KabarDermayu.com – Bupati Tangerang, Moch. Maesyal Rasyid, secara resmi menetapkan status tanggap darurat bencana kebakaran di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Jatiwaringin, Kecamatan Mauk, Banten. Status ini berlaku selama dua minggu ke depan.
Penetapan status tanggap darurat ini dimulai sejak tanggal 1 hingga 14 Juli 2026. Tujuannya adalah untuk mengoptimalkan upaya penanganan yang melibatkan tim gabungan. Keputusan ini diambil sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku, di mana SK Bupati mengenai status kedaruratan memiliki masa berlaku selama 14 hari.
Namun, Bupati Maesyal Rasyid menambahkan bahwa masa tanggap darurat ini dapat disesuaikan apabila tahapan penanggulangan kebencanaan berjalan optimal dan cepat. Jika kondisi di lapangan memungkinkan, status kedaruratan bisa saja diperpendek.
Sementara itu, Wakil Menteri Lingkungan Hidup (LH), Diaz Faisal Malik Hendropriyono, menjelaskan bahwa penanganan kebakaran di TPA Jatiwaringin terus dilakukan melalui operasi gabungan. Operasi ini melibatkan petugas dari berbagai unsur terkait.
Untuk memantau dan menganalisis sumber api serta titik panas, pihaknya telah mengerahkan teknologi drone termal. Teknologi ini menggunakan kamera inframerah untuk mendeteksi radiasi panas, sehingga memberikan gambaran yang lebih akurat mengenai kondisi kebakaran.
Selanjutnya, dua unit mobile monitoring system juga dikerahkan untuk memantau kualitas udara di sekitar lokasi kebakaran. Pemantauan ini penting untuk mengantisipasi dampak negatif terhadap kesehatan masyarakat dan lingkungan.
Pemerintah, melalui Kementerian Kehutanan, turut ambil bagian dalam upaya pemadaman. Sebanyak 30 personel tim Manggala Agni dari wilayah Sulawesi dan Jawa Barat telah diterjunkan. Tim ini memiliki pengalaman yang memadai dalam penanganan kebakaran hutan dan lahan.
Personel Manggala Agni dilengkapi dengan peralatan khusus bertekanan tinggi (high-pressure). Peralatan ini memungkinkan mereka untuk melakukan pemadaman langsung ke titik api yang berada di bawah permukaan tumpukan sampah. Hal ini dinilai lebih optimal dibandingkan hanya menyiramkan air dari atas.
“Karena akan lebih optimal kalau tidak hanya diairi dari atas saja. Karena di bawahnya tetap kebakaran, sehingga kita butuh bantuan Manggala Agni untuk melakukan inject sampai ke titik di bawah,” jelas Diaz.
Di sisi lain, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) bersama Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) tengah menyiapkan skema operasi Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC). Tujuannya adalah untuk mempercepat proses pemadaman kebakaran yang telah meluas.
Upaya ini diharapkan dapat segera mengendalikan situasi kedaruratan bencana kebakaran yang melanda area seluas kurang lebih 15 hektare. Luasan ini menunjukkan skala kebakaran yang cukup signifikan dan memerlukan penanganan ekstra.
“Sehingga mungkin atau dimungkinkan untuk melakukan operasi TMC besok. Kita akan melakukan bersama BNPB dan BMKG,” ujar Diaz mengenai rencana operasi TMC yang akan segera dilaksanakan.





