KabarDermayu.com – Harga bahan bakar minyak (BBM) di Amerika Serikat dilaporkan telah mencapai titik tertinggi dalam empat tahun terakhir, memicu kekhawatiran luas di berbagai kalangan.
Kondisi ini berdampak signifikan pada para pengemudi, industri logistik, hingga produsen otomotif, dengan prediksi kenaikan harga yang kemungkinan masih akan berlanjut.
Berdasarkan data terbaru dari AAA yang dikutip oleh VIVA dari Carscoops pada Rabu, 29 April 2026, harga rata-rata bensin di tingkat nasional telah menembus angka 4,176 dolar AS per galon, setara dengan sekitar Rp70.000.
Angka tersebut menunjukkan kenaikan sekitar 33 persen jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya, di mana harga bensin masih berada di kisaran 3,15 dolar AS per galon.
Lonjakan yang lebih mengkhawatirkan terjadi pada harga bahan bakar diesel. Rata-rata harga diesel kini mencapai 5,461 dolar AS per galon, atau sekitar Rp90.000, dan mendekati rekor tertinggi sepanjang masa yang pernah tercatat pada tahun 2022.
Kenaikan harga diesel dianggap sangat berisiko karena secara langsung memengaruhi biaya transportasi barang, distribusi pasokan makanan, hingga harga berbagai kebutuhan pokok sehari-hari.
Pemicu utama dari kenaikan harga BBM ini berkaitan erat dengan konflik geopolitik yang masih berlangsung di Timur Tengah, khususnya situasi di Iran dan penutupan Selat Hormuz.
Selat Hormuz merupakan salah satu jalur pelayaran minyak paling krusial di dunia. Gangguan pada distribusi minyak melalui jalur ini secara otomatis akan mendorong kenaikan harga minyak mentah global, yang kemudian berdampak pada lonjakan harga BBM di berbagai negara.
Dalam beberapa pekan terakhir, harga minyak mentah Brent bahkan sempat menyentuh angka lebih dari 110 dolar AS per barel. Situasi ini menciptakan ketidakstabilan di pasar energi global dan menimbulkan kekhawatiran akan terjadinya gelombang inflasi baru di banyak negara.
Baca juga di sini: Stok Mobil Seken Menipis, Harga Terancam Naik Lagi
Di Amerika Serikat sendiri, negara bagian California masih mencatat harga BBM tertinggi. Para pengemudi di California kini harus merogoh kocek hampir 6 dolar AS per galon, atau sekitar Rp104.000, untuk bensin biasa.
Sementara itu, harga diesel di California bahkan mendekati 7,5 dolar AS per galon. Sebaliknya, Oklahoma tercatat sebagai salah satu wilayah dengan harga BBM paling terjangkau.
Kenaikan harga bahan bakar ini mulai mengubah pola konsumsi masyarakat. Banyak pengemudi dilaporkan mulai mempertimbangkan untuk beralih ke mobil hybrid dan kendaraan listrik, mengingat biaya operasional kendaraan berbahan bakar bensin yang semakin meningkat.
Bahkan, laporan Carscoops menyebutkan bahwa pencarian informasi mengenai mobil listrik di internet mengalami lonjakan signifikan setelah harga BBM melonjak.
Analis memprediksi harga BBM dapat terus merangkak naik jika tensi konflik geopolitik tidak segera mereda. Beberapa estimasi bahkan menyebutkan harga bensin berpotensi mendekati 5 hingga 7 dolar AS per galon jika pasokan minyak global terus mengalami gangguan.
Dampak dari kenaikan harga BBM ini tidak hanya dirasakan oleh pemilik kendaraan pribadi. Industri logistik, maskapai penerbangan, hingga sektor pertanian diprediksi akan menghadapi peningkatan biaya operasional yang lebih besar dalam beberapa bulan mendatang.
Kenaikan biaya distribusi ini juga berpotensi mendorong kenaikan harga barang-barang kebutuhan pokok bagi masyarakat.
Bank Dunia bahkan telah mengeluarkan peringatan bahwa lonjakan harga energi global pada tahun 2026 berpotensi menjadi salah satu yang terbesar sejak krisis energi modern. Apabila situasi terus memburuk, tekanan inflasi diperkirakan akan semakin berat, terutama bagi negara-negara berkembang dan kelompok masyarakat berpenghasilan rendah.





