Mengapa Mojtaba Khamenei Belum Muncul di Pemakaman Ali Khamenei?

oleh -3 Dilihat
Mengapa Mojtaba Khamenei Belum Muncul di Pemakaman Ali Khamenei?

KabarDermayu.com – Tiga putra mendiang Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, telah terlihat di hadapan publik dalam rangkaian prosesi pemakaman ayah mereka. Namun, hingga kini, kemunculan Mojtaba Khamenei, yang digadang-gadang sebagai penerus ayahnya, masih belum terkonfirmasi.

Televisi pemerintah Iran menayangkan kehadiran Mostafa, Meysam, dan Masoud Khamenei yang tengah memanjatkan doa. Mereka berdiri di belakang deretan peti jenazah yang disemayamkan di halaman luas Kompleks Imam Khomeini Grand Mosalla, Teheran, pada akhir pekan kemarin.

Di antara peti jenazah tersebut, terdapat jenazah Ali Khamenei sendiri, putrinya, menantu laki-laki, menantu perempuan, serta cucunya yang baru berusia 14 bulan. Mereka semua dilaporkan tewas dalam serangan udara pada 28 Februari, hari pertama perang antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran.

Absennya Mojtaba Khamenei dalam rangkaian acara duka ini memunculkan berbagai spekulasi. Melansir Al Jazeera, Senin 6 Juli 2026, salah satu dugaan kuat adalah terkait ancaman pembunuhan dari Israel. Sejak ditunjuk sebagai Pemimpin Tertinggi Iran pada Maret lalu, Mojtaba belum pernah tampil di muka umum atau memberikan pernyataan kepada publik, yang oleh sejumlah analis dinilai sebagai langkah antisipasi keamanan.

Kondisi Fisik Menjadi Pertimbangan?

Spekulasi lain mengenai ketidakhadiran Mojtaba Khamenei datang dari Menteri Pertahanan Amerika Serikat, Pete Hegseth. Pada Maret lalu, Hegseth menyebutkan bahwa Mojtaba mengalami luka akibat serangan yang menewaskan ayah, ibu, dan istrinya. Menurutnya, Mojtaba diduga mengalami cedera serius yang berpotensi menyebabkan cacat permanen.

Dukungan terhadap spekulasi ini datang dari laporan Reuters pada April. Laporan tersebut menyatakan bahwa Mojtaba masih menjalani pemulihan akibat cedera parah di bagian wajah dan kaki. Bahkan, ada kemungkinan ia kehilangan salah satu kakinya akibat serangan udara tersebut.

Analis Hamidreza Mortazavi berpendapat bahwa kondisi fisik Mojtaba bisa menjadi salah satu alasan utama mengapa ia belum menampakkan diri di hadapan publik.

“Dengan tidak tampil di depan umum, ia juga menghindari munculnya kesan bahwa dirinya berada dalam kondisi rentan, di saat pemerintah Iran berupaya menunjukkan citra ketangguhan, persatuan, dan kekuatan,” ujar Mortazavi.

Selain faktor kesehatan, alasan keamanan juga dinilai menjadi pertimbangan krusial.

Laporan The New York Times pada 4 Juli mengindikasikan bahwa para pejabat Iran mengkhawatirkan kemunculan Mojtaba di ruang publik dapat meningkatkan risiko upaya pembunuhan terhadap dirinya.

“Setelah ayahnya dibunuh pada awal perang, Pemimpin Tertinggi yang baru menjadi salah satu target paling bernilai bagi Israel. Karena itu, setiap kemunculan di depan publik membawa risiko yang sangat besar,” jelas Mortazavi.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump sempat menyinggung kerentanan para petinggi Iran yang berkumpul dalam satu lokasi.

“Mereka semua ada di sana. Satu serangan saja dan kita bisa menghabisi mereka semua. Tapi kami tidak akan melakukan itu,” kata Trump dalam sebuah wawancara Axios pada Sabtu kemarin.

Di tengah situasi yang penuh ketegangan ini, absennya Mojtaba Khamenei menjadi sorotan. Hal ini bukan hanya karena pentingnya prosesi pemakaman pekan ini, tetapi juga karena berlangsung di tengah gencatan senjata yang masih rapuh. Kesepakatan tersebut membuka kembali Selat Hormuz setidaknya selama 60 hari, sembari Amerika Serikat dan Iran melanjutkan perundingan untuk menyelesaikan berbagai permasalahan yang masih tersisa.

Menurut Mortazavi, prosesi pemakaman seharusnya menjadi kesempatan bagi pemerintah Iran untuk meyakinkan masyarakat dalam negeri maupun kawasan bahwa proses transisi kepemimpinan berjalan dengan baik. Namun, ia menilai dinamika perundingan damai turut memengaruhi suasana dan pesan yang disampaikan dalam rangkaian upacara tersebut.

Wartawan The New York Times melaporkan mendengar massa meneriakkan slogan “Balas dendam, balas dendam” serta “Tidak ada kompromi, tidak ada penyerahan, hanya balas dendam” setelah penyair Mohammad Rasouli, dalam pidato penghormatannya, menyerukan kematian bagi Donald Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu.

“Ini akan menjadi aib bagi kami jika kami tidak membunuh orang yang telah membunuhmu,” kata Rasouli saat menyampaikan pidato di hadapan jenazah Ali Khamenei.

Dengan Pemimpin Tertinggi Iran yang baru masih belum muncul ke hadapan publik, pesan utama dalam prosesi pemakaman semakin menitikberatkan pada konflik Iran dengan Israel dan Amerika Serikat, serta seruan untuk melakukan pembalasan, alih-alih menyoroti proses pergantian kepemimpinan di negara tersebut.