Pemerintah Diminta Segera Bebaskan Jurnalis yang Ditangkap Israel

oleh -10 Dilihat
Pemerintah Diminta Segera Bebaskan Jurnalis yang Ditangkap Israel

KabarDermayu.com – Komisi I DPR RI mendesak Pemerintah Indonesia untuk segera mengambil tindakan tegas guna membebaskan jurnalis Indonesia yang ditangkap oleh pasukan Israel saat menjalankan misi kemanusiaan di Gaza, Palestina.

Anggota Komisi I DPR RI, Slamet Ariyadi, menyatakan keprihatinannya atas insiden penangkapan jurnalis tersebut. Ia menilai tindakan Israel tidak dapat ditoleransi, terlebih karena telah mencegat setidaknya 39 kapal yang berupaya menuju Gaza.

“Penangkapan Bambang Noroyono, seorang jurnalis Warga Negara Indonesia oleh tentara Israel, bukan sekadar insiden biasa. Ini adalah alarm keras bagi dunia tentang ancaman nyata terhadap kebebasan pers dan keselamatan warga sipil di wilayah konflik,” ujar Slamet dalam keterangan tertulisnya pada Selasa, 19 Mei 2026.

Slamet, yang juga merupakan kader muda Partai Amanat Nasional (PAN), menekankan bahwa para jurnalis yang berlayar menuju Gaza tengah menjalankan tugas profesional mereka untuk menyampaikan informasi kepada publik.

“Tindakan tersebut tidak bisa ditoleransi dalam bentuk apa pun, terlebih terhadap seorang jurnalis yang menjalankan tugas profesionalnya untuk menyampaikan kebenaran kepada publik,” tegasnya.

Baca juga: Bank Indonesia Gandeng GoPay: Lindungi Guru & Siswa Transaksi Digital Aman

Ia menambahkan bahwa Israel bertindak sewenang-wenang dalam penangkapan tersebut. Menurut Slamet, tindakan ini juga merupakan pelanggaran terhadap hak asasi manusia (HAM) serta norma-norma internasional.

“Kami mengecam keras tindakan aparat Israel yang secara sewenang-wenang menahan jurnalis. Praktik seperti ini mencederai prinsip-prinsip hak asasi manusia dan melanggar norma internasional yang menjamin perlindungan terhadap jurnalis, bahkan di tengah konflik sekalipun,” katanya.

Oleh karena itu, Slamet mendesak Pemerintah Indonesia untuk segera bertindak cepat dan tegas. Salah satu langkah yang diusulkan adalah melalui diplomasi tingkat tinggi.

“Diplomasi tingkat tinggi perlu digerakkan, termasuk koordinasi intensif dengan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), untuk memberikan tekanan internasional kepada Israel agar segera membebaskan Bambang Noroyono tanpa syarat,” ujar Slamet.

Ia juga menekankan pentingnya keterlibatan aktif Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia dalam membangun komunikasi dengan berbagai pihak internasional. Menurutnya, Indonesia harus berada di garda terdepan dalam memperjuangkan keselamatan warganya sekaligus menunjukkan komitmen terhadap perlindungan kebebasan pers di tingkat global.

“Kasus ini menjadi ujian nyata bagi keberpihakan negara terhadap rakyatnya. Keselamatan WNI di luar negeri adalah harga mati. Tidak boleh ada kompromi. Pemerintah harus hadir, bertindak cepat, dan memastikan Bambang Noroyono dapat kembali ke tanah air dengan selamat,” pungkasnya.

Diketahui, perjalanan Bambang Noroyono dan rekannya, Thoudy Badai, sesama jurnalis Republika, dimulai dari Turki pada awal Mei 2026. Mereka bergabung dalam sebuah kapal untuk menjemput armada Global Sumud Flotilla yang sebelumnya tertahan di perairan Yunani selama kurang lebih seminggu.

Pada Sabtu malam, 9 Mei 2026, kapal-kapal kemanusiaan yang menunggu di wilayah selatan Turki bergerak menuju perairan perbatasan Turki dan Yunani untuk menjemput sedikitnya 32 armada. Setelah proses penggabungan armada selesai, sekitar 50 kapal kemanusiaan gabungan GSF kemudian bersandar di Dermaga Albatros.

Dari lokasi tersebut, armada bersiap melanjutkan misi pelayaran untuk menembus blokade Gaza, Palestina. Dalam unggahan video Republika pada 10 Mei 2026, Bambang Noroyono dan Thoudy Badai terlihat turut serta dalam rombongan misi kemanusiaan internasional tersebut.

Situasi mulai memanas pada Senin, 18 Mei 2026, sekitar pukul 11.00 waktu Turki. Pasukan Israel dilaporkan memulai intersepsi terhadap armada Global Sumud yang sedang bergerak di perairan Siprus, berjarak sekitar 200 mil laut dari Gaza.

Sebelum komunikasi terputus, Bambang Noroyono sempat melaporkan keberadaan kapal-kapal perang Israel yang mendekati armada yang ia tumpangi. Kapal perang tersebut dilaporkan hanya berjarak sekitar seratus meter dari kapal Boralize yang dinaiki para relawan.

Tak lama setelah itu, muncul laporan bahwa Bambang Noroyono diculik oleh tentara Israel dalam operasi intersepsi tersebut. Thoudy Badai, yang juga berada dalam rombongan relawan, dilaporkan ikut menjadi korban penculikan.