Perayaan Hari Buruh Damai, Cerminan Kedewasaan Demokrasi Buruh untuk Iklim Investasi

oleh -6 Dilihat
Perayaan Hari Buruh Damai, Cerminan Kedewasaan Demokrasi Buruh untuk Iklim Investasi

KabarDermayu.com – Peringatan Hari Buruh Internasional atau May Day pada 1 Mei setiap tahunnya kini bukan hanya sekadar momen untuk menyuarakan aspirasi, melainkan juga menjadi ajang pembuktian kedewasaan demokrasi yang dimiliki kaum buruh di Indonesia.

Pelaksanaan aksi yang berlangsung dengan tertib dan damai dinilai memiliki peran krusial. Hal ini tidak hanya untuk memperkuat posisi para pekerja, tetapi juga sangat penting dalam menjaga iklim investasi dan stabilitas perekonomian nasional.

Ketua Umum KBPP Polri periode 2015-2021, A.H. Bimo Suryono, menyatakan bahwa penyampaian pendapat di muka umum merupakan hak yang dilindungi oleh konstitusi negara.

Namun, ia menekankan bahwa kedewasaan dalam berdemokrasi seyogianya ditunjukkan dengan cara menyelaraskan kebebasan tersebut dengan tanggung jawab untuk menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat (Kamtibmas).

“Di sinilah letak krusialnya antara May Day dan Kamtibmas,” ujar Bimo dalam sebuah keterangan yang disampaikan pada Jumat, 1 Mei 2026.

Pelaksanaan May Day yang berjalan damai, tanpa diwarnai tindakan anarkis, akan memberikan sinyal positif bagi dunia usaha. Hal ini sangat vital mengingat investor, baik dari dalam maupun luar negeri, cenderung mengutamakan negara yang aman, stabil, dan memiliki kepastian hukum.

Jika aksi buruh berlangsung tertib, maka persepsi positif terhadap potensi investasi di Indonesia akan tetap terjaga. Sebaliknya, Bimo mengingatkan bahwa gangguan keamanan yang timbul akibat aksi yang tidak terkendali justru akan menjadi bumerang bagi perekonomian negara.

Baca juga di sini: Perjuangan Desainer Indonesia Berbuah Manis di Lomba Kostum Maskot Internasional

“Tanpa adanya rasa aman, investasi tidak akan masuk. Tanpa investasi, lapangan kerja akan semakin menyempit. Pada akhirnya, dampak negatif ini akan dirasakan oleh para buruh juga,” jelasnya.

Lebih lanjut, Bimo menilai bahwa cara penyampaian aspirasi yang damai justru akan membuka ruang dialog yang lebih konstruktif. Dialog ini dapat terjalin antara pihak buruh, pengusaha, dan pemerintah. Sikap tertib yang ditunjukkan oleh para buruh merupakan bukti nyata dari kedewasaan organisasi buruh yang semakin profesional.

“May Day seharusnya bukan hanya menjadi panggung untuk menyampaikan tuntutan, melainkan cerminan kedewasaan bangsa dalam menjaga keseimbangan antara kebebasan berekspresi dan ketertiban umum. Kesejahteraan buruh dan keamanan negara tidak boleh dipertentangkan,” tegasnya.

Untuk memastikan kelancaran aksi dan melindungi iklim usaha, Bimo juga mendorong penguatan penegakan hukum yang dilakukan secara adil. Ia meminta aparat keamanan untuk terus mengawal jalannya aksi dengan pendekatan yang humanis, namun tetap bersikap tegas terhadap oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab yang berupaya merusak ketertiban umum.

“Negara tidak boleh ragu. Setiap tindakan anarkis harus dihadapi dengan sikap yang tegas dan terukur. Ketegasan ini bukan bertujuan untuk menakut-nakuti, melainkan untuk memastikan bahwa hukum tetap menjadi panglima tertinggi,” pungkasnya.

Lebih jauh, Bimo mengingatkan bahwa seluruh elemen bangsa memiliki tujuan yang sama, yaitu tercapainya kesejahteraan bersama. Ekosistem ekonomi yang harmonis dapat tercipta ketika buruh, pengusaha, dan pemerintah mampu menjalankan peran masing-masing dalam kondisi negara yang stabil.

“May Day seharusnya menjadi momentum untuk melakukan refleksi, bukan konfrontasi. Jika semua pihak menjalankan perannya dengan baik, maka kesejahteraan dan keamanan dapat berjalan beriringan,” tutupnya.