Rupiah Jebol Rp18.000/Dolar AS: Mendag Ungkap Peluang Ekspor Meningkat

oleh -6 Dilihat
Rupiah Jebol Rp18.000/Dolar AS: Mendag Ungkap Peluang Ekspor Meningkat

KabarDermayu.com – Di tengah kekhawatiran pasar akibat pelemahan nilai tukar rupiah yang menembus angka psikologis Rp18.000 per dolar Amerika Serikat, Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso justru melihat adanya potensi positif untuk kinerja ekspor Indonesia.

Pemerintah bahkan dilaporkan tengah mempersiapkan opsi transaksi perdagangan alternatif, seperti skema barter, guna memperkuat hubungan dagang dengan negara-negara mitra.

Nilai tukar rupiah tercatat sempat mencapai Rp18.013 per dolar AS dalam perdagangan selama 24 jam terakhir. Pada Kamis pagi, 4 Juni 2026, posisinya berada di angka Rp18.001 per dolar AS.

Namun, Budi Santoso berpandangan bahwa situasi ini tidak seluruhnya berdampak negatif bagi Indonesia. Sektor ekspor, khususnya, dinilai berpotensi meraih keuntungan dari pelemahan mata uang domestik tersebut.

“Ini sebenarnya kalau kami kaitkan dengan ekspor, ya ini sebenarnya ada strategi yang harus bisa kita siapkan. Kalau sekarang ini sebenarnya kesempatan ekspor kita makin bagus,” ujar Budi Santoso di Kantor Kementerian Perdagangan, Jakarta Pusat, pada Kamis, 4 Juni 2026.

Menurutnya, melemahnya nilai rupiah membuat produk-produk Indonesia menjadi lebih kompetitif di pasar global. Oleh karena itu, pemerintah berupaya memanfaatkan momentum ini untuk mendorong pertumbuhan ekspor, yang hingga saat ini masih menunjukkan tren positif.

“Artinya sebenarnya kondisi kita masih bagus dengan kondisi sekarang, ekspor kita tetap naik, tetap naik 5,48 persen,” ungkapnya.

Selain mengandalkan mekanisme perdagangan konvensional, Kementerian Perdagangan juga mulai menjajaki alternatif transaksi yang dinilai mampu mengurangi tekanan akibat gejolak nilai tukar. Salah satu yang dijajaki adalah melalui skema barter.

Budi Santoso mengungkapkan bahwa gagasan ini muncul setelah pertemuannya dengan para pelaku usaha dari Filipina dalam forum KTT ASEAN ke-48. Ia menyebutkan, kondisi nilai tukar yang sama-sama menghadapi tekanan mendorong kedua belah pihak untuk mencari pola transaksi yang lebih fleksibel.

“Nah yang kedua, kita juga ada alternatif misalnya pakai barter. Ya nanti tanggal 12 April, kita ketemu dengan pengusaha Filipina,” katanya.

Ia menjelaskan lebih lanjut bahwa salah satu importir besar dari Filipina yang selama ini membeli produk Indonesia mengusulkan sistem barter sebagai solusi atas tantangan nilai tukar yang tengah dihadapi oleh kedua negara.

“Jadi waktu kemarin waktu acara ASEAN, kami ketemu salah satu pengusaha dari Filipina, dia impor barang kita selama ini. Dan ini karena di Filipina juga nilai tukarnya kan juga lagi kurang bagus,” jelas Budi.

Usulan tersebut kemudian ditindaklanjuti oleh pemerintah dan para pelaku usaha untuk mencari skema pembayaran yang saling menguntungkan bagi kedua belah pihak.

“Jadi bagaimana kalau kita pakai cara barter. Nah ini sudah kita carikan bayarnya segala macam, sudah ketemu. Nanti tanggal 12 April kita akan tanda tangan kontrak dengan buyer,” lanjutnya.

tvOnenews/Abdul Gani Siregar