Indonesia-Maroko: Percepat Dagang, Bidik Pasar ASEAN, Afrika, Eropa

oleh -2 Dilihat
Indonesia-Maroko: Percepat Dagang, Bidik Pasar ASEAN, Afrika, Eropa

KabarDermayu.com – Indonesia dan Maroko sepakat untuk mempercepat penguatan hubungan ekonomi bilateral melalui penyelesaian Preferential Trade Agreement (PTA) dan ekspansi kerja sama investasi. Langkah strategis ini memanfaatkan posisi geografis kedua negara yang saling melengkapi sebagai gerbang menuju pasar ASEAN, Afrika, Eropa, dan kawasan Mediterania.

Komitmen ini mengemuka dalam pertemuan antara Wakil Menteri Perdagangan (Wamendag) RI, Dyah Roro Esti Widya Putri, dengan Wakil Perdagangan Luar Negeri Maroko, Omar Hejira, di Jakarta. Diskusi mendalam dilakukan untuk mendorong percepatan kerja sama perdagangan, investasi, serta meningkatkan keterlibatan sektor swasta dari kedua negara.

Wamendag Roro menilai bahwa potensi perdagangan antara Indonesia dan Maroko saat ini belum tergali sepenuhnya. Ia menekankan bahwa sebagai negara dengan pasar yang saling komplementer, kedua belah pihak memiliki peluang besar untuk memperluas akses produk dan investasi di kawasan strategis masing-masing.

“Di dalam ASEAN, Indonesia merupakan mitra dagang terbesar ketiga Maroko. Mengingat ukuran ekonomi kedua negara dan pasar yang saling melengkapi, kami meyakini masih ada ruang yang cukup besar untuk lebih memperluas perdagangan dan investasi antara Indonesia dan Maroko,” ujar Roro dalam keterangannya pada Sabtu, 11 Juli 2026.

Indonesia menawarkan akses pasar ke ASEAN yang dihuni oleh lebih dari 680 juta penduduk. Di sisi lain, Maroko berperan sebagai pintu gerbang penting menuju pasar Afrika, Eropa, dan kawasan Mediterania. Sinergi ini diharapkan dapat membuka jalur perdagangan baru sekaligus memperkuat posisi kedua negara dalam rantai pasok global.

Untuk mengakselerasi integrasi ekonomi ini, Indonesia juga mendorong pengaktifan kembali negosiasi PTA yang sempat tertunda. Menurut Roro, penandatanganan Mutual Recognition Agreement (MRA) mengenai Jaminan Produk Halal antara Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH) Indonesia dan Institut Marocain de Normalisation (IMANOR) Maroko pada 20 Mei 2026 menjadi fondasi krusial untuk melanjutkan negosiasi PTA.

“Indonesia berharap dapat segera mengaktifkan kembali negosiasi tersebut. Pasalnya, Preferential Trade Agreement (PTA) dan MRA tentang Jaminan Produk Halal akan memberikan dasar yang kuat untuk kepercayaan yang lebih dalam dan kerja sama yang lebih erat antara pelaku usaha kedua negara sehingga perdagangan bilateral dapat berkembang,” tegas Roro.

Perundingan Indonesia-Maroko PTA sendiri telah dimulai sejak penandatanganan kesepakatan awal pada 28 Juni 2018 di Fes, Maroko. Meskipun sebagian besar substansi perjanjian telah disepakati, proses negosiasi sempat mengalami penundaan karena kedua negara memprioritaskan kerja sama di bidang sertifikasi halal.

Di sisi lain, Wakil Perdagangan Luar Negeri Maroko, Omar Hejira, menyambut baik percepatan penyelesaian perjanjian dagang ini. Ia berharap pembahasan dapat segera dimulai kembali pada awal tahun 2027. Omar juga secara khusus mengundang para pelaku usaha Indonesia untuk menjajaki peluang investasi di Maroko, yang akan menjadi salah satu tuan rumah Piala Dunia 2030 bersama Spanyol dan Portugal.

“Kami mengharapkan perundingan perjanjian perdagangan dapat kembali dimulai awal tahun 2027. Kami juga mengundang Indonesia di Marrakesh, salah satu kota perdagangan besar, untuk melihat sendiri situasi Maroko sebagai gerbang ke Afrika,” ujar Omar, menekankan potensi strategis Maroko.

Optimisme kedua negara turut didukung oleh tren perdagangan bilateral yang menunjukkan peningkatan signifikan. Pada tahun 2025, total perdagangan antara Indonesia dan Maroko mencapai US$235 juta, yang merupakan peningkatan sebesar 33,04 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Periode Januari–Mei 2026 mencatat nilai perdagangan sebesar US$158,1 juta, menunjukkan pertumbuhan tahunan sebesar 41,95 persen.

Pada tahun 2025, ekspor Indonesia ke Maroko didominasi oleh produk-produk seperti kopi, ban pneumatik baru, lemak dan minyak hewani maupun nabati, margarin dan olahan makanan, serta batu bara, dengan total nilai US$154,9 juta. Sementara itu, impor dari Maroko senilai US$80,1 juta, sebagian besar terdiri dari pupuk nitrogen dan fosfat, aluminium mentah, pakaian wanita, serta berbagai bahan baku industri.

Kinerja perdagangan ini menghasilkan surplus bagi Indonesia sebesar US$74,8 juta. Di sektor investasi, arus modal dari Maroko ke Indonesia juga menunjukkan tren positif. Investasi langsung (FDI) Maroko meningkat dari US$1,4 juta pada tahun 2024 menjadi sekitar US$5,4 juta pada tahun 2025. Secara kumulatif, investasi Maroko di Indonesia sepanjang periode 2021–2025 mencapai sekitar US$8,4 juta yang tersebar dalam 122 proyek.