Rupiah Anjlok ke Rp 17.900, Data Inflasi & Neraca Perdagangan RI Rilis

oleh -8 Dilihat
Rupiah Anjlok ke Rp 17.900, Data Inflasi & Neraca Perdagangan RI Rilis

KabarDermayu.com – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) diprediksi masih akan bergerak fluktuatif, namun ditutup melemah pada perdagangan hari ini.

Berdasarkan data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate atau Jisdor BI, kurs rupiah terhadap dolar AS berada di level Rp 17.863 pada Selasa, 2 Juni 2026. Posisi rupiah itu menguat 20 poin dari kurs sebelumnya di level 17.883 pada perdagangan Jumat, 29 Mei 2026.

Sementara perdagangan di pasar spot pada Rabu, 3 Juni 2026 hingga pukul 09.07 WIB rupiah ditransaksikan di Rp 17.896 per dolar AS. Posisi itu melemah 57 poin atau 0,32 persen dari posisi sebelumnya di level Rp 17.839 per dolar AS.

Pengamat ekonomi dan pasar uang, Ibrahim Assuaibi mengatakan, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi 3,08 persen secara tahunan alias year-on-year (yoy) pada Mei 2026. Indeks Harga Konsumen (IHK) mengalami kenaikan dari 111,09 pada April 2026 menjadi 111,40 pada Mei 2026.

Sementara secara tahun kalender atau year-to-date (ytd), inflasi tercatat sebesar 1,35 persen dan secara bulanan atau month-to-month (mtm) sebesar 0,28 persen.

Selain itu, aktivitas manufaktur Indonesia kembali masuk ke zona ekspansi. Berdasarkan laporan S&P Global, Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufaktur Indonesia naik ke level 50,0 pada Mei 2026, setelah terkontraksi ke 49,1 pada April 2026.

Namun meskipun ada sinyal positif, sektor industri masih dibayangi tekanan biaya bahan baku yang melonjak dan gangguan pasokan yang menahan laju produksi. Dari laporan S&P Global, posisi PMI pada Mei mengindikasikan kondisi operasional manufaktur yang stabil, setelah sempat mengalami kontraksi pada bulan sebelumnya.

Perbaikan terutama ditopang oleh peningkatan permintaan domestik, yang mendorong kenaikan pesanan baru selama 2 bulan berturut-turut. Kenaikan pesanan baru pada Mei 2026 tersebut telah menjadi yang tercepat sejak Februari lalu.

Kemudian, BPS merilis surplus neraca perdagangan Indonesia masih berlanjut hingga April 2026, meski ketidakpastian geopolitik dan geoekonomi global belum mereda. Kinerja ekspor non-migas, terutama dari sektor industri pengolahan, menjadi penopang utama surplus perdagangan nasional.

Surplus neraca perdagangan secara kumulatif Januari-April 2026 tercatat mencapai US$5,64 miliar. Dengan demikian, neraca perdagangan Indonesia telah mengalami surplus selama 72 bulan berturut-turut sejak Mei 2020.

“Mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp 17.840—Rp 17.900,” ujarnya.

Sebagai informasi, Presiden AS, Donald Trump mengatakan pada hari Senin, bahwa pembicaraan dengan Iran masih berlangsung, sementara kantor berita Tasnim sebelumnya melaporkan bahwa Teheran telah menangguhkan negosiasi tidak langsung dengan Washington.

Dalam sebuah wawancara dengan CNBC pada hari Senin, Trump mengatakan dia tidak keberatan jika pembicaraan berakhir. Tapi tak lama kemudian, Dia mengeluarkan unggahan di media sosial yang mengatakan bahwa pembicaraan dengan Iran terus berlanjut, dan mengatakan kepada ABC News bahwa ia mengharapkan kesepakatan untuk memperpanjang gencatan senjata dan membuka kembali Selat Hormuz “dalam minggu depan”.

BI Tegaskan Inflasi Mei 2026 Terjaga Hasil Konsistensi Kebijakan Bersama Pemerintah

Baca juga: Dadan Hindayana Dicopot Sepulang Haji, Pernah Ingin Buka MBG di Arab Saudi dan Dampingi Prabowo

Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso mengatakan, BI bersama pemerintah pusat dan daerah bekerja sama dalam TPIP dan TPID kendalikan inflasi.