Iran: Militer AS di Timur Tengah Pemicu Ketidakamanan

oleh -7 Dilihat
Iran: Militer AS di Timur Tengah Pemicu Ketidakamanan

KabarDermayu.com – Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, menyatakan bahwa kehadiran militer Amerika Serikat di Asia Barat justru menjadi sumber ketidakamanan bagi kawasan tersebut. Pernyataan ini disampaikan saat ia bertemu dengan Menteri Dalam Negeri Pakistan, Mohsin Naqvi, di Tehran pada Minggu, 17 Mei waktu setempat.

Ghalibaf menekankan bahwa peristiwa terkini telah membuktikan bahwa ketergantungan pada Amerika Serikat tidak menjamin keamanan. Sebaliknya, kehadiran AS telah menciptakan ketidakamanan dan ketidakstabilan.

Ia menambahkan bahwa Amerika Serikat dan Israel hanya membawa kejahatan dan ketidakstabilan melalui perang, intervensi, serta kebijakan tekanan terhadap negara-negara di kawasan.

Oleh karena itu, Ghalibaf menegaskan pentingnya negara-negara di kawasan untuk memperkuat kerja sama. Ia menyerukan pembangunan sistem keamanan yang didasarkan pada kepercayaan dan koordinasi, tanpa adanya campur tangan pihak asing.

“Solusi dari kondisi ini adalah negara-negara di kawasan mengandalkan kepercayaan dan kerja sama satu sama lain,” ujar Ghalibaf.

Sementara itu, Mohsin Naqvi mengapresiasi hubungan yang semakin erat antara Teheran dan Islamabad dalam beberapa bulan terakhir. Ia memuji sikap Iran dalam perundingan di Islamabad.

Menurut Naqvi, Iran tetap tegas dalam membela kepentingan nasionalnya sembari terus mencari jalan untuk menyelesaikan konflik dengan Amerika Serikat. Ia melihat Iran berupaya mempertahankan kepentingannya namun juga berusaha menyelesaikan konflik.

Naqvi juga menyatakan harapan agar Islamabad dapat berkontribusi dalam membawa negosiasi menuju hasil yang positif.

Ghalibaf, yang berperan sebagai negosiator utama Iran dalam perundingan damai yang dimediasi Pakistan di Islamabad, turut memuji dukungan Pakistan terhadap Republik Islam Iran.

Pakistan memang berperan sebagai mediator negosiasi tidak langsung antara Teheran dan Washington. Hal ini terjadi setelah kedua pihak menyepakati gencatan senjata menyusul 40 hari pertempuran sengit yang dimulai pada 8 April.

Upaya diplomatik maraton selama 21 jam di Islamabad pada 11-12 April sempat diharapkan menghasilkan kesepakatan. Namun, perundingan tersebut akhirnya menemui kegagalan akibat adanya tuntutan yang dianggap berlebihan dari pihak Amerika Serikat.

Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, dalam pernyataan terbarunya, mengungkapkan bahwa proses mediasi Pakistan belum sepenuhnya gagal, namun tengah menghadapi berbagai kesulitan.

Baca juga: Anggaran Alutsista Signifikan: Purbaya Pastikan Siap Tahun Depan

Araghchi juga menyoroti adanya pesan yang saling bertentangan dari Amerika Serikat. Ia menegaskan bahwa Teheran hanya akan melanjutkan negosiasi jika Washington menunjukkan keseriusan yang nyata.