KabarDermayu.com – Pergantian kepemimpinan di Badan Gizi Nasional (BGN) memicu perhatian publik, tidak hanya dari sisi kebijakan, tetapi juga gaya kerja pemimpin barunya. Nanik S. Deyang, yang kini menjabat sebagai Kepala BGN menggantikan Dadan Hindayana, menjadi topik hangat di media sosial berkat sebuah video inspeksi mendadak (sidak) yang beredar luas.
Video tersebut, yang diunggah melalui akun TikTok pribadi Nanik, menampilkan kunjungannya ke Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Cipayung Munjul-02 di Jakarta Timur. Dalam peninjauan itu, Nanik secara langsung memeriksa berbagai aspek operasional dapur yang merupakan bagian krusial dari pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Hasil inspeksi menunjukkan adanya temuan yang dinilai belum sesuai standar. Mulai dari kebersihan area dapur, kondisi bangunan, hingga tata kelola fasilitas operasional sehari-hari.
Dalam video itu, Nanik terlihat memberikan arahan yang tegas kepada para pengelola dapur. Salah satu poin penting yang disorot adalah penggunaan air minum. Ia menekankan bahwa air yang digunakan harus berasal dari galon bermerek, bukan dari sumber lain yang dianggap tidak sesuai ketentuan.
“Kan nggak boleh, nggak nggak nggak, mau alasan apa pun ini harus air galon punya merek. Jangan ngakalin saya ya. Itu uang negara memang diperuntukkan untuk ini kenapa mesti pake filter? Itu harus dibelikan dan harus merek yang bener ya,” tegas Nanik, seperti dikutip pada Kamis, 4 Juni 2026.
Kondisi lantai dapur juga mendapat perhatian serius. Nanik menilai fasilitas yang tidak layak berpotensi menimbulkan risiko kesehatan dan keselamatan kerja bagi para petugas.
“Kayak gini nih apa (menunjuk ke lantai), liat tuh ini kan sumber penyakit ini kayak gini. Udah, saya suspend ya di situ itu kan licin sekali ganti lantainya yang dove. Ini juga epoksinya epoksi-epoksian ini, ganti aja ini ya saya suspend,” lanjutnya.
Selain itu, Nanik juga menyoroti penggunaan peralatan masak yang masih berbahan plastik. Ia menegaskan bahwa seluruh perlengkapan dapur wajib menggunakan material yang lebih aman dan memenuhi standar yang berlaku.
“Tidak boleh ada peralatan masak yang dari plastik, semua harus stainless steel,” tegasnya kembali.
Sikap tegas Nanik ini memicu beragam reaksi dari masyarakat. Sebagian netizen mengapresiasi langkah tersebut sebagai bukti keseriusan dalam upaya memperbaiki kualitas pelaksanaan program MBG. Namun, banyak pula yang memilih untuk menunggu hasil nyata sebelum memberikan penilaian lebih lanjut.
Beberapa komentar netizen menunjukkan harapan dan skeptisisme. Ada yang menulis, “Ok… Kita pantau 1 bulan.” Sementara yang lain bertanya, “tebak berapa lama masa pencitraannya?” Ada pula yang berharap, “Semoga bisa bekerja seperti Bu Risma dan Bu Sherly.”
Beberapa pengguna media sosial mengingatkan agar fokus utama tetap pada perbaikan sistem secara menyeluruh. Salah satu komentar berbunyi, “Buk jgn terlalu banyak bicara. Bikin video standard yg seharusnya, anda bicara secara terhormat untuk diikuti oleh seluruh dapur di Indonesia. Jangan begini nanti anda capek sendiri.”
Komentar lain menunjukkan sikap kehati-hatian dalam memberikan kepercayaan, terutama mengingat latar belakang kepala BGN sebelumnya yang sempat tersangkut kasus hukum. “Maaf ya Bu saya cuma trust issue,” tulis salah satu netizen.
Sebelumnya, Kejaksaan Agung diketahui sedang menelusuri dugaan keterlibatan mantan Kepala BGN Dadan Hindayana dan dua wakilnya dalam skema dugaan keuntungan dari SPPG. Nilai dugaan keuntungan tersebut dilaporkan mencapai Rp6 juta per hari.





