KabarDermayu.com – Harga tomat di Amerika Serikat dilaporkan mengalami lonjakan signifikan dalam kurun waktu setahun terakhir. Kenaikan harga komoditas pangan ini bahkan melampaui bahan pangan lain seperti kopi, daging sapi, dan makanan laut.
Data pemerintah Amerika Serikat hingga April 2026 menunjukkan bahwa harga tomat telah naik hampir 40 persen jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya. Angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan dengan kenaikan harga makanan secara keseluruhan yang tercatat di kisaran 17 persen.
Berdasarkan data dari Federal Reserve, harga rata-rata tomat kini mencapai US$2,69 per pon. Jika dikonversikan ke dalam Rupiah dengan asumsi kurs Rp17.800 per dolar AS, angka tersebut setara dengan sekitar Rp47.882 per pon. Harga ini merupakan yang tertinggi sepanjang sejarah pencatatan.
Sebagai perbandingan, harga kopi tercatat mengalami kenaikan sebesar 18,5 persen dalam 12 bulan terakhir. Sementara itu, harga daging sapi giling meningkat 19 persen dan harga makanan laut naik sekitar 12 persen. David Branch, seorang manajer sektor di Wells Fargo Agri-Food Institute, mengidentifikasi kebijakan perdagangan Amerika Serikat terhadap Meksiko sebagai salah satu penyebab utama lonjakan harga tomat ini.
Pada bulan Juli lalu, pemerintah Amerika Serikat menerapkan tarif sebesar 17 persen untuk tomat yang berasal dari Meksiko. Kebijakan ini diberlakukan setelah Amerika Serikat menarik diri dari perjanjian perdagangan yang telah berlaku selama tiga dekade. Perjanjian sebelumnya memungkinkan tomat dari Meksiko masuk ke Amerika Serikat tanpa dikenakan bea masuk.
Meskipun kebijakan tarif ini memberikan keuntungan bagi para petani lokal di Amerika Serikat, di sisi lain hal tersebut berujung pada kenaikan harga tomat di pasar bagi para konsumen. Data federal menunjukkan bahwa penerimaan dari tarif tomat melonjak drastis dari hanya US$16.424 atau sekitar Rp292 juta pada tahun 2024 menjadi hampir US$4,6 juta atau sekitar Rp81,88 miliar. Branch juga mencatat bahwa sekitar 90 persen impor tomat Amerika Serikat pada tahun 2025 berasal dari Meksiko.
Brett Massimino, seorang profesor bisnis di Virginia Commonwealth University, sebagaimana dikutip dari CBS News pada Minggu, 31 Mei 2026, menyatakan bahwa ketergantungan Amerika Serikat pada Meksiko untuk sebagian besar pasokan tomatnya membuat setiap perubahan dalam kebijakan perdagangan dapat memberikan dampak yang sangat besar.
Selain penerapan tarif impor, pasokan tomat juga mengalami gangguan akibat cuaca buruk dan serangan penyakit tanaman yang menyerang sentra produksi di Meksiko dan Florida. Kondisi ini menyebabkan penurunan produksi, yang pada gilirannya mengurangi pasokan ke pasar. Phillip Coles, seorang profesor manajemen rantai pasok di Lehigh University, menambahkan bahwa situasi ini unik karena terjadi kekurangan pasokan tomat, sementara tidak ada kekurangan pada produk pertanian lainnya.
Faktor lain yang turut berkontribusi pada kenaikan harga tomat adalah meningkatnya biaya transportasi. Analis industri pangan, Phil Lempert, berpendapat bahwa perang di Iran turut memengaruhi harga tomat melalui kenaikan harga minyak dunia, yang kemudian berdampak pada biaya pengangkutan.
Tomat umumnya diangkut menggunakan truk berpendingin. Kendaraan ini membutuhkan lebih banyak bahan bakar untuk beroperasi, sekaligus untuk menjaga suhu penyimpanan produk selama perjalanan agar tetap optimal.
Menurut Massimino, peningkatan biaya pada komponen utama seperti transportasi akan memberikan dampak besar terhadap harga akhir yang harus dibayar oleh konsumen. Ia menekankan bahwa ketika terjadi kenaikan besar pada komponen biaya utama, hal tersebut pada akhirnya akan memberikan dampak yang signifikan.
Kenaikan harga tomat saat ini merupakan akumulasi dari berbagai faktor. Mulai dari penerapan tarif impor, gangguan produksi akibat kondisi cuaca dan penyakit, hingga meningkatnya biaya logistik yang dipicu oleh kenaikan harga energi. Semua kondisi ini secara kolektif membuat harga tomat mencetak rekor baru dan menambah tekanan bagi konsumen, terutama di tengah masih tingginya inflasi pangan di Amerika Serikat.





