Prabowo Subianto: Mengapa Kepemimpinan Berbasis Fakta Itu Mutlak

oleh -10 Dilihat
Prabowo Subianto: Mengapa Kepemimpinan Berbasis Fakta Itu Mutlak

KabarDermayu.com – Menempatkan sains dan teknologi sebagai pilar utama kemajuan bangsa, Presiden Prabowo Subianto menegaskan komitmennya untuk selalu berpijak pada realitas objektif dalam setiap langkah kebijakan pemerintahannya.

Pernyataan tersebut disampaikan Presiden Prabowo saat menggelar pertemuan dengan 150 peneliti dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Acara yang berlangsung di Halaman Istana Merdeka pada Kamis, 6 Agustus 2026, tersebut menjadi ajang bagi Presiden untuk menekankan pentingnya riset dalam menentukan arah masa depan Indonesia.

Sains dan Teknologi sebagai Fondasi Pembangunan

Dalam pandangan Prabowo, penguasaan terhadap ilmu pengetahuan dan teknologi bukan sekadar pilihan, melainkan syarat mutlak bagi sebuah negara untuk dapat bersaing di kancah global. Ia meyakini bahwa lompatan kemajuan sebuah bangsa sangat bergantung pada seberapa jauh bangsa tersebut mampu mengintegrasikan inovasi dalam struktur pembangunannya.

Presiden juga menyoroti sektor pendidikan sebagai landasan paling kritis dalam ekosistem ini. Tanpa pendidikan yang mumpuni, penguasaan sains dan teknologi akan sulit dicapai, yang pada akhirnya akan menghambat potensi pertumbuhan nasional.

Kepemimpinan Berbasis Data

Prabowo secara terbuka menyatakan gaya kepemimpinannya yang lebih memilih untuk menghadapi fakta di lapangan, meskipun realitas yang ditemukan terkadang tidak menyenangkan atau pahit untuk diterima. Baginya, kejujuran terhadap data adalah kunci utama dalam merumuskan solusi yang tepat sasaran.

“Kalau saya memimpin, saya sukanya itu memimpin dengan fakta, realita, dengan keadaan yang sebenarnya. Kadang-kadang fakta itu, ya tidak enak. Kadang-kadang melihat realita itu tidak enak, terus terang saja,” ujar Presiden Prabowo.

Refleksi Dunia Sepak Bola

Sebagai ilustrasi mengenai pentingnya melihat fakta secara jujur, Presiden memberikan contoh nyata dari dunia olahraga, khususnya sepak bola. Ia mengungkapkan rasa sedihnya karena Indonesia, dengan populasi penduduk yang mencapai sekitar 287 juta jiwa—terbesar keempat di dunia—masih belum mampu menembus putaran final Piala Dunia.

Presiden membandingkan kondisi tersebut dengan negara-negara yang secara populasi jauh lebih kecil namun memiliki prestasi sepak bola yang lebih baik. Salah satu contoh yang ia sebutkan adalah Cape Verde.

  • Indonesia memiliki populasi hampir 300 juta jiwa, namun belum berhasil masuk Piala Dunia.
  • Negara dengan jumlah penduduk jauh lebih sedikit, seperti Cape Verde, mampu berkompetisi di panggung internasional.
  • Perbandingan populasi Cape Verde yang dianalogikan Presiden mungkin setara dengan jumlah penduduk di tingkat Kabupaten, seperti Sumedang.

Melalui perbandingan tersebut, Prabowo ingin mengajak para peneliti dan masyarakat untuk tidak menutup mata terhadap fakta yang ada. Pengakuan atas kekurangan ini diharapkan menjadi pemicu bagi seluruh elemen bangsa untuk melakukan evaluasi mendalam, memperbaiki sistem, dan berinovasi demi mencapai target yang lebih baik di masa depan.

Pertemuan dengan 150 peneliti BRIN ini juga diisi dengan agenda peninjauan pameran inovasi yang mencakup berbagai proyek strategis nasional. Beberapa sorotan utama dalam pameran tersebut meliputi teknologi Giant Sea Wall yang dirancang untuk mitigasi bencana, hingga pengembangan riset teknologi nuklir yang menjadi bagian dari visi besar pemerintah dalam memperkuat ketahanan nasional melalui sains.