Pemanfaatan AI Harus Berpedoman pada Nilai Pancasila

oleh -8 Dilihat
Pemanfaatan AI Harus Berpedoman pada Nilai Pancasila

KabarDermayu.com – Pemanfaatan kecerdasan artifisial (AI) di Indonesia harus senantiasa berpedoman pada nilai-nilai luhur Pancasila. Hal ini penting sebagai panduan etik dalam setiap aspek kehidupan berbangsa dan bernegara.

Pernyataan tersebut disampaikan oleh Ketua Umum Pengurus Pusat (PP) Pemuda Katolik, Stefanus Gusma, dalam sebuah forum diskusi yang diselenggarakan di Jakarta Pusat pada hari Jumat, 5 Juni 2026.

Stefanus Gusma menjelaskan bahwa AI merupakan sebuah sarana yang dapat mempermudah berbagai aktivitas manusia. Namun, ia menekankan bahwa Pancasila harus menjadi navigasi ideal yang memandu pemanfaatan teknologi ini di berbagai lini kehidupan masyarakat.

Menurut pandangannya, kemajuan teknologi yang pesat, termasuk AI, seharusnya tidak boleh mengikis semangat kemanusiaan yang menjadi fondasi utama dalam kehidupan bersama.

Lebih lanjut, ia mengingatkan bahwa manusia diciptakan memiliki kemiripan dengan Tuhan. Oleh karena itu, perkembangan AI harus selalu diarahkan untuk memperkuat nilai-nilai kemanusiaan serta semangat gotong royong.

“Jangan sampai kemajuan AI mengurangi semangat membangun kemanusiaan dan semangat gotong royong,” tegas Gusma.

Dalam kesempatan yang sama, Tenaga Ahli Dewan Pertahanan Nasional, Sabrang Mowo Damar Panuluh, memberikan pandangan terpisah. Ia menilai bahwa AI memiliki karakter yang berbeda dibandingkan dengan teknologi-teknologi yang telah ada sebelumnya.

Kehadiran AI, menurut Sabrang, menuntut manusia untuk melakukan peninjauan kembali pemahaman mengenai apa itu kecerdasan dan apa yang dimaksud dengan entitas.

“Akal imitasi ini adalah teknologi yang naturenya berbeda dengan teknologi sebelumnya. Simbol kecerdasan AI membuat kita perlu berpikir ulang tentang apa itu entitas,” ujar Sabrang.

Sabrang juga memberikan peringatan mengenai potensi bahaya yang muncul ketika teknologi AI berkembang tanpa adanya kontrol yang memadai. Ia menyoroti bahwa persoalan utama bukan semata-mata terletak pada kecanggihan teknologinya, melainkan pada siapa pihak yang mengendalikan teknologi tersebut.

“Ketika AI menjadi sangat powerful untuk membuat keputusan, siapa yang mengontrol AI? Yang bahaya adalah ketika AI dikontrol oleh kapital. Kita tidak bisa membuat kapitalisme lebih besar dari Pancasila,” tegasnya.

Turut hadir dalam acara tersebut, anggota Komisi I DPR RI, Nurul Arifin. Ia menyampaikan apresiasinya terhadap Paus Leo XIV yang melalui ensiklik perdananya telah mengangkat isu kemanusiaan dalam konteks perkembangan AI.

Nurul Arifin mengungkapkan bahwa perhatian terhadap dampak sosial yang ditimbulkan oleh AI masih belum banyak mendapatkan respons dari organisasi-organisasi internasional.

“Saya mengapresiasi Paus karena tidak banyak organisasi tingkat internasional yang merespons kekhawatiran manusia tentang AI yang semakin mendrive hidup kita,” kata Nurul.

Ia menambahkan bahwa tanpa penjagaan yang ketat, kemajuan AI dapat berdampak negatif. “Jangan sampai kemajuan AI mengurangi semangat membangun kemanusiaan dan semangat gotong royong. Kalau tidak dijaga betul-betul, ini bisa mendorong konflik sosial bahkan perang saudara,” ujarnya.

Diskusi yang diinisiasi oleh PP Pemuda Katolik ini secara tegas menekankan pentingnya menjadikan Pancasila dan nilai-nilai kemanusiaan sebagai kompas etik utama dalam menghadapi perkembangan AI yang kian pesat. Seluruh pembicara sepakat bahwa kemajuan teknologi harus tetap berada di bawah kendali manusia dan diarahkan untuk memperkuat martabat manusia, mewujudkan keadilan sosial, serta mengutamakan kepentingan bersama.