Perundingan Damai AS-Iran Memasuki Fase Baru, Empat Kendala Utama Masih Menghalangi Kesepakatan

oleh -4 Dilihat
Perundingan Damai AS-Iran Memasuki Fase Baru, Empat Kendala Utama Masih Menghalangi Kesepakatan

KabarDermayu.com – Draf kesepakatan damai antara Amerika Serikat (AS) dan Iran mulai menunjukkan titik terang dalam upaya penyelesaian konflik yang telah berlangsung beberapa bulan terakhir. Kedua negara bahkan dikabarkan telah mencapai kesepakatan lisan untuk menghentikan perang dan melanjutkan proses menuju perjanjian resmi.

Meskipun demikian, hingga saat ini kesepakatan final belum berhasil dicapai. Sejumlah poin penting dalam rancangan perjanjian masih menjadi perdebatan antara Washington dan Teheran, terutama terkait program nuklir Iran, pembukaan kembali Selat Hormuz, serta mekanisme pelonggaran sanksi ekonomi.

Berdasarkan informasi yang beredar dari hasil perundingan yang dimediasi Pakistan dan didukung oleh sejumlah negara kawasan, terdapat empat poin utama yang menjadi inti dalam draf kesepakatan damai tersebut.

1. AS Siap Cairkan Aset Iran dan Longgarkan Sanksi Minyak

Salah satu poin paling penting dalam rancangan kesepakatan adalah komitmen Amerika Serikat untuk membuka akses terhadap miliaran dolar aset Iran yang selama ini dibekukan.

Selain itu, Washington juga disebut bersedia memberikan pelonggaran terhadap sanksi ekspor minyak yang selama bertahun-tahun menjadi tekanan besar bagi perekonomian Iran.

Langkah tersebut menjadi salah satu bentuk konsesi utama yang ditawarkan AS guna mendorong terciptanya perdamaian dan membangun kembali kepercayaan antara kedua negara setelah konflik bersenjata yang terjadi dalam beberapa bulan terakhir.

Namun hingga kini, rincian teknis mengenai besaran aset yang akan dicairkan dan mekanisme pelonggaran sanksi masih terus dibahas oleh kedua pihak.

2. Program Nuklir Iran Masih Menjadi Batu Sandungan

Meski sejumlah isu ekonomi mulai menemukan titik terang, program nuklir Iran tetap menjadi persoalan paling rumit dalam perundingan.

Amerika Serikat menginginkan program nuklir Iran dibongkar secara bertahap. Washington juga meminta agar cadangan uranium yang telah diperkaya pada tingkat tinggi dimusnahkan atau dipindahkan sebagai bagian dari jaminan keamanan.

Di sisi lain, Iran menolak tuntutan tersebut secara penuh.

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi menegaskan bahwa Teheran masih ingin mempertahankan uranium yang dimiliki, meskipun dalam bentuk yang telah diencerkan.

Perbedaan pandangan ini membuat isu nuklir belum masuk tahap akhir. Kedua negara sepakat bahwa pembahasan program nuklir akan dilanjutkan dalam masa negosiasi selama 60 hari setelah kesepakatan awal tercapai.

3. Pembukaan Selat Hormuz Jadi Kunci Perdamaian

Poin penting lainnya dalam rancangan perjanjian adalah pembukaan kembali Selat Hormuz yang sebelumnya ditutup Iran setelah meningkatnya konflik dengan Amerika Serikat dan Israel.

Selat Hormuz merupakan salah satu jalur pelayaran paling strategis di dunia karena menjadi rute utama distribusi minyak dari kawasan Teluk ke pasar internasional.

Dalam draf yang beredar, Iran akan membuka kembali jalur tersebut sebagai bagian dari kesepakatan damai.

Sebagai imbalannya, Amerika Serikat disebut akan menghentikan blokade angkatan laut terhadap sejumlah pelabuhan Iran.

Meski demikian, mekanisme pembukaan kembali Selat Hormuz masih menjadi bahan diskusi. Iran dan AS disebut masih memiliki perbedaan pandangan mengenai sejumlah aspek teknis yang berkaitan dengan pengelolaan jalur pelayaran tersebut.

Perbedaan tersebut membuat implementasi poin ini belum dapat dipastikan dalam waktu dekat.

4. Penandatanganan Masih Menunggu Kesepakatan Final

Sumber-sumber diplomatik Barat sebelumnya menyebut penandatanganan kesepakatan berpotensi dilakukan di Jenewa, Swiss.

Pemerintah AS bahkan mengklaim kedua negara telah menyetujui rancangan teks perjanjian dan berharap dokumen awal dapat ditandatangani dalam beberapa hari mendatang.

Namun Iran memberikan sinyal yang berbeda.

Pemerintah Iran menyatakan masih melakukan kajian terhadap berbagai aspek politik, hukum, dan teknis dalam draf yang sedang dibahas. Karena itu, Teheran belum memberikan persetujuan final terhadap isi kesepakatan.

Perbedaan sikap tersebut menunjukkan bahwa meski kerangka perdamaian sudah mulai terbentuk, jalan menuju penandatanganan resmi masih belum sepenuhnya mulus.

Titik Temu Damai Masih Belum Tercapai

Kemajuan diplomatik yang terjadi memang memberikan harapan baru bagi berakhirnya konflik antara Amerika Serikat dan Iran. Pasar global bahkan merespons positif perkembangan tersebut dengan penurunan harga minyak dan penguatan pasar saham dunia.

Namun berbagai perkembangan di lapangan menunjukkan bahwa perdamaian masih belum benar-benar tercapai.

Aktivitas militer masih berlangsung di kawasan. Pasukan Amerika Serikat dilaporkan menembak jatuh sejumlah drone Iran di sekitar Selat Hormuz, sementara Israel menegaskan tidak akan menjadi bagian dari kesepakatan yang sedang dirundingkan.

Di dalam negeri Iran sendiri, sejumlah kelompok garis keras juga menyuarakan penolakan terhadap kompromi dengan Washington.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa meski draf kesepakatan damai telah memuat kerangka penyelesaian konflik, masih terdapat sejumlah persoalan besar yang belum menemukan titik temu. Program nuklir, pembukaan Selat Hormuz, mekanisme pencabutan sanksi, hingga dinamika politik internal kedua negara menjadi faktor utama yang membuat kesepakatan damai AS-Iran hingga kini masih menunggu penyelesaian akhir.