KabarDermayu.com – Perkembangan pesat kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) mulai membawa perubahan signifikan pada pasar tenaga kerja global.
Di tengah kekhawatiran akan hilangnya pekerjaan di sektor perkantoran akibat otomatisasi AI, justru muncul gelombang baru peluang kerja, terutama bagi para pekerja teknis dan sektor blue-collar melalui pembangunan data center.
Sebuah laporan terbaru mengindikasikan bahwa lonjakan pembangunan data center yang didukung oleh AI telah meningkatkan permintaan secara drastis terhadap berbagai jenis tenaga kerja. Kebutuhan ini meliputi pekerja konstruksi, teknisi data center, teknisi listrik, spesialis sistem pendingin ruangan (HVAC), hingga tenaga pemeliharaan fasilitas.
Perusahaan-perusahaan teknologi raksasa kini gencar menginvestasikan dana besar untuk membangun pusat data baru. Hal ini didorong oleh kebutuhan komputasi AI yang terus melonjak dan memerlukan infrastruktur yang memadai.
McKinsey memproyeksikan bahwa investasi pembangunan data center di Amerika Serikat saja bisa mencapai angka fantastis, yaitu US$7 triliun atau setara dengan Rp124.600 triliun hingga tahun 2030.
Saat ini, Amerika Serikat memiliki sekitar 4.000 data center yang beroperasi penuh. Lebih mengesankan lagi, Apollo Global Management mencatat bahwa ada sekitar 3.000 fasilitas baru yang telah diumumkan atau sedang dalam tahap konstruksi.
Meskipun AI diprediksi akan menggantikan beberapa jenis pekerjaan kantoran, pembangunan pusat data justru membuka pintu bagi penciptaan lapangan kerja baru dalam skala besar. Sektor konstruksi menjadi salah satu yang paling merasakan dampaknya.
Namun, para ahli juga mengingatkan bahwa sebagian besar pekerjaan di sektor ini bersifat sementara, karena fokus utamanya adalah pada fase pembangunan fisik fasilitas tersebut.
Ben Zweig, CEO Revelio Labs, menyatakan bahwa operasional sebuah data center pada dasarnya tidak membutuhkan banyak pekerja. Ia menjelaskan bahwa fasilitas ini lebih bersifat padat modal daripada padat karya.
Lisa Simon, Kepala Ekonom Revelio Labs, turut menambahkan bahwa jumlah tenaga kerja permanen yang dibutuhkan untuk mengoperasikan data center cenderung terbatas. Peran jangka panjang yang diciptakan oleh data center dalam hal volume pekerjaan tidaklah terlalu besar.
Meskipun demikian, dampak ekonomi dari pembangunan data center tetap signifikan bagi daerah-daerah di sekitar lokasi proyek. Greg Wright, seorang ahli tenaga kerja dari Brookings Institution, menjelaskan bahwa pembangunan fasilitas ini dapat menggerakkan roda perekonomian lokal.
Baca juga: Potensi Wajah Donald Trump di Uang Kertas 250 Dolar Baru
Hal ini disebabkan oleh kebutuhan para pekerja konstruksi yang memerlukan akomodasi, makanan, dan berbagai layanan lainnya selama masa proyek berlangsung. Dengan kata lain, pembangunan data center dapat menciptakan efek domino pekerjaan bagi ekonomi setempat.
Laporan dari American Edge Project pada tahun 2025 memprediksi bahwa pembangunan data center di Amerika Serikat akan menciptakan sekitar 4,7 juta lapangan kerja sementara di sektor konstruksi. Selain itu, diproyeksikan pula akan tercipta sekitar 697 ribu pekerjaan permanen yang dibutuhkan untuk operasional dan pengelolaan fasilitas tersebut.
Salah satu profesi yang paling dicari saat ini adalah teknisi data center. Tanggung jawab utama mereka meliputi pemasangan, pemantauan, dan pemeliharaan ribuan server komputer yang menjadi jantung dari sebuah pusat data.
Teknisi data center juga memegang peranan krusial dalam menangani kerusakan perangkat, memastikan stabilitas sistem berjalan lancar, serta menjaga operasional fasilitas tetap aktif selama 24 jam penuh tanpa henti.
Parminder K. Jassal, seorang insinyur serat optik sekaligus pendiri platform pelatihan tenaga kerja Umudl, menekankan pentingnya peran manusia dalam menjaga kelangsungan data center AI. Ia menyatakan bahwa setiap data center AI memerlukan individu yang mampu memantau, memperbaiki, dan menjalankan fasilitas tersebut secara berkelanjutan.
Jassal lebih lanjut menjelaskan bahwa fokus utama pekerjaan teknisi data center adalah pada pemeliharaan infrastruktur fisik yang menopang seluruh sistem komputasi dan AI. Peran ini sangat vital untuk memastikan semua sistem berjalan tanpa hambatan.
Berdasarkan data dari situs lowongan kerja Glassdoor, rata-rata gaji seorang teknisi data center di Amerika Serikat mencapai sekitar US$88 ribu per tahun, atau setara dengan Rp1,56 miliar. Perusahaan-perusahaan besar seperti Microsoft, IBM, Amazon, dan Google dilaporkan aktif membuka lowongan untuk posisi ini.
Di sisi lain, pembangunan data center AI juga tidak lepas dari kritik dan penolakan dari sebagian masyarakat. Beberapa pihak menyuarakan keprihatinan mengenai beban yang ditimbulkan pada jaringan listrik lokal akibat konsumsi energi yang sangat besar.
Kekhawatiran lain mencakup dampak lingkungan dan potensi kebisingan yang ditimbulkan oleh operasional fasilitas ini. Kritik juga dilayangkan terkait pemberian insentif pajak yang besar oleh pemerintah daerah kepada perusahaan pengembang data center.
Meskipun demikian, tren pembangunan pusat data diperkirakan akan terus meningkat dalam beberapa tahun mendatang. Hal ini sejalan dengan semakin agresifnya persaingan global dalam pengembangan teknologi AI.





