Impor RI April 2026 US$25,21 Miliar: Bahan Baku-Penolong Jadi Pemicu

oleh -5 Dilihat
Impor RI April 2026 US$25,21 Miliar: Bahan Baku-Penolong Jadi Pemicu

KabarDermayu.com – Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan bahwa nilai impor Indonesia pada April 2026 mencapai US$25,21 miliar. Angka ini menunjukkan peningkatan sebesar 22,49 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya (year-on-year/yoy).

Deputi Bidang Metodologi dan Informasi Statistik BPS, Pudji Ismartini, merinci bahwa impor migas pada April 2026 tercatat sebesar US$4,60 miliar, yang berarti naik 82,52 persen secara yoy. Sementara itu, impor non-migas mencapai US$20,62 miliar, dengan kenaikan 14,11 persen yoy.

“Kenaikan impor tahunan pada April 2026 ini didorong oleh peningkatan impor non-migas, dengan andil sebesar 12,39 persen,” jelas Pudji dalam konferensi pers virtual pada Selasa, 2 Juni 2026.

Secara kumulatif, periode Januari hingga April 2026, total impor Indonesia mencapai US$86,51 miliar. Angka ini juga mengalami kenaikan 13,40 persen secara yoy.

Lebih lanjut, Pudji memaparkan rincian impor kumulatif tersebut. Impor migas tercatat sebesar US$12,59 miliar atau naik 17,58 persen yoy. Sementara itu, impor non-migas mencapai US$73,58 miliar, dengan kenaikan 12,07 persen yoy.

“Kenaikan impor ini ditopang oleh impor bahan baku penolong,” ungkap Pudji.

Jika dilihat berdasarkan penggunaannya, kenaikan nilai impor terjadi pada seluruh aspek komoditas. Total nilai impor bahan baku atau penolong secara kumulatif tercatat mencapai US$61,80 miliar, yang menunjukkan kenaikan 11,67 persen secara yoy.

Pudji menambahkan bahwa andil peningkatan impor bahan baku penolong ini tercatat sebesar 8,47 persen.

Baca juga: Dedi Mulyadi Ucapkan Selamat Ulang Tahun ke-78 untuk Manajer Persib Umuh Muchtar

“Dengan andil peningkatan tercatat mencapai sebesar 8,47 persen,” ujar Pudji.

Berdasarkan data BPS, kenaikan impor ini menjadi sorotan di tengah upaya pemerintah untuk menjaga stabilitas neraca perdagangan.

Peningkatan impor bahan baku penolong mengindikasikan adanya aktivitas produksi yang meningkat di dalam negeri. Hal ini bisa menjadi sinyal positif bagi sektor industri manufaktur.

Namun, perlu dicermati juga dampaknya terhadap neraca perdagangan secara keseluruhan. Kenaikan impor yang signifikan, terutama untuk bahan baku, perlu diimbangi dengan peningkatan ekspor yang juga kuat.

BPS terus memantau tren impor dan ekspor untuk memberikan gambaran ekonomi yang akurat kepada publik dan pembuat kebijakan.

Informasi ini penting bagi para pelaku bisnis untuk merencanakan strategi produksi dan distribusi mereka.

Data impor yang dirilis BPS ini menjadi salah satu indikator penting dalam mengukur kesehatan perekonomian Indonesia.