Kronologi Begal di Subang: Pengendara Motor Tewas Usai Shalat Tahajud

oleh -5 Dilihat
Kronologi Begal di Subang: Pengendara Motor Tewas Usai Shalat Tahajud

KabarDermayu.com – Sebuah peristiwa tragis menimpa dua orang warga asal Kecamatan Cikaum, Kabupaten Subang, saat melintasi jalur perkebunan tebu yang terkenal sepi dan rawan kejahatan. Niat hati ingin menjalankan bisnis jual beli domba, salah seorang di antaranya justru harus meregang nyawa akibat serangan brutal komplotan begal.

Insiden maut ini terjadi pada Minggu (2/8/2026) di ruas jalan provinsi yang menghubungkan Purwadadi dengan Sukamandi, tepatnya di Blok Situ Bau, Desa Pasirbungur. Kawasan perkebunan tebu tersebut memang kerap menjadi titik kerawanan, terutama pada waktu dini hari ketika arus lalu lintas minim kendaraan.

Kronologi Serangan Mendadak

Berdasarkan penuturan salah satu korban selamat berinisial ECR, peristiwa bermula ketika ia bersama rekannya, Suhendra, dalam perjalanan pulang setelah membeli dua ekor domba. Posisi saat itu, Suhendra mengendarai sepeda motor sementara ECR membonceng di belakang sembari menjaga domba yang berada di antara mereka.

Tanpa ada tanda-tanda peringatan, para pelaku yang diduga sudah bersembunyi di pinggir jalan langsung melancarkan aksi. Mereka mengayunkan sebilah bambu dengan keras ke arah kepala kedua korban.

“Pas kejadian, saya dan Suhen sempat mengira pelaku adalah orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) karena menyerang secara tiba-tiba. Namun, saat kami terjatuh, terlihat ada dua orang pelaku, satu memegang golok dan satu lagi memegang bambu,” ungkap ECR dalam tayangan YouTube Kang Dedi Mulyadi Channel.

Akibat serangan tersebut, ECR mengalami cedera serius berupa patah tulang pada lengan kiri. Sementara itu, Suhendra yang menderita luka parah di bagian kepala sempat dilarikan ke rumah sakit, namun nyawanya tidak tertolong dalam perjalanan.

Duka Mendalam Keluarga

Kepergian Suhendra meninggalkan duka yang sangat mendalam bagi sang istri, Ratnasari. Ia menceritakan bahwa sebelum berangkat mencari nafkah, suaminya sempat menunaikan ibadah shalat tahajud. Ratnasari sebenarnya sudah memiliki firasat dan sempat melarang suaminya pergi di malam hari, namun Suhendra tetap bersikeras berangkat.

Kini, Ratnasari harus berjuang membesarkan dua orang anak, yakni seorang putra berusia 7 tahun dan seorang balita yang baru berusia 1 tahun. Kondisi ekonomi keluarga yang ditinggalkan pun menjadi perhatian publik setelah kisah ini viral.

Perhatian dari Tokoh Masyarakat

Kasus kejahatan jalanan ini menarik perhatian Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi. Beliau secara langsung mendatangi rumah korban untuk memberikan dukungan moril kepada ECR dan keluarga almarhum Suhendra. Dalam kunjungannya, Dedi Mulyadi menyampaikan belasungkawa dan berjanji akan menjamin biaya pendidikan bagi putra sulung Suhendra hingga lulus sekolah.

Momen haru sempat pecah saat putra almarhum tidak mampu menahan tangisnya. Dedi Mulyadi terlihat berusaha menenangkan anak tersebut dengan pelukan hangat, sebagai bentuk empati atas musibah yang merenggut sosok ayah di keluarga mereka.

Hingga saat ini, pihak kepolisian diharapkan dapat segera mengungkap identitas para pelaku agar keadilan bagi keluarga korban dapat ditegakkan. Masyarakat pun diimbau untuk lebih berhati-hati saat melintasi jalur-jalur sepi, terutama di area perkebunan, dan menghindari bepergian membawa barang berharga pada jam-jam rawan.