solusi atas permasalahan ini.

Fattori melanjutkan, “Meskipun kita perlu meningkatkan upaya dalam mengurangi polusi plastik dan memperbaiki sistem daur ulang, kita harus tetap waspada. Dalam menyelesaikan satu masalah di satu sektor, kita tidak boleh secara tidak sengaja menciptakan masalah baru di sektor lain.”

FAO menjelaskan bahwa kemasan makanan memiliki standar keamanan yang jauh lebih ketat dibandingkan dengan produk daur ulang lainnya. Hal ini dikarenakan kemasan makanan bersentuhan langsung dengan apa yang dikonsumsi oleh manusia. Material plastik, dalam proses produksinya, dapat mengandung ribuan zat kimia yang beragam.

Baca juga: Gedung Putih: Trump dan Xi Jinping Sepakat Selat Hormuz Tetap Terbuka

Zat-zat kimia tersebut meliputi bahan tambahan seperti stabilizer, pewarna, dan plasticizer. Selain itu, proses daur ulang itu sendiri dapat menambah kompleksitas risiko kontaminasi. Potensi kontaminan tambahan bisa berasal dari logam berat, bahan kimia tahan api, hingga senyawa organik persisten yang mungkin ada dalam limbah plastik.

Menurut catatan FAO, plastik daur ulang dapat dianggap lebih aman jika melalui tahapan pembersihan dan dekontaminasi yang sangat ketat. Pengawasan yang kuat dari regulator juga menjadi kunci penting untuk memastikan keamanan produk akhir.

Sementara itu, nilai pasar global untuk kemasan makanan menunjukkan tren pertumbuhan yang signifikan. Pada tahun 2024, pasar ini diperkirakan bernilai sekitar US$505 miliar atau setara dengan Rp8.585 triliun. Proyeksi menunjukkan angka ini akan terus meningkat, menembus lebih dari US$815 miliar atau sekitar Rp13.855 triliun pada tahun 2030.

Namun, FAO juga memberikan gambaran suram mengenai efektivitas daur ulang saat ini. Dinyatakan bahwa kurang dari 10 persen dari total limbah plastik global berhasil didaur ulang. Meskipun demikian, angka ini diperkirakan akan mengalami peningkatan seiring dengan semakin kuatnya dorongan kebijakan keberlanjutan di berbagai negara.

Selain plastik, FAO juga memberikan perhatian pada bahan-bahan alternatif yang mulai banyak digunakan dalam industri kemasan. Bahan-bahan seperti bioplastik, serat tanaman, dan material berbasis protein seringkali disebut sebagai pilihan yang ramah lingkungan.

Namun, FAO mengingatkan bahwa bahan-bahan alternatif ini tidak selalu dapat terurai secara alami dan tetap memiliki potensi risiko tersendiri. Beberapa material yang berasal dari tanaman mungkin masih mengandung residu pestisida atau logam berat yang berasal dari proses pertanian.

Sementara itu, bahan berbasis protein berpotensi menimbulkan masalah perpindahan alergen, seperti gluten, ke dalam makanan kemasan. Hal ini menjadi perhatian serius bagi konsumen dengan riwayat alergi.

Isu lain yang juga menjadi sorotan adalah keberadaan mikroplastik dan nanoplastik. Partikel-partikel kecil ini kini telah ditemukan di berbagai bagian tubuh manusia. Meskipun paparan terhadap mikroplastik dan nanoplastik sudah terbukti meluas, FAO menilai bahwa metode pengukuran dan standar global untuk mendeteksinya masih belum seragam.

Ketidakseragaman standar ini menyebabkan risiko jangka panjang dari paparan mikroplastik dan nanoplastik belum sepenuhnya dapat dipahami. FAO juga menekankan bahwa fasilitas daur ulang itu sendiri berpotensi menjadi sumber mikroplastik jika proses pengolahan tidak dilakukan dengan standar yang memadai. Masalah ini terutama rentan terjadi pada tahap pemecahan material plastik.

Menutup pernyataannya, Fattori kembali menegaskan pentingnya proses daur ulang yang terkontrol dengan baik. “Semua ini harus dimulai dengan proses daur ulang yang terkontrol dengan baik, termasuk pembersihan dan penghilangan kontaminan kimia,” ujar Fattori.