Prediksi Suku Bunga Naik 200 BPS: BI Siap Hadapi Tekanan Global

oleh -8 Dilihat
Prediksi Suku Bunga Naik 200 BPS: BI Siap Hadapi Tekanan Global

KabarDermayu.com – Keputusan Bank Indonesia (BI) untuk menaikkan suku bunga acuan menjadi 5,50 persen menuai apresiasi positif dari para pelaku pasar.

Langkah ini dinilai sangat strategis dalam meredam tekanan terhadap nilai tukar rupiah yang belakangan ini mengalami gejolak akibat situasi global, arus keluar modal asing, dan peningkatan kebutuhan valuta asing di dalam negeri.

Pengamat Pasar Uang dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi, berpandangan bahwa momen kenaikan suku bunga kali ini sangat tepat. Kenaikan ini terjadi bertepatan dengan meredanya tensi geopolitik global.

“Bank Indonesia mengumumkan kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin, menjadi 5,50 persen. Momentumnya sangat bagus, terutama karena tensi geopolitik sedikit mereda menyusul pernyataan dari (Donald) Trump yang mengindikasikan tidak adanya serangan balasan antara Israel dan Iran,” ungkap Ibrahim dalam keterangan resminya pada Selasa, 9 Juni 2026.

Menurut Ibrahim, kondisi ini memberikan ruang bagi Bank Indonesia untuk mengirimkan sinyal kuat kepada pasar. Sinyal tersebut menunjukkan keseriusan Indonesia dalam mempertahankan stabilitas nilai tukar dan mengendalikan inflasi di tengah ketidakpastian global.

“Ini adalah momentum yang sangat baik, dan bagi saya, Bank Indonesia sangat tepat dalam mengambil kebijakan menaikkan suku bunga,” tegasnya.

Ibrahim menjelaskan bahwa tujuan utama dari kenaikan suku bunga ini adalah untuk menjaga stabilitas rupiah. Selain itu, kebijakan ini juga bertujuan untuk mengantisipasi potensi kenaikan inflasi yang mungkin timbul akibat peningkatan harga barang impor.

“Kenaikan suku bunga ini bertujuan untuk menstabilkan mata uang rupiah dan menjaga inflasi tetap terkendali,” ujarnya.

“Kita melihat ada kemungkinan besar inflasi akan mengalami kenaikan setiap bulannya, termasuk bulan ini, karena dampak dari kenaikan harga barang-barang impor,” lanjutnya.

Meskipun memuji langkah bank sentral, Ibrahim mengingatkan bahwa tanggung jawab menjaga stabilitas ekonomi tidak seharusnya hanya dibebankan kepada Bank Indonesia.

Ia berpendapat bahwa pemerintah perlu mengeluarkan kebijakan yang sejalan agar upaya mempertahankan rupiah dapat membuahkan hasil yang lebih kuat dan berkelanjutan.

“Kebijakan Bank Indonesia ini sudah cukup baik dengan menaikkan suku bunga,” ungkapnya.

“Tinggal bagaimana pemerintah, kebijakan-kebijakan pemerintah, agar bisa bersinergi dengan Bank Indonesia untuk menstabilkan mata uang rupiah,” katanya.

Di tengah optimisme tersebut, Ibrahim menilai bahwa penguatan rupiah yang terjadi pasca-kebijakan BI bisa jadi hanya bersifat sementara. Hal ini terutama jika persoalan fiskal belum mendapatkan perhatian yang serius.

Ia menyoroti kondisi defisit anggaran yang mendekati batas 3 persen sebagai salah satu faktor yang masih menjadi perhatian investor.

“Namun, jika saya lihat, penguatan mata uang rupiah ini bisa jadi hanya bersifat sementara, karena belum ada kepastian mengenai fiskal kita yang masih defisit, mendekati 3 persen. Ini yang harus menjadi perhatian pemerintah,” bebernya.

Menurut Ibrahim, dalam beberapa bulan terakhir, Bank Indonesia telah mengerahkan hampir seluruh instrumen kebijakan yang dimilikinya untuk menjaga stabilitas pasar keuangan.

Upaya ini mencakup intervensi di pasar valuta asing, pasar obligasi, hingga penyesuaian suku bunga acuan.

“Karena, sekali lagi saya katakan, Bank Indonesia sudah mengerahkan segala kemampuannya dalam melakukan intervensi di pasar, baik pasar internasional, pasar domestik, obligasi, maupun valuta asing. Bahkan, suku bunga acuan sudah naik 75 basis poin. Saya kira sampai akhir tahun, BI mungkin hanya akan menaikkan 100 basis poin, namun saat ini sudah total 75 basis poin,” tukasnya.

Ibrahim bahkan memperingatkan bahwa Bank Indonesia mungkin harus mengambil langkah yang lebih agresif jika situasi global kembali memburuk dalam beberapa bulan ke depan.

“Ada kemungkinan besar jika kondisi global masih memburuk, Bank Indonesia bisa menaikkan suku bunga hingga 200 basis poin, atau 2 persen, sampai akhir tahun,” tandasnya.

Sebelumnya, Bank Indonesia dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) Mingguan pada Selasa, 9 Juni 2026, memutuskan untuk menaikkan suku bunga BI-Rate sebesar 25 basis poin menjadi 5,50 persen.

Kebijakan ini diambil untuk memperkuat stabilisasi nilai tukar rupiah yang tertekan akibat konflik di Timur Tengah, tingginya permintaan valuta asing domestik, serta derasnya aliran keluar investasi portofolio asing.