Dampak Perang Meluas, Ancaman Krisis Pangan Mengintai Negara Termiskin

oleh -8 Dilihat
Dampak Perang Meluas, Ancaman Krisis Pangan Mengintai Negara Termiskin

KabarDermayu.com – Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kini mulai berimbas pada sektor pangan global, menciptakan kekhawatiran akan krisis yang mengancam negara-negara termiskin di dunia.

Konflik yang melibatkan Iran, Israel, dan Amerika Serikat berpotensi besar mengganggu pasokan pupuk dunia. Gangguan ini secara langsung dapat memengaruhi produksi pangan, terutama di negara-negara berkembang yang sangat bergantung pada impor.

Kawasan Afrika menjadi sorotan utama dalam ancaman ini. Dengan ketergantungan tinggi pada impor pupuk dan sumber daya yang terbatas, benua Afrika berada dalam posisi paling rentan terhadap gejolak harga dan ketersediaan pupuk.

Svein Tore Holsether, kepala eksekutif Yara International, telah membunyikan alarm mengenai potensi krisis pangan yang dapat berkembang pesat jika tidak segera diatasi. Ia menekankan risiko terjadinya “lelang global” untuk pupuk, yang dapat membuat komoditas vital ini tidak terjangkau oleh negara-negara yang paling membutuhkan.

Holsether menambahkan bahwa Afrika sebenarnya memiliki potensi besar untuk menjadi produsen pangan utama, baik untuk memenuhi kebutuhan domestik maupun untuk ekspor. Namun, kenyataannya, banyak negara di benua tersebut masih sangat bergantung pada impor bahan pangan.

Baca juga di sini: Waspada Pungli: Ketahui Biaya Resmi PTSL Agar Tidak Jadi Korban

Ia juga mengingatkan bahwa dampak krisis pangan tidak akan dirasakan secara merata. Negara-negara maju kemungkinan besar tidak akan menghadapi kelaparan, namun negara-negara miskin akan mengalami konsekuensi yang jauh lebih berat.

Para pemimpin dunia didesak untuk memahami risiko yang sedang berkembang ini sebelum situasi menjadi tidak terkendali. Perusahaan intelijen keuangan S&P Global juga telah mengkonfirmasi bahwa dampak perang sudah mulai terasa dalam rantai pasok global.

Chris Rogers, kepala riset rantai pasok di S&P Global Market Intelligence, menjelaskan bahwa sektor pertanian menghadapi tantangan langsung dan tidak langsung akibat pembatasan pasokan bahan bakar dan pupuk.

Ketergantungan beberapa negara Afrika terhadap pupuk dari Timur Tengah cukup signifikan, dengan Ethiopia dan Kenya disebut sebagai negara di kawasan sub-Sahara yang paling terdampak.

Situasi semakin rumit mengingat sekitar 35 persen pasokan urea dunia berasal dari negara-negara Teluk. Sejak konflik meningkat, pasokan pupuk mengalami gangguan dan harganya melonjak drastis, bahkan bisa mencapai kenaikan 60 hingga 70 persen.

Kenaikan harga ini menjadi pukulan berat bagi negara-negara yang tidak memiliki anggaran memadai. Produksi pupuk juga tertekan akibat keterbatasan penyimpanan dan terganggunya pasokan bahan baku utama seperti amonia.

Dalam kondisi perang, produksi amonia menjadi sangat berisiko karena sifatnya yang berbahaya. Hal ini memberikan pukulan ganda bagi sektor pertanian, terutama di Afrika sub-Sahara yang tengah memasuki musim tanam.

Selain kebutuhan saat ini, petani juga menghadapi tantangan dalam mempersiapkan stok untuk musim tanam berikutnya. Di Eropa, pemerintah telah mengambil langkah mitigasi dengan memberikan subsidi kepada petani untuk menutupi kenaikan biaya. Namun, dukungan serupa belum tersedia secara luas di negara-negara Afrika.

Holsether menyoroti perbedaan kondisi ini yang membuat dampak krisis semakin terasa di wilayah yang sudah lebih dulu rentan. Di Eropa, kondisi tanah dan pertanian yang optimal memungkinkan petani untuk mengurangi penggunaan pupuk tanpa penurunan hasil panen yang signifikan. Namun, kondisi ini sangat berbeda di belahan dunia lain.

Dengan perkembangan situasi yang terus memburuk, ancaman krisis pangan global semakin nyata. Tanpa intervensi cepat dari komunitas internasional, dampak konflik ini berpotensi meluas dan memperparah ketimpangan pangan di seluruh dunia.