Tiongkok Menanggapi Penghentian Penjualan Senjata AS ke Taiwan

oleh -7 Dilihat
Tiongkok Menanggapi Penghentian Penjualan Senjata AS ke Taiwan

KabarDermayu.com – Kementerian Luar Negeri China menegaskan kembali sikap penolakannya terhadap penjualan senjata oleh Amerika Serikat ke Taiwan, meskipun AS menghentikan sementara aktivitas tersebut. Penghentian sementara ini dilaporkan berkaitan dengan situasi perang yang sedang berlangsung di Iran.

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China, Guo Jiakun, menyatakan dalam sebuah konferensi pers di Beijing pada Jumat, 22 Mei 2026, bahwa posisi China mengenai penjualan senjata AS ke Taiwan bersifat konsisten, jelas, dan tegas.

Sebelumnya, Amerika Serikat mengumumkan penundaan penjualan senjata senilai 14 miliar dolar AS, atau sekitar Rp248 triliun, kepada Taiwan. Keputusan ini diambil di tengah berlanjutnya perang dengan Iran.

Presiden AS Donald Trump sendiri telah memberikan indikasi bahwa penundaan penjualan senjata ke Taiwan ini dapat berfungsi sebagai “alat negosiasi” dengan China.

Trump diketahui telah membahas isu ini secara mendalam dengan Presiden China Xi Jinping dalam lawatannya ke China pada 13-15 Mei. Keputusan akhir mengenai penjualan senjata tersebut diharapkan akan segera diambil.

Baca juga: PRULady: Perlindungan Kanker Payudara dari Prudential Indonesia

Guo Jiakun juga menambahkan bahwa China tetap tidak memberikan persetujuan terhadap segala bentuk pertukaran resmi antara Amerika Serikat dan wilayah Taiwan.

“China mendesak Amerika Serikat untuk mengimplementasikan pemahaman bersama yang penting antara kedua pemimpin China dan AS, menghormati komitmen dan pernyataannya, serta berhati-hati dalam menangani masalah Taiwan,” ujar Guo Jiakun.

Ia melanjutkan, “Berhenti mengirimkan pesan yang salah kepada kekuatan separatis ‘kemerdekaan Taiwan’, dan menjaga perdamaian serta stabilitas di Selat Taiwan, serta momentum perkembangan hubungan China-AS yang stabil dengan tindakan nyata.”

Amerika Serikat sendiri telah mematuhi “Six Assurances” selama beberapa dekade. Prinsip-prinsip kebijakan luar negeri ini mengatur hubungan AS-Taiwan sejak 1982, masa pemerintahan Presiden Ronald Reagan. Salah satu kesepakatan dalam prinsip tersebut menyatakan bahwa AS tidak akan berkonsultasi dengan China terkait penjualan senjata ke Taiwan.

Sementara itu, Pelaksana Tugas (Plt.) Menteri Angkatan Laut AS, Hung Cao, menjelaskan bahwa keputusan penundaan penjualan senjata ke Taiwan akan menjadi tanggung jawab Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth dan Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio.

Menteri Cao menegaskan bahwa militer Amerika Serikat masih memiliki persediaan rudal dan sistem pencegat yang memadai, meskipun muncul sorotan terkait laporan mengenai menipisnya persediaan amunisi AS.

“Saat ini, kami sedang menghentikan sementara (penjualan senjata ke Taiwan) untuk memastikan kami memiliki amunisi yang cukup untuk operasi Epic Fury. Sebenarnya kami punya banyak amunisi, namun kami hanya memastikan kami memiliki semuanya,” kata Menteri Cao dalam Sidang Komite Senat pada Kamis, 21 Mei 2026.

Meskipun Menteri Cao menyatakan stok amunisi militer AS masih memadai, berbagai laporan mengindikasikan bahwa militer Amerika telah menggunakan ribuan rudal sejak perang Iran dimulai pada 28 Februari lalu.

Penggunaan amunisi tersebut dilaporkan telah menghabiskan hampir separuh stok rudal jelajah siluman jarak jauh milik Pentagon. Selain itu, cadangan rudal Tomahawk, rudal pencegat Patriot, rudal Precision Strike, dan rudal berbasis darat ATACMS juga mengalami pengurangan.

Gedung Putih dilaporkan sedang merencanakan permintaan dana tambahan kepada Kongres sebesar 80 hingga 10 miliar dolar AS, atau sekitar Rp1,7 kuadriliun, untuk keperluan perang Iran.