KabarDermayu.com – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) diprediksi masih akan bergerak fluktuatif, namun ditutup melemah pada perdagangan hari ini.
Berdasarkan data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate atau Jisdor BI, kurs rupiah terhadap dolar Amerika Serikat berada di level Rp 17.496 pada Rabu, 13 Mei 2026. Posisi rupiah itu menguat 18 poin dari kurs sebelumnya di level Rp 17.514 pada perdagangan Selasa, 12 Mei 2026.
Sementara perdagangan di pasar spot pada Jumat 15 Mei 2026 hingga pukul 09.00 WIB rupiah ditransaksikan di Rp 17.604 per dolar AS. Posisi itu melemah 75 poin atau 0,43 persen dari posisi sebelumnya di level Rp 17.529 per dolar AS.
Pengamat ekonomi dan pasar uang, Ibrahim Assuaibi mengatakan, pemerintah melalui Menteri Keuangan mengaku posisi utang pemerintah yang hampir menyentuh angka Rp 10.000 triliun atau tepatnya Rp 9.920,42 triliun sampai akhir Maret 2026 masih aman. Sejatinya jumlah utang pemerintah tersebut naik sebesar Rp 282,52 triliun dibandingkan posisi akhir Desember 2025 yang sebesar Rp 9.637,90 triliun.
Dilihat dari rasio utang terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), jumlah itu masih di posisi 40,75 persen atau di bawah batas aman Undang-Undang Keuangan Negara yang sebesar 60 persen PDB. Rasio utang Indonesia masih lebih rendah dibandingkan negara lain, karena pemerintah dalam hal ini mengelola utang secara cermat dan terukur. Menurutnya, utang Singapura di level 180 persen terhadap PDB, Malaysia lebih dari 60 persen dari PDB.
Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan mencatat, posisi utang pemerintah mencapai Rp 9.920,42 triliun per 31 Maret 2026. Angka ini naik 2,9 persen dari level Rp 9.637,99 triliun pada Desember 2025.
Posisi utang pemerintah sampai akhir kuartal I-2026 itu setara dengan 40,75 persen terhadap PDB. Dari total tersebut, mayoritas utang masih berasal dari penerbitan Surat Berharga Negara (SBN) yang mencapai Rp 8.652,89 triliun atau sekitar 87,22 persen dari total utang pemerintah.
Sementara itu, meski Kamis-Jumat cuti bersama, Bank Indonesia terus melakukan intervensi di pasar off-shore (Non Deliverable Forward/ NDF), guna stabilisasi nilai tukar rupiah dari tingginya tekanan global. Intervensi di pasar off-shore dilakukan BI secara berkesinambungan di pasar New York AS, Asia, dan Eropa.
BI juga akan melakukan intervensi secara agresif di pasar domestik sejak awal pembukaan tanggal 18 Mei 2026 dengan intervensi di pasar valas (spot dan DNDF) serta pembelian SBN (Surat Berharga Negara) di pasar sekunder.
“Mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp 17.470—Rp 17.530,” ujarnya.
Sebagai informasi, sentimen pasar tetap rapuh setelah Trump mengatakan awal pekan ini bahwa negosiasi dengan Iran berada dalam kondisi “kritis”, menyusul penolakan Teheran terhadap proposal yang didukung AS yang bertujuan untuk mengakhiri konflik dan membuka kembali Selat Hormuz.
Baca juga: Residivis Pembobol Toko Gadai di Gowa Terkena Tembakan Saat Tertangkap Polisi
Komentar tersebut meredam optimisme atas gencatan senjata jangka pendek dan menjaga ketidakpastian geopolitik tetap tinggi. Konflik yang berkepanjangan telah mengganggu pengiriman melalui Selat Hormuz, jalur transit minyak global utama, yang memicu kekhawatiran akan inflasi yang berkelanjutan akibat kenaikan harga energi dan mempersulit prospek suku bunga.
6 Strategi Investasi Dolar AS untuk Pemula, Cara Mudah Mulai Investasi Mata Uang Asing
Strategi investasi dolar AS untuk pemula di Indonesia, mulai dari diversifikasi hingga instrumen reksa dana USD agar lebih aman menghadapi fluktuasi kurs global
VIVA.co.id
15 Mei 2026





