Iran Pertimbangkan Serahkan Uranium yang Diperkaya ke China, Respons Beijing

oleh -9 Dilihat
Iran Pertimbangkan Serahkan Uranium yang Diperkaya ke China, Respons Beijing

KabarDermayu.com – Iran kini tengah mempertimbangkan opsi untuk menyerahkan uranium yang telah diperkaya hingga 60 persen kepada China. Uranium ini saat ini tersimpan di bawah reruntuhan fasilitas nuklir yang sebelumnya mengalami pengeboman. Keputusan ini memicu spekulasi, mengingat China merupakan sekutu dekat Iran dan memiliki kapasitas untuk mengubah uranium tersebut menjadi senjata dalam waktu singkat.

Beberapa laporan media telah mengindikasikan kemungkinan ini, dan China belum memberikan bantahan resmi. Tanggapan yang muncul dari Kementerian Luar Negeri China justru terkesan membuka ruang bagi kemungkinan tersebut.

Dalam sebuah konferensi pers pada hari Selasa, Kementerian Luar Negeri China menyatakan bahwa sejak pecahnya konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran, China telah menjaga komunikasi intensif dengan semua pihak terkait, termasuk Iran. China menegaskan komitmennya untuk terus berupaya menghentikan pertempuran dan mempromosikan perdamaian di kawasan tersebut.

Lebih lanjut, kementerian tersebut menambahkan bahwa China akan terus menjunjung tinggi semangat usulan empat poin yang diajukan oleh Presiden Xi Jinping. Tujuannya adalah untuk memainkan peran positif dalam memulihkan kedamaian dan ketenangan di Timur Tengah dan kawasan Teluk sesegera mungkin.

Mengenai isu nuklir Iran, China secara konsisten mendukung penyelesaian damai melalui dialog dan negosiasi. Beijing berharap semua pihak terkait dapat memanfaatkan kesempatan yang ada untuk mencapai solusi yang mempertimbangkan kekhawatiran sah dari semua pihak melalui perundingan.

China juga menyatakan kesediaannya untuk terus berkontribusi secara konstruktif dalam penyelesaian politik dan diplomatik isu nuklir Iran. Hal ini termasuk upaya menjaga rezim non-proliferasi nuklir internasional serta mempromosikan perdamaian dan stabilitas di Timur Tengah dan dunia.

Namun, belum jelas apakah usulan penyerahan uranium yang diperkaya 60% kepada China ini merupakan posisi yang benar-benar diinginkan Iran dalam konteks negosiasi nuklir secara keseluruhan. Ada kemungkinan ini juga merupakan upaya Iran untuk menyelidiki respons atau menekan Amerika Serikat terkait isu tersebut.

Perlu diingat bahwa berdasarkan kesepakatan nuklir yang dicapai pada tahun 2015 di era pemerintahan Obama, sebagian besar uranium Iran yang diperkaya, baik tingkat rendah maupun menengah (20%, 5%, dan 3,67%), ditransfer ke Rusia. Jumlah uranium tersebut secara teoritis cukup untuk sekitar 10 senjata nuklir jika dipersenjatai.

Namun, tingkat kepercayaan antara Amerika Serikat di satu sisi, dengan Rusia dan China di sisi lain, telah mengalami penurunan yang signifikan sejak saat itu. Hal ini menciptakan dinamika baru dalam hubungan internasional dan potensi kerja sama nuklir.

Perjanjian Nuklir AS dan Rusia Berakhir

Pada tahun 2015, Amerika Serikat dan Rusia memiliki serangkaian perjanjian senjata nuklir bilateral yang substansial. Perjanjian ini mencakup kehadiran tim inspeksi dari kedua negara di fasilitas nuklir masing-masing untuk memastikan kepatuhan terhadap kewajiban bersama.

Namun, selama masa pemerintahan Presiden Donald Trump (2017-2021), beberapa kesepakatan tersebut berakhir. Sisa perjanjian lainnya dihentikan setelah invasi Rusia ke Ukraina, yang menyebabkan memburuknya hubungan antara Amerika Serikat dan Rusia secara drastis.

Di sisi lain, Washington dan Beijing tidak pernah memiliki jenis inspeksi nuklir timbal balik yang sama terhadap fasilitas masing-masing. Kedua negara memiliki tingkat kecurigaan yang tinggi terhadap satu sama lain, khawatir akan pencurian teknologi atau spionase, terutama mengingat periode persaingan kekuatan besar yang sedang berlangsung.

Oleh karena itu, menjadi pertanyaan besar apakah Amerika Serikat akan menerima tawaran transfer uranium tersebut tanpa jaminan yang memadai. Jaminan yang dimaksud meliputi akses dan pengawasan berkelanjutan serta tanpa batas terhadap material nuklir di China oleh inspektur nuklir Amerika Serikat atau PBB.

Baca juga: Strategi J Trust Bank: Produk Perbankan Jadi Gerakan Lingkungan Nyata

Penghapusan atau pengenceran permanen uranium yang diperkaya hingga 60% merupakan salah satu tujuan utama dalam negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran saat ini. Lambatnya langkah Teheran dalam menyetujui penyelesaian masalah ini menjadi salah satu alasan utama yang memicu serangan Israel terhadap fasilitas nuklir Iran pada Juni 2025, dengan kontribusi yang lebih kecil dari Amerika Serikat menjelang akhir konflik tersebut. Serangan gabungan AS dan Israel terhadap Iran juga terjadi pada tahun 2026.