AS Sita Aset Kripto Iran Senilai Triliunan Rupiah

oleh -6 Dilihat
AS Sita Aset Kripto Iran Senilai Triliunan Rupiah

KabarDermayu.com – Amerika Serikat mengumumkan telah menyita aset mata uang kripto yang diduga terkait dengan Iran. Nilai aset yang berhasil dirampas diperkirakan mencapai 1 miliar dolar AS, atau sekitar Rp17,8 triliun.

Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, menyampaikan pengumuman ini pada hari Jumat. Ia menjelaskan bahwa tindakan penyitaan ini merupakan bagian dari strategi Washington untuk terus memberikan tekanan finansial kepada Teheran.

“Saya yakin kami telah merampas aset kripto mereka senilai sekitar 1 miliar dolar,” ujar Bessent, seperti dikutip dari Anadolu pada Sabtu, 30 Mei 2026.

Bessent menggambarkan kecepatan pemerintah AS dalam menyita aset digital tersebut. Ia bahkan menggunakan analogi bahwa tindakan itu seperti “langsung mengambil dompet mereka”.

Bahkan, Bessent menduga bahwa sebagian pemilik aset tersebut mungkin belum menyadari aset mereka telah disita. Ia memperkirakan beberapa dari mereka masih dalam proses bertransaksi saat kesadaran akan hilangnya aset tersebut muncul.

Lebih lanjut, Bessent menyatakan bahwa fokus pemerintah AS tidak hanya terbatas pada aset kripto. AS juga tengah aktif berkoordinasi dengan negara-negara sekutu untuk memperluas cakupan upaya penyitaan aset yang memiliki kaitan dengan Iran.

Baca juga: Moto3 GP Italia: Veda Ega Tercecer ke Posisi 21 Usai Disalip Berjamaah

“Kami bekerja sama dengan sekutu-sekutu di seluruh Eropa untuk merampas vila-vila, rumah-rumah, dan properti,” ungkap Bessent. Ia mengklaim bahwa langkah ini bertujuan untuk memulihkan dana yang disebutnya telah dicuri dari rakyat Iran.

Selain itu, Bessent juga mengklaim bahwa fasilitas ekspor minyak Iran yang berlokasi di Pulau Kharg telah menghentikan operasinya. Hal ini terjadi menyusul adanya blokade laut yang diberlakukan oleh Amerika Serikat.

Menurut penilaian Bessent, serangan yang dilancarkan Iran terhadap negara-negara di kawasan Teluk justru memberikan dampak negatif terhadap posisi diplomatik Teheran.

Ia menambahkan bahwa situasi ini membuat semakin banyak negara di kawasan tersebut yang menunjukkan dukungan terhadap langkah Washington dalam menekan Iran melalui instrumen keuangan.

Kondisi ini, menurut Bessent, membuka peluang bagi AS untuk melakukan pembekuan rekening bank yang terkait dengan Iran di kawasan tersebut.

Oleh karena itu, Bessent menegaskan bahwa AS kini memiliki kemampuan untuk membekukan rekening bank yang berasal dari Iran di kawasan tersebut.