Rupiah Anjlok ke Rp17.839/Dolar AS: Geopolitik & Inflasi Jadi Tekanan

oleh -8 Dilihat
Rupiah Anjlok ke Rp17.839/Dolar AS: Geopolitik & Inflasi Jadi Tekanan

KabarDermayu.com – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup melemah 34 poin atau 0,19 persen menjadi Rp17.839 per dolar AS pada perdagangan Selasa, 2 Juni 2026.

Pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi menyatakan pelemahan mata uang Garuda ini masih dipengaruhi oleh ketidakpastian geopolitik global serta rilis data inflasi terbaru dari Badan Pusat Statistik (BPS).

Selain itu, kenaikan harga minyak mentah dunia juga memberikan tekanan langsung terhadap kebutuhan devisa Indonesia.

“Dari sisi domestik sendiri kita melihat bahwa penguatan harga minyak mentah dunia ini berdampak terhadap harga-harga di dalam negeri. Kita tahu bahwa impor minyak yang begitu besar ya sampai 1,5 juta barel per hari ya ini pun berdampak terhadap apa permintaan dolar yang cukup tinggi,” kata Ibrahim melansir tvOnenews.com, Selasa (2/6/2026).

Dari faktor eksternal, Presiden AS Donald Trump menyatakan pembicaraan dengan Iran masih berlangsung. Pernyataan itu muncul setelah kantor berita Tasnim melaporkan Teheran menghentikan sementara negosiasi tidak langsung dengan Washington.

Trump sempat menyebut tidak mempermasalahkan apabila pembicaraan tersebut berakhir. Namun, tak lama kemudian ia mengunggah pernyataan di media sosial yang menegaskan proses dialog dengan Iran tetap berjalan.

Dalam wawancara dengan ABC News, Trump juga berharap tercapai kesepakatan untuk memperpanjang gencatan senjata sekaligus membuka kembali Selat Hormuz dalam pekan depan.

“Lebanon pada hari Senin mengumumkan gencatan senjata parsial antara Hizbullah dan Israel, yang akan menjadi deeskalasi terbatas dari konflik yang telah memperparah perang yang lebih luas dengan Iran.”

“Iran secara efektif telah menghentikan hampir semua pengiriman non-Iran ke dan dari Teluk sejak perang dimulai, mencekik sekitar seperlima aliran minyak dan gas alam cair global dan mendorong harga naik 50 persen atau lebih,” jelas Ibrahim dikutip dari Antara.

Selain perkembangan geopolitik, pasar juga mencermati kebijakan perdagangan Amerika Serikat. Pada Senin (1/6/2026), Trump menandatangani proklamasi yang merevisi tarif impor tembaga, aluminium, dan besi, sebagaimana disampaikan Gedung Putih.

Dalam aturan tersebut, tarif impor untuk sejumlah peralatan pertanian diturunkan dari 25 persen menjadi 15 persen.

Selain itu, pemerintah AS menetapkan tarif sebesar 15 persen bagi peralatan industri bergerak seperti buldoser dan forklift.

“Jika diimpor dari negara-negara yang memiliki perjanjian perdagangan dan berhak atas perlakuan tersebut,” kata Gedung Putih dalam sebuah pernyataan.

Baca juga: Kebakaran Lahan Kosong: 304 Rumah dan Tabungan Pendidikan Ludes Terbakar

Kebijakan itu akan berlaku hingga 31 Desember 2027 dengan tujuan mendorong investasi jangka pendek guna memperkuat kembali basis industri nasional Amerika Serikat.

Dari dalam negeri, BPS melaporkan inflasi Indonesia pada Mei 2026 mencapai 3,08 persen secara tahunan (year-on-year/yoy).

Indeks Harga Konsumen (IHK) meningkat dari 111,09 pada April 2026 menjadi 111,40 pada Mei 2026. Sementara itu, inflasi secara tahun kalender (year-to-date/ytd) tercatat 1,35 persen dan inflasi bulanan (month-to-month/mtm) sebesar 0,28 persen.

Di sisi lain, aktivitas manufaktur nasional kembali memasuki fase ekspansi.

Laporan S&P Global menunjukkan Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufaktur Indonesia naik ke level 50,0 pada Mei 2026 setelah berada di level 49,1 pada April 2026. Meski kembali ke zona ekspansi, sektor industri masih menghadapi tekanan akibat kenaikan biaya bahan baku dan gangguan rantai pasok yang membatasi produksi.

Data ini menunjukkan kondisi operasional manufaktur relatif stabil setelah mengalami kontraksi pada bulan sebelumnya.

Perbaikan kinerja terutama didorong meningkatnya permintaan domestik yang memacu pertumbuhan pesanan baru selama dua bulan berturut-turut. Bahkan, laju kenaikan pesanan baru pada Mei menjadi yang tercepat sejak Februari 2026.

BPS juga melaporkan surplus neraca perdagangan Indonesia terus berlanjut hingga April 2026 meski ketidakpastian geopolitik dan geoekonomi global masih tinggi.

Ekspor nonmigas, khususnya dari industri pengolahan, menjadi faktor utama yang menopang surplus perdagangan nasional.

Secara kumulatif, surplus neraca perdagangan selama Januari-April 2026 mencapai 5,64 miliar dolar AS. Dengan capaian tersebut, Indonesia membukukan surplus perdagangan selama 72 bulan berturut-turut sejak Mei 2020.

Melihat berbagai sentimen tersebut, Ibrahim memperkirakan pergerakan rupiah masih akan fluktuatif dengan kisaran Rp17.840 hingga Rp17.900 per dolar AS. (ant/rpi)