KabarDermayu.com – Di tengah ketidakpastian global, perubahan iklim, dan ancaman gejolak harga pangan, sektor pertanian dan peternakan nasional menghadapi tantangan yang semakin kompleks. Namun, di balik tantangan tersebut, berbagai daerah di Jawa Timur menunjukkan bagaimana kolaborasi antara pemerintah, Bank Indonesia (BI), petani, peternak, koperasi, dan komunitas desa mampu melahirkan transformasi ekonomi berbasis pangan yang lebih modern, berkelanjutan, dan bernilai tambah tinggi.
Transformasi ini mencakup penguatan produksi pangan strategis, pengembangan hilirisasi desa, pengolahan limbah peternakan, hingga wisata edukasi pertanian organik. Upaya ini merupakan bagian dari gerakan besar untuk menjaga stabilitas harga sekaligus memperkuat ketahanan pangan nasional.
Komitmen tersebut ditandai dengan peluncuran Gerakan Pengendalian Inflasi dan Pangan Sejahtera (GPIPS) Wilayah Jawa Tahun 2026 di Gudang Bulog Sidoarjo, Jawa Timur, pada Rabu, 13 Mei 2026. Program ini merupakan evolusi dari Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNPIP) dengan pendekatan yang lebih terintegrasi dari hulu ke hilir.
Deputi Gubernur Bank Indonesia, Aida S. Budiman, menyatakan bahwa GPIPS hadir untuk menjawab tantangan stabilitas harga pangan yang semakin kompleks. Menurutnya, pengendalian inflasi pangan tidak lagi cukup hanya mengandalkan operasi pasar jangka pendek, melainkan membutuhkan penguatan sektor produksi dan distribusi.
“Melalui GPIPS, pengendalian inflasi pangan tidak hanya difokuskan pada stabilisasi harga jangka pendek, tetapi juga pada penguatan produksi, pascapanen, dan distribusi pangan guna mendukung ketahanan pangan nasional yang berkelanjutan,” ujar Aida di Sidoarjo, Jawa Timur, Rabu.
GPIPS 2026 difokuskan pada dua aspek utama: peningkatan produktivitas dan kelancaran distribusi pangan. Tiga komoditas prioritas nasional yang menjadi perhatian adalah beras, cabai, dan bawang merah.
“GPIPS memiliki penguatan dibandingkan program sebelumnya, terutama pada tiga hal. Pertama, penguatan alignment program dengan prioritas pemerintah, khususnya dalam mendukung peningkatan produksi, penguatan distribusi, dan stabilisasi pangan strategis guna mendukung agenda Asta Cita menuju swasembada pangan,” kata Aida.
Bank Indonesia optimistis langkah tersebut mampu menjaga inflasi volatile food pada rentang 3-5% sepanjang 2026. Namun, tantangan seperti perubahan iklim, El Nino, penguatan pascapanen, hingga fenomena penuaan petani tetap menjadi perhatian serius.
“Setidaknya empat tantangan utama perlu diantisipasi secara serius dalam pengendalian inflasi pangan,” ujar Aida.
Petani Bawang Lawan El Nino dengan Sumur Sibel
Ancaman El Nino yang berpotensi memicu kekeringan mulai diantisipasi petani di Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur. Di daerah yang menjadi salah satu sentra bawang merah nasional tersebut, petani memperkuat berbagai langkah untuk menjaga produksi tetap aman di tengah ancaman cuaca ekstrem.
Pembina Gapoktan Karya Abadi Kecamatan Rejoso, Bambang Suparno, mengatakan bahwa kebutuhan air menjadi faktor penting dalam budidaya bawang merah, terutama saat ancaman El Nino mulai dirasakan.
“Kami juga dibantu pembangunan sumur sibel untuk kebutuhan air budidaya. Karena bawang merah butuh air tapi tidak mau kelebihan air. Sekarang menghadapi El Nino, jadi kebutuhan air harus dipastikan aman,” ujar Bambang di Nganjuk, Jawa Timur.
