Harga Pertamax Rp 17.000/Liter di [Nama Daerah]

oleh -3 Dilihat
Harga Pertamax Rp 17.000/Liter di [Nama Daerah]

KabarDermayu.com – PT Pertamina (Persero) melakukan penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi jenis Pertamax di seluruh Indonesia pada hari ini. Kenaikan harga ini terasa signifikan di beberapa wilayah, salah satunya Riau yang kini harus merogoh kocek Rp17.000 per liter, naik dari harga sebelumnya Rp12.300 per liter.

Perbedaan tarif kenaikan harga Pertamax ini bervariasi di berbagai wilayah Indonesia. Provinsi Riau tercatat berada pada level harga tertinggi yang sama dengan Sumatera Barat, Kepulauan Riau, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Utara, yakni Rp17.000 per liter.

Sementara itu, untuk sejumlah provinsi di Pulau Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara, harga Pertamax dipatok sedikit lebih rendah, yaitu Rp16.250 per liter. Di sisi lain, beberapa daerah di Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, dan Papua terpantau menetapkan harga Pertamax sebesar Rp16.650 per liter.

Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga, Roberth MV Dumatubun, menjelaskan bahwa penyesuaian harga ini dilakukan sesuai dengan mekanisme evaluasi berkala. Evaluasi tersebut mempertimbangkan perkembangan harga minyak dunia dan harga pasar terkini.

Lebih lanjut, Roberth menambahkan bahwa penyesuaian harga ini juga telah melalui proses evaluasi yang sesuai dengan formula harga yang ditetapkan oleh pemerintah. Keputusan harga jual ini diambil dengan tetap berkoordinasi bersama pemerintah selaku regulator.

“Harga jual tersebut diputuskan dengan tetap dikoordinasikan dengan pemerintah sebagai regulator, dan menjadi bagian dari upaya menjaga keberlanjutan penyediaan energi dan distribusi BBM berkualitas bagi masyarakat terus berjalan optimal,” kata Roberth dalam keterangan tertulisnya di Riau, Rabu, 10 Juni 2026.

Di sisi lain, harga BBM subsidi dilaporkan tidak mengalami perubahan sama sekali. Pertalite masih dijual dengan harga Rp10.000 per liter, sementara Biosolar tetap Rp6.800 per liter.

Pertamina mengimbau masyarakat untuk dapat memilah dan memilih dalam penggunaan energi. Gerakan bijak menggunakan energi diharapkan dapat diterapkan di seluruh lapisan masyarakat.

Roberth juga menyampaikan bahwa masyarakat yang sebelumnya beralih menggunakan BBM nonsubsidi dari BBM subsidi, seperti Pertalite, tidak perlu mengkhawatirkan penyesuaian harga ini. Hal ini karena kualitas BBM nonsubsidi dinilai lebih baik dan lebih ramah lingkungan.

“Artinya untuk masyarakat yang mampu, diimbau untuk menggunakan yang nonsubsidi dengan tentunya RON yang lebih tinggi dan kualitas yang lebih baik,” ujar Roberth.