Israel: Mesir dan Turki Disebut Jadi ‘Target’ Berikutnya

oleh -13 Dilihat
Israel: Mesir dan Turki Disebut Jadi 'Target' Berikutnya

KabarDermayu.com – Mantan mata-mata Amerika Serikat untuk Israel, Jonathan Pollard, mengemukakan pandangannya mengenai potensi ancaman yang mungkin dihadapi Israel di masa mendatang. Ia menyebutkan bahwa Mesir dan Turki bisa menjadi target serangan Israel berikutnya.

Pernyataan ini disampaikan Pollard dalam sebuah podcast yang dirilis oleh media Arutz Sheva baru-baru ini. Dalam podcast tersebut, Pollard juga menekankan pentingnya kesiapan Israel jika memang berencana untuk menyerang Turki.

Menurutnya, menghadapi Turki akan menjadi tantangan yang lebih besar dibandingkan dengan situasi yang dihadapi Israel saat berhadapan dengan Iran. Pollard secara eksplisit menyatakan kekhawatirannya mengenai potensi konflik mendatang.

“Saya tidak yakin kita akan menghadapi Turki semudah saat menghadapi Iran. Kita harus siap untuk perang berikutnya, yang kemungkinan besar melawan Turki dan Mesir. Badai sedang datang,” ujar Pollard seperti dikutip dari laman Middle East Eye pada Jumat, 29 Mei 2026.

Pollard juga memberikan peringatan terkait situasi di Suriah. Ia mendesak agar Israel tidak membiarkan pemerintah transisi Suriah yang didukung oleh Turki untuk kembali menguasai wilayah selatan Suriah yang saat ini berada di bawah pendudukan pasukan Israel.

Keputusan tersebut, menurut Pollard, dapat berakibat pada konfrontasi langsung antara Israel dan Turki di wilayah perbatasan. Hal ini tentu akan meningkatkan ketegangan di kawasan.

Sebagai informasi, Jonathan Pollard memiliki rekam jejak yang cukup panjang terkait isu keamanan antara Amerika Serikat dan Israel. Ia pernah menjalani hukuman penjara selama 30 tahun karena terbukti menjual rahasia Amerika Serikat kepada Israel pada tahun 1984.

Baca juga: Polisi Tangkap Terduga Pelaku Pembunuhan Warga Korea Selatan di Bekasi

Setelah bebas pada tahun 2015, Pollard memutuskan untuk meninggalkan Amerika Serikat dan pindah ke Israel. Kepindahannya ini menandai babak baru dalam kehidupannya di negara yang pernah menjadi penerima informasi rahasianya.

Sejak menetap di Israel dan memperoleh kewarganegaraan negara tersebut, Pollard dikenal sebagai sosok yang vokal dalam mendukung kebijakan Menteri Keamanan Nasional Israel, Itamar Ben Gvir. Ia juga kerap menyuarakan dukungan terhadap gagasan pengusiran warga Palestina dari wilayah pendudukan.

Secara historis, Mesir dan Turki memiliki hubungan diplomatik yang terbilang baik dengan Israel. Kedua negara mayoritas Muslim ini telah menjalin komunikasi dan kerjasama dengan Israel selama bertahun-tahun.

Namun, hubungan tersebut mengalami perubahan signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Perang di Gaza yang oleh banyak pihak disebut sebagai genosida, telah memicu peningkatan ketegangan dan memburuknya hubungan diplomatik.

Menariknya, Turki adalah negara mayoritas Muslim pertama yang mengakui keberadaan negara Israel pada tahun 1949. Selama puluhan tahun, kedua negara ini bahkan memiliki hubungan perdagangan dan keamanan yang cukup kuat.

Titik balik penting dalam hubungan Turki-Israel terjadi pada insiden kapal bantuan Mavi Marmara di tahun 2010. Pasukan Israel menyerbu kapal bantuan yang berasal dari Turki yang sedang dalam perjalanan menuju Gaza.

Insiden tersebut berujung pada tewasnya 10 orang di atas kapal. Kejadian ini memicu kemarahan besar di Turki dan menyebabkan hubungan kedua negara memburuk drastis.

Sejak peristiwa Mavi Marmara, Ankara secara konsisten meningkatkan kritiknya terhadap perlakuan Israel terhadap warga Palestina. Sikap tegas Turki ini menjadi salah satu faktor utama memburuknya hubungan bilateral.

Upaya untuk memperbaiki hubungan sempat terlihat pada September 2023. Saat itu, Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu bertemu dan berjabat tangan untuk pertama kalinya di New York.

Pertemuan ini sempat memberikan harapan bagi pemulihan hubungan kedua negara. Namun, harapan tersebut kembali sirna setelah serangan Hamas ke Israel pada 7 Oktober 2023 dan perang di Gaza yang menyertainya.

Sejak saat itu, retorika keras dari para pejabat kedua negara terus meningkat. Bahkan, mantan Perdana Menteri Israel, Naftali Bennett, pada bulan Maret lalu sempat menyatakan bahwa Turki berpotensi menjadi Iran berikutnya dalam konteks ancaman regional.

Sementara itu, Mesir masih mempertahankan hubungan diplomatik dan perjanjian damai yang telah terjalin dengan Israel sejak tahun 1979. Perjanjian ini merupakan hasil dari beberapa kali perang yang pernah terjadi antara kedua negara.

Dalam podcastnya, Pollard mengungkapkan harapannya agar Israel tidak benar-benar terlibat dalam perang dengan Mesir maupun Turki. Namun, ia juga mengingatkan bahwa harapan seringkali menjadi hal terakhir yang bisa dipegang ketika situasi semakin buruk.