Kelompok tani di wilayah tersebut telah membangun hampir 12 titik sumur sibel yang juga didukung dana APBDes. Selain itu, terdapat kerja sama dengan PLN untuk menghadirkan listrik masuk sawah agar petani bisa mengurangi ketergantungan pada mesin diesel yang biaya operasionalnya semakin mahal.
Menurut Bambang, dukungan Bank Indonesia sejak 2014 turut membantu pengembangan budidaya bawang merah di kawasan tersebut, mulai dari perbaikan kualitas benih hingga pengurangan penggunaan pupuk kimia.
“Alhamdulillah kita jadi klaster binaan BI sejak tahun 2014. Banyak peran BI, terutama budidaya. Kami dibantu bagaimana mendapatkan benih yang bagus, peremajaan tanah, pelatihan untuk peremajaan tanah, mengurangi penggunaan pupuk kimia dan menjaga kualitas hasil simpan,” katanya.
Baca juga: DPR Desak BI Jaga Stabilitas Rupiah, Singgung Kesepakatan Politik
Selain bantuan budidaya, BI juga membantu pembangunan gudang penyimpanan bawang merah untuk menjaga kualitas hasil panen dan benih. Varietas bawang merah “Tajuk” kini menjadi andalan petani Nganjuk karena dinilai tahan di musim hujan maupun kemarau.
“Varietas ini keunggulannya cocok di musim kemarau dengan produktivitas 24 ton per hektare, bahkan bisa di atasnya. Di musim hujan 12-17 ton per hektare. Jadi kuat batas produksinya di musim kemarau dan juga kuat di musim hujan,” jelasnya.
Saat ini, sekitar 25-30 persen kebutuhan bawang merah nasional disuplai dari Nganjuk. Namun, Bambang menegaskan petani tidak ingin harga bawang tinggi akibat gagal panen.
“Cuma kami tidak ingin harga tinggi itu karena gagal produksi. Nanti petani tidak menikmati. Gimana caranya harga tinggi itu karena kebutuhan, bukan karena produksinya gagal,” ujarnya.
Limbah Ternak Disulap Jadi Sumber Cuan Baru
Transformasi pangan juga terlihat di sektor peternakan. Di Kabupaten Lamongan, Koperasi Tani Ternak Literasi Sumbersari berhasil membuktikan bahwa limbah ternak dapat diolah menjadi sumber ekonomi baru yang bernilai tinggi.
Ketua koperasi, Tomi Distianto, mengatakan awalnya koperasi hanya fokus pada budidaya sapi potong. Namun, persoalan limbah ternak mendorong mereka mengembangkan usaha pengolahan pupuk organik.
“Awalnya kami hanya fokus budidaya ternak sapi saja, namun kami melakukan pengembangan agar menjadi harapan. Jadi, peternakan di sini bukan hanya sekadar peternakan, tetapi harapan bagi peternak yang ada di sekitar kita, sehingga kami kembangkan unit usaha yang lain yaitu pengolahan limbah,” ujarnya di Lamongan, Jawa Timur.
Melalui program Bank Literasi atau Bank Limbah Ternak Sumbersari, warga dapat menyetorkan kotoran ternak untuk diolah menjadi pupuk organik bermerek “Literasi”.
“Di mana kotoran ternak ini sebelumnya banyak terbuang, tidak termanfaatkan, justru menjadi sumber masalah pencemaran lingkungan. Tetapi melalui Bank Literasi, ini bisa meminimalisir dan menjadi salah satu solusi bagi peternakan yang ada di wilayah kami,” kata Tomi.
Tak berhenti di pupuk organik, koperasi juga mengembangkan usaha kuliner, layanan aqiqah, hingga pusat edukasi peternakan. Saat ini koperasi memiliki sekitar 235 ekor sapi dan 70 ekor kambing serta domba di kandang koloni.
Tomi menyebut pembinaan Bank Indonesia membantu koperasi memperkuat manajemen usaha dan pengembangan kelompok petani-peternak.
