Atalia Soroti Kekerasan yang Tak Terdeteksi Publik dan Ajak Warga Temukan Pelaku

oleh -5 Dilihat
Atalia Soroti Kekerasan yang Tak Terdeteksi Publik dan Ajak Warga Temukan Pelaku

KabarDermayu.com – Kasus penyekapan terhadap seorang wanita berinisial YTR di Bandung, Jawa Barat, baru-baru ini menghebohkan publik. Korban yang berusia 29 tahun ini diduga telah disekap oleh kekasihnya, TH, selama kurang lebih tiga tahun di sebuah kamar kos.

Selama masa penyekapan yang mengerikan itu, YTR diduga mengalami berbagai bentuk kekerasan fisik yang parah. Luka-luka tersebut mengakibatkan hilangnya bibir bagian atasnya, cedera serius pada area kepala, serta luka di sekujur tubuhnya.

Lebih tragis lagi, korban juga dilaporkan mengalami gangguan penglihatan dan kesulitan dalam berkomunikasi akibat kekerasan yang dialaminya.

Atas nasib malang yang menimpa YTR, perhatian serius datang dari Anggota DPR RI Komisi VIII dari Fraksi Partai Golkar, Atalia Praratya. Ia menyampaikan keprihatinan mendalam atas kasus tersebut.

“Tiga tahun. Bukan tiga hari. Bukan tiga minggu. Bukan tiga bulan. Tiga tahun seorang perempuan diduga hidup dalam penyekapan dan penderitaan,” ujar Atalia melalui unggahan di akun Instagramnya pada Minggu, 21 Juni 2026.

Ia merinci kondisi korban yang sangat memprihatinkan, menggambarkan luka di kepala yang penuh nanah, wajah yang hancur, bibir yang hilang, mata yang buta, hingga luka bakar akibat sundutan rokok dan bacokan di kaki.

Atalia Praratya juga menyoroti aspek krusial dari kasus ini, yaitu bagaimana kekerasan ekstrem ini bisa terjadi tanpa terdeteksi oleh lingkungan sekitar selama tiga tahun, meskipun lokasinya berada di lingkungan kos yang dekat dengan aktivitas masyarakat.

Menurutnya, situasi ini menimbulkan rasa miris karena seharusnya ada tanda-tanda yang bisa ditangkap oleh orang-orang di sekitarnya selama peristiwa tersebut berlangsung.

“Yang membuat miris, Kemana kita semua selama tiga tahun itu? orang-orang yang mungkin melihat sesuatu yang janggal, apakah benar tidak ada satu pun tanda yang terlihat?” tanyanya retoris.

Ia menekankan bahwa kasus ini menjadi pengingat pentingnya kepedulian sosial yang lebih mendalam, bukan sekadar sapaan atau tegur sapa biasa.

Kepedulian sosial yang sesungguhnya, menurut Atalia, haruslah peka terhadap kondisi di sekitar yang berpotensi membahayakan orang lain, bahkan dalam situasi yang mungkin terlihat biasa.

“Terkadang, satu pertanyaan sederhana, satu bentuk perhatian kecil, bisa menjadi jalan penyelamat bagi seseorang yang sedang berada dalam situasi berbahaya,” tambahnya.

Lebih lanjut, Atalia Praratya menyampaikan dukungan morilnya kepada korban dan keluarganya. Ia juga secara aktif mengajak masyarakat untuk turut serta dalam upaya pencarian pelaku.

Pelaku, yang hingga kini masih belum ditemukan, diduga masih berkeliaran. Atalia meminta masyarakat untuk segera melaporkan kepada pihak berwajib jika memiliki informasi mengenai keberadaan pelaku.

“Teteh.. hati dan pikiran saya sepenuhnya bersama teteh dan keluarga. Terduga pelaku belum ditemukan,” tulisnya dalam unggahan tersebut.

Ia menegaskan pentingnya laporan segera kepada saluran resmi seperti @humaspoldajabar atau kepolisian setempat. Atalia berharap pelaku dapat segera ditemukan dan dihukum seberat-beratnya.

Kasus ini menjadi pengingat yang menyakitkan tentang potensi kekerasan yang bisa terjadi di balik kehidupan sehari-hari yang tampak normal. Hal ini juga menyoroti pentingnya peran serta masyarakat dalam menjaga keamanan dan kesejahteraan lingkungan sekitar.