KabarDermayu.com – Industri teknologi finansial atau fintech yang terus berkembang pesat menghadapi tantangan keamanan yang semakin kompleks. Penyedia solusi identitas digital dan pencegahan penipuan, Vida, menekankan pentingnya membangun infrastruktur identitas digital yang kuat dan terverifikasi untuk melindungi ekosistem fintech.
Founder and Group CEO Vida, Niki Santo Luhur, menyoroti bagaimana taktik kejahatan siber terus berevolusi menjadi lebih rumit. Ia juga menggarisbawahi langkah-langkah strategis yang perlu diadopsi oleh para pelaku industri fintech di kawasan Asia guna mengantisipasi ancaman yang kian canggih ini.
Niki menyatakan bahwa maraknya kasus penipuan di seluruh dunia dengan berbagai modus yang terus berganti menuntut lebih dari sekadar edukasi. Diperlukan penguatan infrastruktur serta sistem hukum yang memadai untuk melindungi konsumen dan meningkatkan standar keamanan secara keseluruhan.
Penguatan infrastruktur dianggap sebagai pondasi krusial bagi para pemain fintech. Niki meyakini bahwa penerapan pertahanan berlapis atau multi-layered defense sangatlah esensial dalam menghadapi modus-modus penipuan digital yang semakin cerdik.
Baca juga di sini: Soal Tarif Selat Malaka, Purbaya Singgung UNCLOS dan Kewajiban Indonesia
Ia mengibaratkan pentingnya keamanan berlapis ini seperti pembangunan sebuah istana di abad pertengahan. Sistem pertahanan istana dirancang dengan berbagai lapisan untuk menahan serangan musuh. Pendekatan serupa, menurutnya, harus diterapkan dalam membangun keamanan di sektor fintech.
Lebih lanjut, Niki memaparkan empat lapisan dan langkah strategis yang dapat diimplementasikan oleh pelaku fintech untuk mengoptimalkan sistem keamanan mereka:
- Verifikasi Individu: Pemanfaatan teknologi biometrik yang didukung oleh lapisan pengamanan tambahan menjadi sangat penting. Tujuannya adalah untuk memastikan bahwa pengguna yang terdaftar adalah individu yang nyata, bukan sekadar gambar atau potongan foto yang diambil dari internet.
- Verifikasi Perangkat: Aspek ini seringkali terabaikan, padahal sangat krusial untuk memperkuat sistem keamanan. Banyak serangan siber yang berawal dari celah keamanan pada perangkat, seperti serangan injeksi yang memungkinkan manipulasi kamera.
Dalam skenario serangan, pelaku bisa saja memasukkan data biometrik palsu, seperti foto, rekaman video, atau bahkan deepfake yang dihasilkan oleh kecerdasan buatan (AI). Oleh karena itu, sangat penting untuk memastikan bahwa sumber kamera dan data biometrik wajah yang digunakan benar-benar autentik dan tidak mengalami manipulasi.
- Verifikasi Identitas: Penting untuk memastikan bahwa identitas yang digunakan oleh pengguna telah terdaftar secara resmi dalam basis data pemerintah setempat. Selain itu, kesesuaian antara identitas digital dengan dokumen identitas fisik yang dimiliki juga perlu diverifikasi.
- Pemanfaatan Teknologi Berbasis AI: Integrasi kecerdasan buatan (AI) pada setiap lapisan keamanan akan memungkinkan pelaku fintech untuk mendeteksi anomali dengan tingkat akurasi dan adaptabilitas yang lebih tinggi. Hal ini juga akan meningkatkan skalabilitas sistem dalam menghadapi pola serangan yang terus berkembang.
Niki menegaskan, “Dengan AI yang bekerja bersama Anda, maka AI berada di pihak Anda.” Hal ini menunjukkan peran vital AI dalam memperkuat lini pertahanan digital fintech.