“Melalui pembinaan yang dilakukan oleh BI kepada koperasi kami ini, kami diajari bagaimana mengelola manajemen kelompok dalam kelompok petani-peternak yang kami kembangkan seperti ini, kemudian bagaimana mengelola atau menata administrasi keuangan, dan bagaimana pengembangan kelompok,” ujarnya.
Berkat pengembangan usaha tersebut, omzet koperasi kini mencapai lebih dari Rp50 juta per bulan.
“Untuk omzet per bulan yang kami dapatkan kurang lebih di atas Rp50 juta, itu dari beberapa usaha yang kami kembangkan, baik sapi, domba, warung sate, kemudian jual pupuk,” kata Tomi.
Sawah Organik Disulap Jadi Wisata Edukasi Desa
Sementara itu, transformasi pangan berbasis desa juga berkembang di Mojokerto melalui Komunitas Organik Brenjonk. Di Desa Brenjong, kawasan pertanian kini bukan hanya menjadi tempat produksi pangan, tetapi juga destinasi wisata edukasi yang menarik ribuan pengunjung setiap bulan.
Pembina Komunitas Brenjonk, Slamet, menjelaskan komunitas tersebut berdiri sejak 2007 dan kini memiliki ratusan anggota yang mayoritas merupakan ibu rumah tangga dan pemuda desa.
“Jadi bukan poktan seperti biasanya, tapi komunitas organik,” kata Slamet di Mojokerto, Rabu, 13 Mei 2026.
Komunitas ini memiliki fokus pada kesehatan, ekonomi, dan lingkungan. Produk pertanian Brenjonk kini telah dipasarkan ke sejumlah ritel modern di Jawa Timur seperti Superindo.
Menurut Slamet, akses pasar premium membuat harga jual produk organik jauh lebih tinggi dibanding produk non-organik. Dalam sebulan, komunitas ini mampu mengirim 2-3 ton produk organik, bahkan saat panen raya mencapai 5-10 ton beras organik.
Slamet mengatakan dukungan Bank Indonesia sejak 2018 membantu komunitas bertahan dan berkembang.
“Alhamdulillah kita bisa survival 18 tahun ini dan tahun 2018 itu kita didampingi Bank Indonesia. Terima kasih banyak. Ada nama komunitas Saudagar Brenjong binaan Bank Indonesia dan impact-nya cukup signifikan di ekonomi,” kata Slamet.
Selain pendampingan SDM, BI juga membantu pembangunan akses jalan menuju kawasan pertanian dan pelatihan eco interpreter atau pemandu wisata edukasi pertanian organik.
“Kita disupport sumber daya manusia. Bagaimana kita punya eco interpreter atau pemandu-pemandu wisata tapi yang berorientasi pada sistem pertanian organik,” ujarnya.
Saat pandemi COVID-19 melanda, Brenjonk berinovasi dengan membangun taman refugia berbasis bunga kenikir yang kemudian berkembang menjadi pusat wisata dan kuliner desa.
“Satu bulan 8.500 orang yang cangkrukan ke sini. Ada sedikit uang berputar untuk mereka, sudah ratusan juta kalau tidak salah dan ada 50 anak-anak muda yang bisa bekerja,” ungkap Slamet.
Jawa Timur dipilih sebagai lokasi grand launching GPIPS karena memiliki posisi strategis dalam ketahanan pangan nasional. Provinsi ini tercatat sebagai penghasil padi terbesar nasional dengan kontribusi 17,34 persen dari total produksi nasional atau mencapai 10,57 juta ton pada 2025.
Adanya sinergi pemerintah, Bank Indonesia, petani, koperasi, dan komunitas lokal, transformasi pangan nasional diharapkan tidak hanya mampu menjaga stabilitas harga, tetapi juga menciptakan desa-desa produktif yang mandiri, berdaya saing, dan berkelanjutan.
“Karena pada akhirnya, seluruh upaya yang kita lakukan bermuara pada satu tujuan yang sama: Stabilitas Harga, Petani Berdaya, dan Masyarakat Sejahtera,” tutup Aida.





