KabarDermayu.com – Amerika Serikat dan Iran dikabarkan telah mencapai kesepakatan awal untuk memperpanjang masa gencatan senjata selama 60 hari. Kesepakatan ini juga menjadi landasan untuk memulai negosiasi lebih lanjut terkait program nuklir Iran.
Wakil Presiden Amerika Serikat, JD Vance, menyatakan bahwa kerangka perpanjangan gencatan senjata ini masih memerlukan persetujuan dari Presiden Donald Trump. Vance menekankan bahwa masih ada diskusi mengenai beberapa poin dalam dokumen tersebut, namun kemajuan yang signifikan telah dicapai.
Kantor berita Tasnim Iran, mengutip sumber yang dekat dengan tim negosiator Teheran, mengonfirmasi bahwa teks kesepakatan belum sepenuhnya final. Pakistan akan diberitahu jika kesepakatan resmi tercapai. Sumber Iran juga menegaskan bahwa kesepakatan hanya dianggap sah jika diumumkan secara langsung oleh Teheran, bukan sepihak oleh Amerika Serikat.
Jika kesepakatan ini disahkan, maka akan menjadi kerangka awal untuk negosiasi yang lebih besar dan berpotensi panjang. Pembahasan akan mencakup masa depan program nuklir Iran, pencabutan sanksi Amerika Serikat, hingga penghentian resmi perang.
1. Blokade Selat Hormuz
Menurut laporan Axios, rancangan kesepakatan mencakup pembukaan kembali lalu lintas kapal di Selat Hormuz tanpa gangguan, pungutan, atau intimidasi. Iran juga berkomitmen membersihkan seluruh ranjau laut dalam waktu 30 hari. Sebagai imbalannya, Amerika Serikat akan mencabut blokade angkatan laut jika jalur perdagangan kembali normal.
2. Program Nuklir Iran
Draf kesepakatan memuat komitmen kedua belah pihak untuk berunding mengenai nasib uranium Iran yang telah diperkaya. Iran juga berjanji untuk tidak mengembangkan senjata nuklir.
Axios dan The New York Times melaporkan bahwa selama masa negosiasi 60 hari, fokus utama akan tertuju pada sekitar 970 pon uranium milik Iran dan aturan terkait pengayaan uranium di negara tersebut. Selain itu, sekitar 10 ton material nuklir dengan tingkat pengayaan lebih rendah juga akan dibahas oleh para negosiator.
3. Sanksi Amerika Serikat
Amerika Serikat juga bersedia membahas pelonggaran sanksi dan pencairan aset Iran yang dibekukan di luar negeri sebagai bagian dari negosiasi. Kedua pihak akan membahas mekanisme agar Iran dapat kembali menerima barang kebutuhan dan bantuan kemanusiaan.
Laporan New York Times menyebutkan bahwa isi tertulis dalam dokumen belum tentu sepenuhnya sama dengan kesepakatan lisan yang dibahas. Iran diketahui memiliki sekitar 24 miliar dolar AS aset yang dibekukan di bank-bank luar negeri, dan negara tersebut ingin mendapatkan akses hingga 20 miliar dolar AS dari dana tersebut.
Baca juga: BRI: Likuiditas & Permodalan Aman Hingga Triwulan I-2026, Keuangan Kinclong
4. Perang di Lebanon
Kesepakatan ini juga mencakup klausul terkait upaya mengakhiri perang antara Israel dan Hizbullah di Lebanon. Isu ini sempat memicu ketegangan dalam pembicaraan antara Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu.
5. Dana Investasi untuk Iran
Salah satu poin paling mengejutkan adalah rencana pembentukan dana investasi untuk Iran. Mengutip pejabat Iran, The New York Times melaporkan bahwa Amerika Serikat akan menyetujui program rekonstruksi senilai 300 miliar dolar AS atau sekitar Rp5,36 kuadriliun. Dana tersebut akan dijanjikan kepada Iran jika kesepakatan akhir berhasil ditandatangani.
Diplomat AS yang mengetahui isi draf terbaru menyebut skema itu sebagai dana investasi internasional yang akan difasilitasi Amerika Serikat apabila kesepakatan final tercapai. Rencana detail mengenai dana tersebut nantinya akan dibahas lebih lanjut selama masa negosiasi.
Menurut laporan NYT, pihak Iran juga mengusulkan agar perusahaan-perusahaan Amerika, termasuk perusahaan minyak dan energi besar, dapat berinvestasi dan bekerja sama bisnis di Iran sebagai bagian dari kesepakatan.
Masih Ada Banyak Perbedaan
Meskipun kedua pihak dikabarkan semakin dekat menuju kesepakatan, masih ada sejumlah persoalan yang belum jelas. Sebagian besar pembicaraan dilakukan melalui mediator dari Pakistan dan Qatar. Oleh karena itu, belum jelas apakah Amerika Serikat dan Iran sedang membahas versi dokumen yang sama atau siapa pihak di Iran yang benar-benar memiliki wewenang untuk menyetujui kesepakatan.
Diplomat AS yang berbicara kepada NYT mengatakan kesepakatan awal itu hanya berisi penghentian konflik selama 60 hari agar negosiasi dapat berlangsung. Namun, versi yang dijelaskan pejabat Iran menyebutkan kesepakatan itu mencakup deklarasi berakhirnya perang di semua front, termasuk Lebanon, selama proses negosiasi berlangsung. Iran juga menegaskan bahwa MoU tersebut hanya berlaku selama masa perundingan menuju kesepakatan yang lebih permanen.
Kesepakatan juga diperkirakan akan membuka kembali pelayaran bebas di Selat Hormuz, jalur laut penting yang dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dan gas dunia saat kondisi normal. Namun, menurut versi Amerika Serikat, blokade AS tidak langsung dicabut total, melainkan dikurangi secara bertahap tergantung seberapa besar lalu lintas kapal berhasil dipulihkan Iran. Langkah itu bertujuan mendorong Iran segera membersihkan ranjau di selat tersebut.
Sementara itu, pejabat Iran mengatakan kepada NYT bahwa blokade AS akan dicabut dalam waktu 30 hari dan Selat Hormuz dibuka penuh selama negosiasi berlangsung. Meski begitu, pejabat AS mengatakan belum ada batas waktu resmi yang disepakati terkait hal tersebut.





